Beranda Views Opini Mengenal Lebih Dekat Badai Tropis di Indonesia

Mengenal Lebih Dekat Badai Tropis di Indonesia

1604
BERBAGI

Oleh Ramadhan Nurpambudi*

Pada Senin 27 November 2017 muncul Badai Tropis “Cempaka ” yang lokasinya berada di wilayah selatan Pulau Jawa tepatnya 100 km disebelah selatan hingga tenggara Cilacap. Adanya badai ini menyebabkan banjir dimana mana yang cukup parah disejumlah lokasi di wilayah Jogjakarta, Solo, dan sekitarnya. Badai dalam skala yang besar sangat jarang bisa terjadi di wilayah Indonesia sebab pada dasarnya pergerakan badai akan menjauhi equator dan wilayah Indonesia berada di equator.

Badai Tropis

Badai tropis adalah sistem tekanan rendah yang terbentuk di kawasan lautan tropis yang hangat dan dikelilingi angin sangat kencang yang kecepatannya lebih dari 34 knot atau 63 km/jam ( 1 knot = 1,8 km/jam). Selain angin yang sangat kencang juga disertai badai guntur dan hujan lebat. Kecepatan angin di sekitar badai tropis dapat lebih dari 175 knot (1knot = 1,8 km/jam).

Daerah badai tropis mempunyai ukuran garis tengah 100 km sampai lebih dari 1000 km. Di dalam badai tropis tekanan udara sangat rendah sampai dapat mencapai 900 mb. Dari luar ke arah dalam landaian tekanan sangat besar. Di bagian tepi terdapat angin sangat kencang sampai lebih dari 200 knot, berawan padat disertai hujan lebat yang dalam sehari dapat mencapai 800 – 2000 mm.

Apa Dampak Badai Tropis?

Badai tropis temasuk gangguan cuaca berskala besar. Imbasnya sampai ratusan kilometer dan hidupnya dapat berhari-hari. Badai tropis dapat dipandang sebagai mesin termal yang berfungsi memindahkan energi dari laut ke atmosfer dan dari kawasan khatulistiwa ke arah kutub. Badai tropis mampu memindahkan energi yang cukup besar; menurut NOAA energi yang dipidahkan dapat mencapai sekitar 5 kali bom atom Hidrogen/detik atau sekitar 2 – 6 x 106Joule/hari. Dengan energi yang besar tersebut badai tropis dapat menimbulkan bencana dan kerusakan yang cukup besar. Tidak kurang dari 20.000 orang meninggal/tahun serta menimbulkan kerugian lain senilai 6 – 7 miliar dolar AS/tahun.

Menurut catatan almanak dunia yang dikutip Asnani, salah satu badai tropis di teluk Benggala pada tahun 1970 menimbulkan kematian sampai sekitar 300.000 orang di Banglades. Badai tropis (hurikan) Katrina di Miami pada tahun 2005 (Pielke, Gratz, Landsea, Collins, Saunders, Musulin 2006) menimbulkan banyak kerusakan di Bahama, Florida dan Lousiana senilai USD. 81 juta.

Badai tropis Kartina merupakan yang ketiga setelah yang terjadi di Miami tahun 1926 dan yang melanda Galverston tahun 1900. Hurikan Ike di Texas yang terjadi dari tanggal 1 sampai 16 September 2008 termasuk hurikan besar ketiga setelah gurikan Andrew pada tahun 1992 dan hurikan Katrina pada tahun 2005.

Kecepatan angin yang ditimbulkan mencapai 145 knot atau 230 km/jam, dan tekanan di pusatnya mencapai 935 milibar (hPa). Kerugian yang ditimbulkan mencapai sekitar $31.5 juta. Daerah yang terkena meliputi Turki dan Caicos, Bahamas, Haiti, Republik Dominika, Cuba, Florida, Mississippi, Louisiana, Texas, Lembah Mississippi, Lembah Ohio, Great Lakes.

Apa Syarat Pembentukan Badai Tropis ?

Badai tropis selalu timbul di atas lautan tropis tertentu yang paling sedikit 500 km atau sekitar 5 derajat lintang dari khatulistiwa. Untuk pembentukan badai tropis memerlukan syarat tertentu dari kondisi atmosfer dan laut di tempat tersebut, antara lain :

1). Lautan harus panas paling kurang sampai kedalaman 50 meter. Suhu muka laut lebih dari 26,5oC. Panas tersebut berfungsi sebagai bahan bakar untuk penguapan air laut.

2). Atmosfer di atasnya dalam keadaan tak mantap (labil), yaitu di bagian bawah suhunya tinggi dan makin ke atas suhunya makin rendah dengan laju penurunannya lebih dari 6oC/km. Dengan kondisi seperti itu uap air yang naik dapat cepat mengembun.

3). Dari bawah sampai pada ketinggian 5 km udara cukup lembap sehingga banyak uap air yang dapat diembunkan.

4). Perbedaan arah dan kecepatan angin di lapisan bawah dan di lapisan atas besar, tetapi beda kecepatan tidak lebih dari 40 km/jam.

5). Terdapat gaya Corioli, yaitu gaya yang ditimbulkan oleh perputaran bumi yang memungkinkan terjaganya kelangsungan sistem keseimbangan tekanan.

6). Adanya gangguan yang memicu peningkatan pusaran dan pumpunan angin, misalnya gelombang atmosfer, Pias Pumpun Antartropik yaitu pumpunan angin dari belahan bumi utara dan dari belahan bumi selatan.

Bukan Merupakan Badai Pertama

Pada tahun 2010 pada tanggal 30 Oktober – 3 November telat terjadi badai tropis yang diberi nama Badai Tropis “ANGGREK” lokasinya disebelah barat daya Pulau Jawa dan juga Pulau Sumatera dengan kecepatan angin maksimum mencapai 65 m/s atau 126 knot. Badai ini masih dalam level ”Tropical Strom” belum masuk ke dalam kategori Badai Tropis.

Badai tropis level 1 minimal berkecepatan angin 74 m/s atau 143 knot. Lalu pada tahun 2014 pada tanggal 11 – 13 Desember terbentuk badai yang diberi nama “BAKUNG” yang berkecapatan maksimal 45 m/s atau 87 knot dengan pusat tekanan badai 999mb. Badai tropis ini juga masih dalam level ”Tropical Strom” dan bertahan selama 3 hari pada saat ini. “ANGGREK” dan “BAKUNG” tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap wilayah Indonesia, tidak ada korban jiwa pada saat kedua Badai Tropis itu terjadi.

Pada tanggal 27 November 2017 terbentuk Badai Tropis di wilayah Indonesia yang diberi nama “Cempaka”. Badai yang terbentuk kali ini sangat dekat dengan wilayah daratan terutama Pulau Jawa sehingga memberikan dampak yang sangat parah terutama di wilayah Jogjakarta dan sekitarnya. Pusat badai memiliki tekanan 998mb dengan kecepatan angin maksimum 18 m/s atau 35 knot.

Tidak lama setelah badai “CEMPAKA” punah muncul badai baru yang berada di wilayah kawasan Indonesia yang diberi nama “DAHLIA” yang lokasi awalnya terjadi di sebelah barat Pulau Sumatera dan sampai saat perlahan bergerak ke arah timur menuju wilayah selatan Pulau Jawa. Badai tropis “DAHLIA” memiliki tekanan di pusatnya 998mb dengan kecepatan angin maksimum 18 m/s atau 35 knot. Prediksi pergerakan arah dan kecepatan menuju ke arah timur tenggara dengan kecepatan 4 knot atau 2 m/s bergerak menuju wilayah Indonesia tepatnya selatan Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Dampak Badai Tropis “CEMPAKA” dan “DAHLIA”

Akibat badai tropis “CEMPAKA” menurut BNPB, menelan korban jiwa sebanyak 27 orang belum lagi yang masih hilang akibat tertimbun longsor diperkirakan korban jiwa akan semakin banyak. Ribuan rumah terendam banjir bandang, jembatan hanyut, serta tanah longsor di 13 desa di Pacitan. Kerugian ditaksir lebih dari 2 M hanya untuk di wilayah tersebut belum di wilayah lainnya.

Tidak hanya di wilayah daratan dampak yang ditimbulkan dari badai “CEMPAKA” ini juga berdampak pada tinggi ombak di sekitarnya. Berdasarkan prakiraan BMKG, potensi gelombang Tinggi 2 – 6 meter akan terjadi di Perairan Selatan Jawa Timur, Laut Jawa Bagian Timur, Selat Sunda bagian Selatan, Perairan Selatan Banten hingga Jawa Barat, Samudera Hindia Barat Bengkulu hingga Selatan Jawa Tengah.

Untuk badai tropis “DAHLIA” sudah mulai menyisir selatan Banten dan juga Jawa Barat. Untuk di wilayah Lampung saat ini menyebabkan ombak sampai dengan ketinggian 5 meter sehingga pelabuhan Merak dan Bakauheni terpaksa harus ditutup untuk sementara. Kapal kapal yang sudah terlanjut berjalan sampai saat ini masih terombang ambing di lautan karena tingginya ombak sampai harus mencari pulau pulau terdekat untuk menepi sementara. Prediksi kedepannya hujan lebat akan terjadi di sebagian besar wilayah Banten, Jakarta, Jawa Barat, hingga kembali menghujani wilayah Jawa Tengah.

Kehadiran kedua badai tropis ini diiringi dengan meletusnya Gunung Agung di Bali yang menyababkan Bandara Ngurah Rai sempat harus ditutup karena kondisi area penerbangan yang tidak memungkinkan untuk dilakukan aktivitas penerbagan. Sebaran debu vulkanik yang terbang ke atmosfer secara tidak sengaja terbawa oleh adanya badai “CEMPAKA” sehingga arah pergerakannya tidak menuju daratan melainkan menjauhi Pulau Bali dan juga Jawa Timur. Jika debu vulkanik tidak tertarik dengan adanya badai “CEMPAKA” diprediksi tutupnya Bandara Ngurah Rai akan semakin lama, sekarang bandara sudah dibuka mulai pukul 15.00 WIB tanggal 30 November 2017.

BMKG secara kontinyu melakukan pembaharuan berita terkait badai tropis keduanya. Setelah badai “CEMPAKA” punah informasi masih terus berlanjut dengan hadirnya badai “DAHLIA”. Diharapkan dengan informasi yang diberikan masyarakat bisa lebih dahulu mengetahui potensi cuaca buruk apa yang bisa terjadi kedepannya. Semua ini dilakukukan untuk meminimalkan kerusakan dan juga korban jiwa. BMKG akan memberikan informasi terkait ara pergerakan badai dan juga dampak yang berpotensi terjadi. Masyarakat bisa mengakses pembaharuan berita melalui website www.bmkg.go.id dan masuk ke menu info mengenai siklon tropis di menu utama.

Masyarakat dihimbau untuk lebih mengikuti informasi yang telah dikeluarkan oleh BMKG baik itu melalui siaran televise ataupun melalui website resmi BMKG. Sekarang informasi juga telah disebar luaskan melalui twitter, facebook, sampai instagram semua ini demi menjangkau tersebar luasnya informasi yang dibuat. Untuk saat ini wilayah yang perlu waspada adalah Lampung, Banten, Jawa Barat, Jakarta, Jogjakarta, dan Jawa Tengah. Bencana memang tidak bisa untuk dicegah tetapi kita masih bisa berusaha untuk menentukan sikap terhadap bencana itu sendiri.***

*Prakirawan Stasiun Meteorologi Radin Inten Lampung

 

Loading...