Mengenang Penulis Lampung Asarpin Aslami

Asarpin
Asarpin (Foto: dok/Istimewa)
Bagikan/Suka/Tweet:

Udo Z Karzi

TAHUN 2000 saya kembali bergabung dengan Lampung Post setelah sebelumnya menjadi redaktur Sumatera Post (1998-2000), lalu ikut bersama jurnalis lain mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung tahun 2001.

Ketika membaca-baca koran Minggu seperti Kompas, Republica, Media Indonesia, dan lain-lain di Kantor AJI, saya menemukan nama Asarpin yang menurut saya ‘terlalu’ acap muncul sebagai penulis esai dan resensi buku.

Dari Damanhuri, jurnalis yang juga ikut membidani kelahiran AJI Bandar Lampung, sekarang dosen UIN Raden Intan Lampung, saya kemudian tahu jika Asarpin adalah sealmamater dengannya di UIN Raden Intan Lampung. Beberapa buku Asarpin dipinjam atau dititipkan ke Damanhuri dan bisa saya baca-baca di kantor AJI di Gotongroyong, Bandar Lampung.

Awalnya, saya tidak tahu kalau Asarpin ulun Lampung dari Semaka, Tanggamus. Sampai kemudian, sekira 2005, ia mengirimkan sejumlah puisi-puisi panjang berbahasa Lampung ke email saya. Sudah begitu saja, puisinya tidak dimuat karena panjang-panjang. Saya berangkat ke Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, ikut merintis Harian Borneo News, tahun 2006.

Meskipun saya di Pangkalan Bun, bersama-teman seperti Y. Wibowo dan Budi Hutasuhut di Bandar Lampung, Sigid Nugroho di Jogja, dan atas dorongan (alm) Bang Irfan Anshori di Bandung, lahirlah buku puisi Mak Dawah Mak Dibingi (BE Press, 2007). Buku puisi berbahasa Lampung ini diganjar Hadiah Sastra Rancage 2008. Rancage pertama untuk sastra Lampung sekaligus pertama untuk luar Jawa dan Bali.

Entah kenapa, Asarpin mengirimi saya lagi melalui email tertanggal 5 Januari 2008 — menjelang pengumuman Hadiah Sastra Rancage setiap tanggal 31 Januari sesuai tanggal kelahiran perintisnya, Ajip Rosidi – beberapa puisi panjang berbahasa Lampung. “Kalau tidak keberatan puisi-puisi ini tolong dimuat di blog/web Udo,” ujarnya.

Ini salah satu puisinya:

TALI PERANTI

ram ruwa jong
haga ngicik pai cutik
sanga patoh pun rua
cawa tuppak di ajong disan
api mak mari riya
ajo tali peranti
mitcik lagi sai bisa
kidang mak ulah dia
kattu ya mak lagi
atti serta penahanni
jakni ram muari dija
benor ni munih disan
mulang di sikam roppok
haga ngawawillahkon tangguh
sanga patohno sinna
haga disapa pai da ya
tuppak lawanni cawa
ram rua jong muari
nyamukakon cerita
ngehadapni ram roppok
muakhi sai wat dija
mittar kanjak jenganan
wat pai da ya tanyitcing
najin mawat tenyating
hanjak sikam jak ija
hanekan sekadar cutik
kiteliyak kon di tian
hebos serta mehaos
sayuk serba kurang
lain munih da ya ajong
kinjuk cawane pantun:
tipanton titaroton
tilokkon mak tikeni
mane barang tembeli
lain da ya ki raiya
wat induh mawat
hanekan senna ya
lamon macam khinci na
rukuk dilam bukkusan
tih kancakne gula
kipak laju di susu
sennalah sifat kelawan dalil
tanda patci sikam dua
mittar kanjak jenganan
pudatong sai ratong
kiriman sai mak dija
benor ni munih disan da ya

Puisi masih panjang lagi, ada 8 halaman ketik 1 spasi. Ada blog lama berbahasa Lampung saya.
Setelah saya mendapatkan Rancage 2008, tidak bisa tidak Lampung harus menerbitkan minimal 2 (sekarang malah minimal 3) karya sastra berbahasa Lampung setiap tahunnya.

BE Press mulai mencari siapa-siapa yang bisa menulis puisi atau karya sastra berbahasa Lampung. Saya langsung ingat dengan Asarpin dan satu lagi, Oky Sanjaya. Sayang, buku keduanya terlambat terbit. Barulah tahun berikutnya, 2009, BE Press berhasil menerbitkan buku Di Lawok Nyak Nelepon Pelabuhan (kumpulan sajak Oky Sanjaya) dan Cerita-cerita jak Bandar Negeri Semuong (kumpulan cerita buntak Asarpin Aslami).

Alhamdulillah, pria kelahiran di Pekon Negeri Ngarip, Tanggamus, 8 Januari 1975 ini berhasil meraih Hadiah Sastra Rancage 2010 untuk kumpulan cerbung-nya ini.

Ia menyelesaikam sarjana di Fakultas Ushuluddin IAIN Raden Intan, Bandar Lampung (2000) dengan skripsi Magi Dari Timur: Tinjauan Antropologi dan Fenomenologi. Pernah bergabung dengan Urban Poor Consortium/UPC (2001-2005). Lalu, dipercaya menjadi Koordinator Urban Poor Linkage/Uplink Lampung (2005-2007).

Menulis opini, esai, dan tinjau buku sejak 2007 di berbagai media. Ia juga sempat menjadi pengisi rubrik tetap “Lampung Tumbai” di Lampung Post Minggu.

Sudah lama tak bertemu. Terakhir bertemu di rumah Guru Besar Fakutas Tarbiyah UIN Raden Intan Prof Dr Chairul Anwar di bilangan Waydadi, Sukarame, Bandar Lampung, beberapa bulan lalu. Pakbatin Chairul, begitu saya sapa, memang paman dari pihak ayah saya. Kami bertiga berencana untuk melakukan riset, serta membukukan beberapa naskah berbahasa Lampung, hasil penelitian, dan merancang beberapa kegiatan terkait bahasa, sastra, dan budaya Lampung.Rencananya, kami akan bertemu kembali untuk mematangkan rencana. Namun, karena kesibukan persuaan kami tertunda-tunda.

Saya masih penuh harap dengan Asarpin dan menanti-nanti berjumpa lagi untuk membincang banyak hal sekalian merancang apa-apa yang bisa dilakukan untuk melestarikan atau bila mungkin mengembangkan bahasa, sastra, dan budaya Lampung. Namun, sebuah kabar duka datang dari Bang Iwan (Sekretaris Akademi Lampung Iwan Nurdaya-Djafar). Kabarnya ini kemudian saya konfirmasikan ke Pakbatin Chairul dan beliau menyatakan sempat melayat dan ikut men-shalatkan.
Innalillahi waiina ilaihi rajiun. Asarpin Aslami telah berpulang ke rahmatullah pada Sabtu, 2 April 2022 pukul 03.00 di Rumah Sakit Advent, Bandar Lampung. Ia dimakamkan di pekon kelahirannya di Semaka, Tanggamus.

Selamat jalan, sastrawan. Engkau pergi meninggalkan kami persis di depan gerbang Ramadan 1443 H. Insya Allah, husnul khatimah. Amin.