Beranda Views Kopi Sore Mengajar dan Mendidik

Mengajar dan Mendidik

410
BERBAGI
Eko J. Saputra 
SAYA kemarin kedatangan seorang sahabat. Sahabat ini menceritakan baru saja mendafatrkan anaknya ke salah satu sekolah. Ia menjelaskan alasan mengapa memilih sekolah tersebut. Selain dikenal favorite, di sekolah tersebut banyak guru senior dan sangat pengalaman.

Saya lalu bertanya kepada sahabat ini mengenai pengalaman guru di sekolah. Sebab pengalaman mengajar dan mendidik beda. Perlu kita ketahui bahwa mengajar dan mendidik memiliki makna dan perbedaan yang prinsip.
Bisa jadi seorang guru pengalaman mengajarnya selama 30 tahun, namun pengalaman mendidiknya baru 3 atau 5 tahun. Yang terang, mengajar yang baik adalah mendidik. Lantas apa bedanya mengajar dan mendidik?
Mengajar merupakan proses tranfer ilmu pengetahuan dari seorang guru kepada siswa. Mengajar lebih tersirat proses satu arah. Jika diibaratkan, guru adalah ceret maka siswa adalah gelas.
Kalau kita mau jujur masih banyak sekolah menerapkan sistem belajar satu arah. Sekolah mengganggap siswa datang ke sekolah, tidak memiliki pengetahuan apa-apa (gelas kosong), sehingga guru tinggal memberikan materi (mengisi gelas).
Idialnya, proses belajar itu harus dua arah. Sistem belajar satu arah bisa membuat siswa jenuh. 
Apalagi dalam dunia teknologi sekarang. Untuk mendapatkan materi pelajaran, siswa cukup mencari di “Kamus Mbah Google”.
Misalnya pelajaran geografi. Mulai dari ukuran bumi sampai dengan jumlah galaxy dengan mudah bisa didapat. Termasuk mendapatkan rumus-rumus pelajaran matematika, fisika, kimia, sampai contoh soal setiap pelajaran.
Idealnya seorang guru juga harus bisa mendidik. Dari segi isi, mendidik sangat berkaitan dengan moral dan kepribadian. Jika ditinjau dari segi proses, maka mendidik berkaitan dengan memberikan motivasi untuk belajar dan mengikuti ketentuan atau tata tertib yang telah menjadi kesepakatan bersama. Kemudian bila ditilik dari segi strategi dan metode yang digunakan, mendidik lebih menggunakan keteladan dan pembiasaan.
Secara umum, tujuan pendidikan meliputi 3 hal pokok. Pertama adalah Afektif. Hal ini berkaitan dengan sikap, moral, etika, akhlak, manajemen emosi. Kedua, Kognitif yakni yang berkaitan dengan aspek pemikiran, transfer ilmu, logika, analisis. Ketiga, Psikomotorik yakni berkaitan dengan praktek atau aplikasi apa yang sudah diperoleh siswa melalui jalur kognitif.
Kita kadang terjebak antara definisi mendidik dengan mengajar. Padahal, terdapat perbedaan mendasar antara keduanya. Mengajar merupakan kegiatan teknis keseharian seorang guru. Semua persiapan guru untuk mengajar bersifat teknis.  Hasilnya juga dapat diukur dengan instrumen perubahan perilaku yang bersifat verbalistis. Tidak seluruh pendidikan adalah pembelajaran, sebaliknya tidak semua pembelajaran adalah pendidikan. Pendidikan merupakan kegiatan integratif olah pikir, olah rasa, dan olah karsa yang bersinergi dengan perkembangan tingkat penalaran peserta didik.
Mendidik bobotnya adalah pembentukan sikap mental/kepribadian bagi anak didik, sedang mengajar bobotnya adalah penguasaan pengetahuan, keterampilan dan keahlian tertentu yang berlangsung bagi semua manusia pada semua usia. Contoh seorang guru matematika mengajarkan kepada anak pintar menghitung, tapi anak tersebut tidak penuh perhitungan dalam segala tindakannya, maka kegiatan guru tersebut baru sebatas mengajar belum mendidik.
Tidak setiap guru mampu mendidik walaupun ia pandai mengajar, untuk menjadi pendidik, guru tidak cukup menguasai materi dan keterampilan mengajar saja, tetapi perlu memahami dasar-dasar agama dan norma-norma dalam masyarakat, sehingga guru dalam pembelajaran mampu menghubungkan materi yang disampaikannya dengan sikap dan keperibadiaan yang harus tumbuh sesuai dengan ajaran agama dan norma-norma dalam masyarakat.
Jangan heran di era sekarang, justru secara pengetahuan siswa bisa lebih pintar dari guru. Apalagi guru tidak rajin melakukan update pengetahuan. Esensi seorang guru adalah terus belajar. Seorang guru kehilangan hak mengajar saat ia berhenti belajar.
Jadi, jika hasil pengajaran dapat dilihat dalam waktu singkat atau paling lama tiga tahun, keluaran pendidikan tidak dapat dilihat sebagai satu hasil yang segmentatif. Hasil pendidikan tercermin dalam sikap, sifat, perilaku, tindakan, gaya menalar, gaya merespons, dan corak pengambilan keputusan peserta didik atas suatu perkara.
Yang menentukan proses pendidikan anak itu ada tiga. Pertama lingkungan rumah, sekolah, dan lingkungan masyarakat. Yang sangat berpengaruh terhadap pendidikan anak adalah lingkungan rumah.  Kalau sudah begitu kita sebagai orang tua harus benar-benar bisa menjadi guru terhadap pembentukan sistem pendidikan anak. Untuk mendapatkan pendidikan ideal, kita tidak bisa serta merta menyerahkan kepada sekolah. Sebab, suka atau tidak suka dan harus diakui, sistem pendidikan kita masih belum sempurna. Kalaupun sudah sempurna, peran utama dalam proses pendidikan anak adalah orang tua. 
Sebab itu,  tidak bijaksana kalau kita hanya mendesak anak terus belajar dan pintar, sementara kita tidak pernah belajar bagaimana menjadi orang tua yang pintar sekaligus menjadi guru terbaik untuk anak-anak kita.
Bagaimana Menurut Anda?
Loading...