Beranda Budaya Bahasa Mengaji Kaji

Mengaji Kaji

78
BERBAGI

Zen Hae*

Sekarang ini kata kerja “mengkaji” dan “mengaji” diperlakukan sebagai dua
bentukan yang berbeda maknanya. Kamus Besar Bahasa Indonesia (edisi
ketiga, 2001) mendaftar makna bentukan pertama adalah “mempelajari, memeriksa,
menyelidiki, memikirkan, menguji, menelaah”, sementara yang kedua berarti
“mendaras Al-Quran, belajar membaca tulisan Arab, belajar atau mempelajari”. Kamus
Dewan
(edisi ketiga, 2002) juga membedakan makna dua bentukan itu dengan
makna yang lebih-kurang sama. Dalam bahasa Indonesia “mengkaji” kemudian
menurunkan kata benda “pengkajian”, sementara “mengaji” menurunkan kata benda
“pengajian”, dengan makna yang juga lebih-kurang sama.

Lantas, kata dasar apa yang menurunkan
turunan-turunan itu? Kamus Besar, sebagaimana Kamus Dewan,
jelas mendaftar kata “kaji”. Itulah kata Melayu yang bermakna ganda:
“pelajaran” (agama) dan “penyelidikan” (tentang sesuatu). Sementara W.J.S.
Poerwadarminta dalam Logat Kecil Bahasa Indonesia (cetakan ke-8, 1980)
mendaftar bukan hanya “kaji”, tetapi juga “aji”. Poerwadarminta menjelaskan
makna “kaji” sebagaimana yang kemudian diserap oleh Kamus Besar, tetapi ia
tidak menjelaskan makna “aji”, sebab lema itu langsung beralih kepada turunan
“mengaji”. Kata “aji” sendiri diserap dari bahasa Kawi dan hidup dalam bahasa
Jawa hingga hari ini. Salah satu maknanya adalah “kesaktian”.

Yang menarik, Poerwadarminta mendaftar “mengaji”, bukan “mengkaji”, dengan
tiga pengertian: “belajar”, “memeriksai (memikirkan, mempelajari) dengan
sungguh-sungguh”, dan “membaca Kuran”. Dengan begitu, makna bentukan ini
ilmiah-sekuler sekaligus religius. Bagi saya, paparan Poerwadarminta jauh lebih
masuk akal dan menarik ketimbang Kamus Besar dan Kamus Dewan. Pertama, ia
konsisten. Dengan sendirinya konsonan k (sebagaimana konsonan p, s, dan t )
luluh dalam proses penyengauan (nasalisasi), sesuai dengan hukum pembentukan
kata kerja dan kata benda dari kata dasar yang berawal konsonan-konsonan
tersebut termasuk juga kata dasar yang diserap dari bahasa asing, seperti dalam
“mengonsumsi” dan “mengomunikasikan”. Kedua, ia taksa. Bukan hanya kata
dasarnya, tetapi juga turunannya. Dengan ketaksaan dan polisemi “mengaji” dan
“pengajian” mengembalikan kekuatan dan kekayaan bahasa itu sendiri.

Berbeda dengan Poerwadarminta, penyusun Kamus Dewan dan Kamus
Besar
mengajukan bentukan “mengkaji” dan “pengkajian” sebagai semacam
penegasan akan makna ilmiah-sekuler yang berbeda dengan makna religius. Ia
sebuah makna khusus yang (di)muncul(kan) kemudian, ketika dirasa bentukan lama
tidak bisa lagi melahirkan makna khusus yang cocok dengan perkembangan zaman
atau makna yang ada terserap sepenuhnya oleh golongan tertentu. Akan tetapi,
upaya ini menabrak sendiri hukum pembentukan kata kerja dan kata benda yang
selama ini menjadi pegangan. Bahkan, cenderung mengada-ada.

Pada dekade 1950 hingga 1960 kaum intelektual, esais terutama, tidak
menggunakan kata “mengkaji” dan “pengkajian” untuk menggambarkan tindakan
mempelajari sesuatu secara cermat, tetapi kata “studi” yang diturunkan dari
bahasa Belanda kini “cultural studies” diterjemahkan sebagai “kajian budaya”.
Kata yang berdekatan maknanya dengan itu dan kerap dipakai adalah “menelaah”,
“mempelajari”, “meneliti” dan “menyelidiki”. Malah, Mh. Rustandi Kartakusuma
menggunakan kata “mengulik”, yang diserap dari bahasa Sunda.

Penggunakan kata “mengkaji” dan “pengkajian” tampaknya baru mulai pada era
Orde Baru. Satu masa yang menandai dirinya dengan pemisahan yang nyata antara
yang religius dan yang ilmiah sekuler. Ketika yang kedua tampak sebagai bagian
dari modernitas, sementara yang pertama membelokkannya ke surga. Pada 1978,
misalnya, berdiri Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), yang
diketuai oleh B.J.

Habibie. Dari namanya, setidaknya, lembaga pengajian ini mau
membedakan dirinya dengan kegiatan serupa yang berbau agama, seperti pengajian
Habib Aly Alhabsy di Kwitang, Jakarta Pusat. Tapi kini lembaga pengajian
bikinan pemerintah itu seperti tenggelam dalam suara keras pelantam pengajian
Majlis Rasulullah.


*Penyair, alumni jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Jakarta. Tulisan ini pernah di majalah Tempo