Beranda Teras Berita Mengenal Teori Sastra: Formalisme Rusia

Mengenal Teori Sastra: Formalisme Rusia

8562
BERBAGI
Iswadi Pratama

Pada
umumnya Formalisme Rusia dianggap sebagai pelopor bagi tumbuh dan berkembangnya
teori-teori strukturalisme. Munculnya Formalisme Rusia tidak dapat dipisahkan
dari gerakan Futurisme. Antara tahun 1910-1915 di Italia dan Rusia muncul
gerakan avant garde yang dikenal sebagai gerakan Futurisme (masa
depan). 

Secara nihilistis mereka menolak dan memberontak terhadap tradisi dan
kebudayaan. Mereka memuja zaman modern dengan mesin-mesin yang bergerak cepat
karena berperan dalam membebaskan rakyat tertindas. Gerakan ini sangat radikal
sehingga mendorong ke arah kekerasan dan perang. Di Rusia ada kaitan gerakan
ini dengan Revolusi Bolsyevik, di Italia dengan Fasisme.

Menurut
kaum futuris Rusia seperti Mayakovski dan Pasternak, sastra hendaknya
menyesuaikan diri dengan zaman modern yang bergerak cepat dan bentuknya tidak
mengenal ketenangan, baik dalam tema (teknik dan mesin) maupun dalam bentuknya
(otonomi bahasa dan seni). Kaum futuris inilah yang mendorong
studi sastra dengan meneliti ciri kesastraan dalam teks sastra secara otonom.
Formalisme Rusia juga timbul sebagai reaksi terhadap aliran positivisme pada
abad ke-19 yang terlalu memperhatikan data-data biografis dalam studi ilmiah
dan cenderung menganggap yang ilahi sebagai yang absolut.

Mereka  menawarkan materialisme abad
mesin sebagai wilayah puisi yang mendukung revolusi. Para seniman (yakni kaum
proletar) menduduki peranan sebagai penghasil kerajinan tangan (produk puisi
dianggap kerja teknis). Bagi mereka, seniman benar-benar seorang pembangun dan
ahli teknik, seorang pemimpin dan seorang pemuka. Aliran formalisme Rusia hidup
di antara tahun 1915-1930 dengan tokoh-
tokohnya
seperti Roman Jakobson, Sjklovsky, Eichenbaum, dan Tynjanov. Pada tahun 1930
keadaan politik (komunisme) mengakhiri kegiatan mereka. Beberapa orang dari
kelompok ini termasuk Rene Wellek dan Roman Jakobson beremigrasi ke Amerika
Serikat. Di sana mereka mempengaruhi perkembangan new criticism selama tahun
1940-1950.

Perlu
diperhatikan bahwa para formalis Rusia bukan merupakan sebuah kelompok yang
homogen dan kompak pandangannya. Namun demikian fokus utama mereka adalah
meneliti teks-teks yang dianggap sebagai teks kesusastraan. Adapun unsur yang
khas itu adalah bentuk baru yang menyimpang dari bentuk
bahasa
biasa. Otomatisme didobrak sehingga pembaca merasa heran dan asing terhadap
bentuk menyimpang itu dan membuatnya memandang kenyataan dengan cara baru.
Bahasa sehari-hari disulap, dimanipulasi dengan berbagai teknik metrum, irama,
sintaksis, struktur gramatikal, dan sebagainya.

Para
formalis membuat sejumlah besar analisis tentang karya-karya sastra untuk merumuskan
pengertian dan dalil-dalil umum mengenai karya sastra. Beberapa pokok gagasan,
istilah dan dalil utama formalisme antara lain sebagai berikut.

1.
Defamiliarisasi dan Deotomatisasi

Menurut kaum formalis, sifat kesastraan muncul
sebagai akibat penyusunan dan penggubahan bahan yang semula bersifat netral.
Para pengarang menyulap teks-teks dengan efek mengasingkan dan melepaskannya
dari otomatisasi. Proses penyulapan oleh pengarang ini disebut defamiliarisasi,
yakni teknik membuat teks menjadi aneh dan asing. Istilah defamiliarisasi
dikemukakan oleh Sjklovski untuk menyebut teknik bercerita dengan gaya bahasa
yang menonjol dan menyimpang dari biasanya. Dalam proses penikmatan atau
pencerapan pembaca, efek deotomatisasi dirasakan sebagai sesuatu yang aneh atau
defamiliar. Proses defamiliarisasi itu mengubah tanggapan kita terhadap dunia.

Dengan teknik penyingkapan rahasia, pembaca dapat
meneliti dan memahami sarana-sarana (bahasa) yang dipergunakan pengarang.
Teknik-teknik itu misalnya menunda, menyisipi, memperlambat, memperpanjang,
atau mengulur-ulur suatu kisah sehingga menarik perhatian karena tidak dapat
ditanggapi
secara otomatis.

2.
Teori Naratif

Dengan menerima konsep struktur, kaum formalis Rusia
memperkenalkan dikotomi baru antara struktur (yang terorganisasi) dengan bahan
material (yang tak terorganisir), menggantikan dikotomi lama antara bentuk dan
isi. Jadi struktur sebuah teks sastra mencakup baik aspek formal maupun
semantik. Kaum formalis Rusia memberikan perhatian khusus terhadap teori
naratif. Untuk kepentingan analisis teks naratif, mereka menekankan perbedaan
antara cerita, alur, dan motif

Menurut mereka, yang sungguh-sungguh bersifat
kesusastraan adalah alur, sedangkan cerita hanyalah bahan mentah yang masih
membutuhkan pengolahan pengarang. Motif merupakan kesatuan terkecil dalam
peristiwa yang diceritakan. Alur adalah penyusunan artistik motif-motif sebagai
akibat penerapan penyulapan terhadap cerita. Alur bukan hanya sekedar susunan
peristiwa melainkan juga sarana yang dipergunakan pengarang untuk menyela dan
menunda penceritaan.

Digresi-digresi, permainan-permainan tipograifs,
pemindahan bagian-bagian teks serta deskripsi-deskripsi yang diperluas
merupakan sarana yang ditujukan untuk menarik dan mengaktifkan perhatian
pembaca terhadap novel-novel. Cerita itu sendiri hanya merupakan rangkaian
kronologis dari peristiwa-peristiwa yang diceritakan.

3.
Analisis Motif

Secara sangat umum, motif berarti sebuah unsur yang
penuh arti dan yang diulang-ulang di dalam satu atau sejumlah karya. Di dalam
satu karya, motif merupakan unsur arti yang paling kecil di dalam cerita.
Pengertian motif di sini memperoleh fungsi sintaksis. Bila motif itu dibaca dan
direfleksi maka pembaca melihat
motif-motif itu dalam keseluruhan dan dapat menyimpulkan satu motif dasarnya.
Bila motif dasar tadi dirumuskan kembali secara metabahasa, maka kita akan
menjumpai tema sebuah karya. Misalnya dalam cerita Panji dijumpai tema cinta
sejati mengatasi segala rintangan. Bila berkaitan dengan berbagai karya (pendekatan
historis-komparatif), sebuah kesatuan semantis yang selalu muncul dalam
karya-karya itu. Misalnya motif pencarian seorang ayah atau kekasih (motif
Panji yang dijumpai dalam berbagai cerita di Asia Tenggara), atau motif
Oedipus, dan sebagainya.

Boris Tomashevsky menyebut motif sebagai satuan alur
terkecil. Ia membedakan motif terikat dengan motif bebas. Motif terikat adalah
motif yang sungguh-sungguh diperlukan oleh cerita, sedangkan motif bebas
merupakan aspek yang tidak esensial ditinjau dari sudut pandang cerita.
Meskipun demikian, motif bebas
justru secara potensial merupakan fokus seni karena memberikan peluang kepada
pengarang untuk menyisipkan unsur-unsur artistik ke dalam keseluruhan alurnya.

4.
Fungsi Puitik dan Objek Estetik

Istilah fungsi mengacu pada penempatan suatu karya
sastra dalam suatu modul komunikasi yang meliputi relasi antara pengarang,
teks, dan pembaca. Isitlah ini muncul sebagai reaksi terhadap studi sastra Formalisme yang terlalu terpaku pada aspek sarana kesusastraan tanpa menempatkannya
dalam konteks
tertentu. 

Menurut Jakobson, dalam setiap ungkapan bahasa terdapat sejumlah fungsi,
misalnya fungsi referensial, emotif, konatif, dan puitik, yang berkaitan dengan
beberapa faktor seperti konteks, juru bicara, pengarang, penerima, pembaca, dan
isi atau pesan bahasa itu sendiri. Dalam pemakaian bahasa sastra,  fungsi puitis paling dominan.
Pesan bahasa dimanipulasi secara fonis, grafis, leksikosemantis sehingga kita
menyadari bahwa pesan yang bersangkutan harus dibaca sebagai karya sastra.

Jan Mukarovsky, seorang ahli strukturalisme Praha,
memperkenalkan istilah “objek estetik” sebagai lawan dari istilah “artefak”.
Artefak adalah karya sastra yang sudah utuh dan tidak berubah. Artefak itu akan
menjadi objek setetik bila sudah dihayati dan dinikmati oleh pembaca. Dalam
pengalaman pencerapan  pembaca,
karya sastra dapat memiliki arti yang berbeda-beda tergantung pada harapan
pembacanya.

Sumbangan
penting kaum formalis bagi ilmu sastra adalah secara prinsip mereka mengarahkan
perhatian kita kepada unsur-unsur kesastraan dan fungsi puitik. Sampai sekarang
masih banyak dipergunakan istilah teori sastra dan analisis sastra yang berasal
dari kaum Formalis.

Loading...