Beranda Views Opini Mengenal Alat Tangkap Set Net yang Ramah Laingkungan dan Hemat Energi

Mengenal Alat Tangkap Set Net yang Ramah Laingkungan dan Hemat Energi

4458
BERBAGI
Desaon alat tangkap ikan set net (Foto: kapi.kkp.go.id)

PADA  saat ini nelayan dan pengusaha perikanan tangkap dipusingkan dengan harga bahan bakar minyak yang cukup tinggi dan ditambah lagi semakin sulit atau jauh mencari daerah penangkapan ikan. Dengan keadaan seperti ini tentu sangat diperlukan untuk mencari alternatif jenis alat tangkap yang pengopeasiannya hemat energi (bahan bakar minyak) dimana set net kemungkinan dapat dikembangkan. Set net atau sero jaring adalah sejenis alat tangkap ikan bersifat menetap dan berfungsi sebagai perangkap ikan dan biasanya dioperasikan di perairan pantai.

Ikan umumnya memiliki sifat beruaya menyusuri pantai, pada saat melakukan ruaya ini kemudian dihadang oleh jaring set net kemudian ikan tersebut tergiring masuk ke dalam kantong. Ikan yang telah masuk ke dalam kantong umumnya akan mengalami kesulitan untuk keluar lagi sehingga ikan tersebut akan mudah untuk ditangkap dengan cara mengangkat jarring kantong.

Set net adalah salah satu jenis alat tangkap ikan yang sudah sering digunakan oleh nelayan di Jepang sejak ratusan tahun yang lalu. Di Indonesia yang prinsip kerjanya hampir sama dengan set net adalah jermal, sero, ambai, belat dan sebagainya. Perbedaannya hanya pada bahan yang digunakan oleh sero, ambai, dll yakni, sebagian besar yang digunakan terbuat dari bambu, hanya bagian kantong saja yang terbuat dari jaring.

Set net tergolong suatu alat tangkap pasif yang terpasang permanen di dalam kolom perairan dengan konstruksi system rangkaian tali temali sebagai pembentuk rangka (frame rope) dimana panel-panel jaring digantungkan dan dirangkai dengan berbagai desain sebagai pembentuk ruang/dinding, seperti : penaju (leader net), serambi (fish court/play ground), jaring pintu pengarah (slope net) dan jaring perangkap/kantong (chamber net), dimana system penyangga tali rangka bekerja memanfaatkan rangkaian fungsi pelampung dan pemberat (karung pasir/batu) yang dihubungkan dengan tali-tali jangkar untuk menjaga posisi dan bentuk dari alat tangkap di dalam perairan.

Prinsip kerja set net adalah memotong alur migrasi/arah renang ikan-ikan berupa dinding jaring dari permukaan hingga ke dasar perairan yang beruaya ke daerah pantai, kemudian mengarahkan dan menuntun ikan-ikan mengikuti arah penaju (leder net) yang bermuara pada bagian serambi (fish court/play ground) sebagai perangkap awal, lalu menuju ke jaring pintu pengarah (slope net) dan akhirnya gerombolan ikan tergiring masuk ke dalam jaring perangkap/kantor (chamber net) dengan kapasitas tangkapan yang besar dengan tetap memberi ruang gerak/renang yang luas sehingga ikan tetap berada dalam keadaan hidup.

Bentuk konstruksi dan tipe set net.

Konstruksi setnet terdiri dari 4 bagian utama :

1.    Leader net/penaju.

2.    Slope dan funnelnet/mulut.

3.    Bodynet (playground)/badan.

4.    Bagnet/kantong.


Uji Coba Set Net di Indonesia

Perikanan set net di Indonesia baru dalam taraf penelitian atau uji coba dan belum dikembangkan oleh nelayan secara komersial. Uji coba alat set net pertama kali dilakukan oleh Balai Riset Perikanan Laut/Balai Penelitian Perikanan Laut di perairan Pacitan Jawa Timur pada tahun 1981.

Pada tahun yang sama dilakukan juga uji coba di perairan Bajanegara Banten, kemudian diikuti uji coba di Prigi Jawa Timur pada tahun 1982 dan di perairan Selat Sunda, Banten pada tahun 1990 dan 1993. Set net yang diujicoba berukuran relatif kecil dengan panjang penuju antara 100-300 m dan dipasang di perairan pantai dengan kedalaman kurang dari 10 m.

Pada saat uji coba dilakukan penangkatan hasil tangkapan ikan dari kantong setiap hari. Rata-rata hasil tangkapan ikan berkisar antara 20-30 kg/angkat. Hasil tangkapan tertinggi pernah mencapai 100 kg/angkat pada saat dilakukan uji coba di Pacitan. Jenis ikan yang tertangkap saat itu didominasi oleh ikan demersal yang beruaya mengikuti pergerakan pasang surut seperti ikan layur, petek, mata besar dan sebagian ikan pelagis sejenis sardine.

Selanjutnya kegiatan ujicoba set net juga dilakukan oleh Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap di perairan Sorong Papua Barat pada tahun 2008. Tipe set net yang diujicoba hampir sama dengan uji coba sebelumnya namun memiliki ukuran yang lebih besar (penaju sekitar 500 m) dan dipasang di perairan yang lebih dalam (lebih dari 20 m).

Kelebihan dan Kelemahan Set Net

Kelebihan:

1. Hemat bahan bakar karena alat dipasang menetap sehingga kapal tidak perlu berlayar jauh untuk mencari daerah penangkapan.

2.Jaring set net yang terpasang di laut dapat digunakan sebagai tempat berlindung (shelter) ikan-ikan yang berukuran kecil sehingga tidak dimakan predator.

3. Hasil tangkapan ikan relatif segar/masih hidup dan dapat diangkat/diambil sesuai dengan kebutuhan pasar.

4. Mudah dipindahkan dibanding dgn jenis trap yang ada di Indonesia.

5. Sangat sesuai untuk pengembangan usaha perikanan skala menengah kebawah.

Kelemahan:

·1.Hasil tangkapan set net sangat tergantung pada ruaya ikan sehingga untuk memasang set net harus diketahui jalur ruaya ikan terlebih dulu.

 2. Jika digunakan penaju (lead net) cukup panjang akan mengganggu alur pelayaran kapal dan juga pengoperasian alat tangkap lain.

·3. Tidak semua ikan tertangkap di dalam kantong, kadang-kadang tertangkap juga secara “gilled or  entangled” di bagian penaju (lead net) atau serambi (trap net) terutama yang menggunakan bahan jarring sehingga diperlukan pekerjaan tambahan untuk memeriksa bagian tersebut.

·4. Jaring harus sering dibersihkan terutama bagian kantong karena banyak ditempeli oleh kotoran dan teritip.


Kemungkinan Pengembangannya

Indonesia terdiri dari ribuan pulau dan memiliki garis pantai sekitar 81.000 km dengan berbagai teluk dan semenanjung. Dengan topografi seperti ini maka wilayah perairan laut Indonesia sangat potensial untuk dikembangkan perikanan set net. Beberapa hal penting yang harus diperhatikan sebelum pemasangan set antara lain: ketersedian sumber daya ikan yang menjadi tujuan penangkapan, pola ruaya ikan yang menjadi tujuan penangkapan, kondisi perairan dimana set net akan dipasang (topografi dasar, keadaan arus, pasang surut, dan gelombang).

Pengembangann alat tangkap set net sebaiknya dilakukan di wilayah perairan Indonesia bagian timur karena disamping alasan sumberdaya ikan yang masih tersedia dan juga apabila dipasang dengan ukuran yang besar tidak terlalu mengganggu arus pelayaran dan pengoperasian alat tangkap lain. Jika dikembangkan di wilayah Indonesia timur tinggal memikirkan bagaimana cara pemasaran hasil tangkapannya.

sumber: kapi.kkp.go.id/

Baca Juga: Tingkatkan Kesejahteraan Nelayan, Kementerian KKP Bantu Alat Tangkap Set Net