Beranda News Kesehatan Mengenal Lebih Dekat Apendisitis

Mengenal Lebih Dekat Apendisitis

92
BERBAGI

Oleh: Niswatul Rifka
Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sriwijaya

Apendisitis adalah peradangan dari apendiks vermiformis dan merupakan penyebab penyakit abdomen akut yang sering terjadi di negara berkembang penyakit ini dapat mengenai semua umur baik laki-laki maupun perempuan, tetapi lebih sering menyerang laki-laki berusia antara 10 sampai 30 tahun (Mansjoer, 2000).

Insiden pada lelaki dan perempuan umumnya sebanding, kecuali pada umur 20 – 30 tahun, insiden pada lelaki lebih tinggi (Syamsuhidjayat, 2004). Apendisitis atau usus buntu merupakan salah satu penyakit yang meradang, pecah dan mengalami infeksi, radang usus buntu dapat terjadi pada semua usia, namun paling sering pada usia 10 sampai 30 tahun.

Penyakit usus buntu bisa disebabkan sumbatan pada usus buntu, baik sebagian atau total. Hambatan usus buntu yang menyeluruh merupakan kondisi darurat dan perlu segera ditangani dengan tindakan operasi. Gejala penyakit yang cenderung mirip dengan penyakit lain membuat usus buntu sulit di diagnosis, peradangan ini terjadi akibat adaanya kotoran yang menumpuk dan mengeras di dalam usus buntu sehingga membuat usus buntu tersebut mengalami peradangan atau luka.

Insiden penyakit apendisitis akut di negara maju lebih tinggi daripada di negara berkembang. Namun setiap tahunnya penyakit ini terus menurun secara bermakna. Hal ini diduga disebabkan oleh meningkatnya penggunaan makanan berserat dalam menu sehari-hari.

Apendisitis akut timbul dalam sekitar 7% individu di negara barat, dan merupakan sebab terlazim akut abdomen yang memerlukan intervensi bedah. Sedangkan penyebabnya belum diketahui pasti tetapi terjadinya apendisitis ini umumnya karena bakteri.

Selain bakteri terdapat factor peneyebab lainnya seperti sumbatan dari lumen apendiks, adanya timbunan tinja yang keras (fekolit), tumor apendiks, namun juga dapat terjadi karena pengikisan mukosa apendiks akibat parasit seperti E.hystalitica, makanan rendah serat juga akan menimbulkan kemungkinan terjadinya hal tesebut. Tinja yang keras pada akhirnya akan menyebabkan konstipasi yang akan meningkatkan tekanan didalam sekum sehingga akan mempermudah timbulnya penyakit itu.

Penyebab usus buntu sendiri bukan hanya karena proses pencernaa saja tetapi benda asing dapat menyumbat usus buntu.

Adapun gejala-gejala yang dapat dirasakaan apa bila Anda mengalami rasa sakit perut, cobalah periksa apakah sakit perut Anda sama dengan gejala usus buntu berikut ini: nyeri pada perut rasa nyeri tersebut dapat berawal dari pusar, lalu bergerak ke bagian kanan bawah perut. Namun, posisi nyeri dapat berbeda-beda, tergantung usia dan posisi dari usus buntu itu sendiri. Dalam waktu beberapa jam, rasa nyeri dapat bertambah parah, terutama saat kita bergerak, menarik napas dalam, batuk, atau bersin.

Selain itu, rasa nyeri ini juga bisa muncul secara mendadak, bahkan saat penderita sedang tidur. Bila radang usus buntu terjadi saat hamil, rasa nyeri bisa muncul pada perut bagian atas, karena posisi usus buntu menjadi lebih tinggi saat hamil.

Apabila gejalan nyeri perut semakin parah sebaiknya Anda konsultasi ke pada dokter untuk penangan lebih lanjut. Selain gejala yang dapat diketahui, Anda juga dapat memperhatikan pola makan sehari-sehari untuk menanggulangi peradangan usus buntu yang terjadi.

Adapun 5 makanan yang dapat menyebabkan peradangan usus buntu itu sendiri seperti, kafein seperti minuman kopi dan bahan makanan yang berdasar dari kopi, buah nanas dan buah semangka walaupun buah ini baik dan banyak mengandung serat tetapi buah ini tidak baik saat sedang mengalami perdangan usus yang terjadi, makanan yang banyak mengandung minyak, lalu makanan pedas makanan pedas ini akan menimbulkan rasa panas pada perut, dan yang terakhir makanan atau minuman yang terlalu dingin atau es. Adapun menurut Conectique (2007), pencegahan penyakit apendisitis dapat dibagi menjadi dua, yaitu :

• Diet tinggi serat akan sangat membantu melancarkan aliran pergerakan makanan dalam saluran cerna sehingga tidak tertumpuk lama dan mengeras.
• Minum air putih minimal 8 gelas sehari dan tidak menunda buang air besar juga akan membantu kelancaran pergerakan saluran cerna secara keseluruhan.

Apabila penyakit ini sudah sangat akut adapun cara pengobatan denagn dilakukan cara operasi pengangkatan usus buntu atau Apendiktomi. Pada Apendiktoomi ini adaa 2 cara Pertama, disebut dengan Apendiktomi Konvensional dan yang kedua dengan cara Apendiktomi Laparoskopik.

Jadi, di zaman yang begitu canggih seperti sekarang kita harus benar-benaar selektif dalam menjaga pola makan kita dan membangun pola hidup yang sehat, karena dengan mengubah pola hidup yang sehat adalah kunci dari jiwa yang kuat.
.

Loading...