Mengenang Ivan Sumantri Bonang

  • Bagikan
Ivan Sumantri Bonang (duduk memegang gitar) dan Iin Mutmainah sedang mendongeng di sebuah ruang kelas Sekolah Dasar.
Ivan Sumantri Bonang (duduk memegang gitar) dan Iin Mutmainah sedang mendongeng di sebuah ruang kelas Sekolah Dasar.

Anshori Djausal

Ivan Bonang lebih banyak dikenal sebagai pendongeng bersama sang istri, Iin Mutmainah. Ivan dan Iin mengenalkan Kembali dongeng sebagai salah satu medium berkomunikasi dan mendidik anak-anak.

Tidak hanya di Lampung,  Ivan dan Iin juga mendongeng hingga ke Papua . Saya pernah mendapat oleh-oleh satu jenis tanaman yang sengaja dibawanya dari Papua. Ivan memang masih sering berkomunikasi melalui kesamaan kesenangan terhadap tanaman. Terakhir alm Ivan mengirimi juga bibit kecapi yang sudah langka.

Saya dapet kabar Ivan sakit dari Imas Sobariah beberapa waktu yang lalu, kemudian bertemu Iin. Kabar saat itu Iin menyampaikan Ivan sudah membaik . Senang mendengarnya. Tapi ketentuanNya lain. Jumat yang lalu , tanggal 16 Juli 2021, Ivan meninggal —  kembali ke haribaan Sang Khaalik.

Saat kuliah di Universitas Lampung (Unila) Ivan sebagai salah satu penari di Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKBMS) Unila pada awal tahun 1990-an. Masa itu UKMBS UNILA banyak mengadakan kegiatan seni, salah satunya adalah tari. Ivan saat itu adalah salah penari yang aktif. Saya perhatikan dia sosok penari yang mampu mengajak teman-temannya ikut menari, to lead the dance.

Kegiatan dua tahunan yang selalu menjadi pemicu kegiatan adalah Pekan Kegiatan Seni Mahasiswa Nasional, Peksiminas. Sepanjang tahun biasanya mempersiapkan keikut sertaan UKMBS UNILA. Saat itu saya mulai mengenal Ivan Bonang bersama kehadirannya di antara teman-temannya . Beberapa perjalanan bersama ke Padang Panjang, Bali dan beberapa tempat yang lain membenarkan pendapat saya. Dia mampu menari dengan baik . Salah satu tarian, saya masih ingat bertajuk “Sekura” di Padang Panjang.

Saya sendiri ikut dalam kegiatan itu sejak awal karena menemani Didi Pramudya Mukhtar (almarhum) menghidupkan kegiatan berkesenian mahasiswa, bersama Maspriel Aries dan beberapa teman lain di Pusat Kesenian Mahasiswa yang masih dalam era NKK-BKK. Normalisasi Kegiatan Kampus (NKK) yang menugaskan dosen untuk menjadi pembina. Saya mendapat ‘perintah’ langsung dari Rektor melalui PR III masa itu alm Kyai Rizani Puspawijaya. Padahal saya sendiri dosen fakultas Teknik, mengajar konstruksi beton. Mau tidak mau saya harus ikuti penugasan tersebut.

Kegiatan-kegiatan itu ternyata bukan semata berteater berpuisi dan tari, tetapi membangun semangat, passion, be a champion of life, membangun keluarga besar. Ivan ada di dalamnya. Saya ternyata cuma bagian dari keluarga besar itu. Ketika saya mendapat tugas sebagai direkstur eksekutif Pemantau Pemilu masa reformasi . Sebagian pekerjaan Pendidikan politik dan pemantauan pemilu, termasuk Quick Count pertama di lampung saya dibantu keluarga ini. Mengurusi keuangan yang rumit dan terutama di lapangan yang sangat menantang.

Hari-hari ini adalah saat yang membesarkan hati, beberapa nama dapat dikenal dengan mudah karena mewarnai berbagai bidang kegiatan di Lampung, dan ternyata tidak semata bidang seni. Di dalam buku 100 Tokoh Lampung yang diterbitkan Lampung Post tahun 2000 ada 5 nama yang berasal dari keluarga besar ini.

Selama 30-an tahun mengenal Ivan, yang semula penari mahasiswa , kemudian menjadi teman, malahan rekan kerja, selalu saling berkomunikasi dalam berbagai hal. Termasuk ceritanya beberapa tahun membangun Rumah Dongeng Dakocan bersama istrinya Iin Mutmainah yang selalu seiring sejalan. Dengan Dongeng Dakocan Ivan bersama Iin membangun ‘ rumah sendiri’, sangat berkarakter. Hal itu bukan pekerjaan yang mudah. Apresiasi yang tinggi patut disampaikan. Ivan Bonang sebagai bapak Dongeng Lampung bukan mengada ada.

Di awal kegiatan membangun Taman Kupu-Kupu Gita Persada di Gunung Betung, Ivan adalah salah satu anggota tim yang aktif . Dia ikut merintis taman kupu-kupu Gita Persada..berburu kupu-kupu, mengamati siklus hidup kupu-kupu. Menghapal nama kupu-kupu. Ikut berkeliling di pulau pulau, gunung dan bukit. Satu satunya kegiatan yang mengingatkan saya bahwa Ivan Bonang adalah alumni Fakultas Pertanian Unila. Beberapa tahun Ivan ikut membangun pengetahuan dan pengalaman tentang konservasi kupu-kupu. Setelah itu dia mempunyai kesibukan lain .

Setelah sibuk dengan kegiatannya sendiri, masih sering ketemu dengan berbagai perbincangan,.masih sering kirim bibit tanaman.. selalu kangen dengan Ivan. Terakhir kali dia sengaja menelpon menceritakan kupu-kupu Papilio Peranthus yang dulu dikejar kejarnya di Pulau Tegal, terbang dekat rumahnya yang hanya dipisahkan oleh satu bukit dari taman. Kupu-kupu itu berhasil ditangkarkan setelah berminggu diamati bersama Ivan.

Ketika mendengar kabar Ivan meninggal, saya sedang menyelesaikan sebuah lukisan. Sejak saya mulai kegiatan melukis saya memang teringat untuk mengajak Ivan berbincang tentang lukisan. Terutama lukisan kupu-kupu. Karena Ivan selalu saya jadikan teman untuk berdiskusi tentang berbagai hal.
Ivan bukan cuma bekas murid, dia juga teman dan kolega..

Miss u Ivan….. Hampir 30 tahun mengenalnya, Ivan Bonang orang baik. Semoga husnul khotimah.Aamiin aamiin YRA. Selamat jalan Ivan…

* Mantan PR IV Universitas Lampung, pendiri Taman Kupu-Kupu Gita Persada

  • Bagikan