Beranda Views Esai Menggali dan Menebar Pesan Lewat Puisi

Menggali dan Menebar Pesan Lewat Puisi

74
BERBAGI
Oleh Yuli Nugrahani*
Puisi saya pilih
ketika tulisan jurnalistik dan cerita pendek (cerpen) tidak lagi memenuhi kebutuhan
untuk refleksi. Ada banyak perasaan yang tidak mungkin ditulis dalam bentuk
berita dan opini, tidak bisa diungkap ketika menggunakan cerpen, tapi nyaman
ketika disalurkan lewat puisi. Saya menuliskan puisi secara spontan.
Ya, itulah curahan hati. Sampai tahun 2000an, puisi-puisi saya adalah curahan
hati. Sampai kemudian saya melihat, puisi yang bagus tidak sekedar curahan hati
tapi diselesaikan dengan kemampuan berbahasa dan melalui proses penyuntingan
yang teliti.
Saya ingin
menunjukkan salah satu buku yang bisa dipakai untuk belajar menulis puisi. Saya
memakainya sebagai salah satu bahan belajar. Buku berjudul Menanam Benih Kata,
karya Ari Pahala Hutabarat, memuat teori-teori dan pengalaman Ari dalam menulis
puisi. Ari menempatkan tokoh sentral di situ, Mbah Bob, Budi dan
teman-temannya, yang nyantrik, meguru sama mbah Bob untuk belajar
puisi. Ari menyodorkan semangat dan cara menulis dengan cara yang sangat
santai, seolah puisi memang diperuntukkan bagi semua orang. Lewat dialog Mbah
Bob dengan murid-muridnya itu, Ari mendorong pembaca untuk menyakini bahwa
menulis puisi itu ‘mudah, ringan dan menyenangkan’. Cara pikir bahwa menulis
puisi itu susah, harus dibalik dengan mantra itu, ‘menulis puisi itu mudah,
ringan dan menyenangkan’.
Dalam perjumpaan
dan perbincangan mbah Bob dan murid-muridnya inilah ilmu-ilmu tentang puisi
mengalir, mengalun, mengajar para pembaca. Saya sedikit menyesal kenapa buku
ini kudapatkan justru setelah buku puisiku (Pembatas Buku, diterbitkan Indepth
Publishing, 2014) sudah jadi dan beredar. Andai lebih awal kudapatkan, tentulah
saya  mendapat banyak petunjuk untuk
mempermudah kerjaku dalam proses buku puisi “Pembatas Buku”.
Tapi ya, biar
saja telat, tapi saya tetap mendapat berkat. Saya setuju dengan pendapat Ari
bahwa menulis puisi itu mudah, ringan dan menyenangkan. Jika perasaan positif
ini sudah dipunyai, ini bisa menjadi semacam sugesti. Ya, tidak harus merasa
berat untuk menulis puisi.
Di banyak
kesempatan bersama para perempuan, kelompok ibu-ibu, saya bilang, puisi itu
serupa terapi. Dia bisa hadir untuk mencurahkan hari, mengobati lara hati, dan
juga fisik. Bagi para pemuda-pemudi, atau kelompok buruh (saya menjadi Dewan
Penasehat untuk Forum Komunikasi Serikat Pekerja Lampung (FKSPL)) saya bilang
puisi bisa menjadi pilihan aksi. Suatu ketika, tidak ada lagi aksi yang bisa
dilakukan di jalanan, para aktifis bisa memilih menggunakan puisi. Bagi para
remaja atau anak-anak, seperti pada anak-anak saya, saya bilang puisi bisa
dilakukan untuk bersenang-senang. Saya ingat ketika anak saya yang kedua
belajar menulis pantun, dia mendapatkan tawanya yang lepas karena pantun humor
yang kami buat bersama-sama.
Jadi,
semangat-semangat kegembiraan inilah yang harus kita ambil dahulu untuk menjadi
penyair. Saya ingat salah seorang guru saya dalam puisi, dia terlampau sering
mengingatkan : “Jangan menulis puisi pada saat marah.” Saya melawannya dengan
tetap menulis puisi saat marah, saat sedih. Tapi sekarang, saya akan mengedit puisi
saya dalam situasi yang gembira, saat jernih dan saat hening.
Unsur
yang Melekat pada Puisi
Puisi tidak
lepas dari tema dan pokok pikiran. Ada banyak tema beragam yang bisa kita
angkat untuk puisi. Komunitas Kampoeng Jerami, sebuah komunitas penulis yang
bermarkas di Sumenep dan juga punya aktifitas di grup Facebook secara rutin membuat agenda Putute, puisi tema tertentu.
Yang sudah pernah dibukukan adalah tema Hujan dan Hak Asasi Manusia (HAM).
Hujan dan HAM adalah tema-tema keseharian yang bisa didapat di sekeliling kita.
Dari tema besar
itu, setiap penyair memilih pokok pikiran yang berbeda-beda sesuai sudut
pandangnya. Saya bisa saja mengambil May
day
hari buruh sebagai satu pokok pikiran dari tema HAM. Yang lain
mengambil tentang Munir, Marsinah, perempuan, anak jalanan, hak atas alam dan
sebagainya. Itulah bahan pertama dalam rencana membuat puisi.
           
Pokok pikiran
itulah yang kemudian menyentuh perasaan. Penyair tak pernah bisa lepas dari rasa.
Dia mempunyai rasa yang muncul dari hati tentang tema yang sudah dipikirkan
(atau dialami, atau dirasakan, atau diperbincangkan, atau dibaca dsb). Gembira,
sedih, marah, bingung, galau, murung, kecewa dan sebagainya. Ada banyak ragam
rasa. Dan rasa itulah yang kemudian menentukan nada dari puisi itu. Jika dia
gembira, maka optimis yang muncul. Jika sedih, dia akan menunjukkan
alasan-alasan kesedihan.
Jika dia marah,
nada proteslah yang akan muncul. Dan sebagainya. Dan kemudian dari sanalah
muncul tujuan/pesan dari puisi saat dibaca. Mungkin saja pembacanya adalah
dirinya sendiri. Pesan bisa ditangkap berbeda-beda oleh setiap pembaca, tapi
penulis selalu mengharapkan pesannya, yang dipikirkan saat puisi itu dibuat,
tersampaikan pada pembacanya.
           
Di luar hal-hal
di atas, bahasalah yang paling utama. Bagaimana diksi, majas, dan permainan
bunyi diatur dengan rapi dalam puisi. Seperti nyanyian dengan iringan musik,
itulah puisi yang menggunakan bahasa yang tepat.
Mengedit
Puisi
Mengedit puisi
sendiri tidak sama caranya dengan mengedit puisi orang lain. namun ada beberapa
hal yang saya perhatikan saat mengedit puisi-puisi saya sendiri atau saat ingin
memberikan masukan pada orang lain. Hal-hal itu menyangkut semua unsur yang ada
dalam puisi dan juga penggunaan bahasa. Misalnya : Menyesuaikan dengan ejaan
bahasa Indonesia yang benar. Puisi tidak terikat pada Ejaan yang Disempurnakan
(EYD), tapi penyair harus tahu EYD, dan memastikan tahu alasan penggunaannya
andai memang harus melanggarnya. Misal : penggunaan huruf kapital, tanda baca,
di – dipisah atau digabung, dan sebagainya. Memastikan makna kata yang
digunakan. Mencermati secara khusus kata-kata sambung seperti dan, yang, dan
sebagainya. Melihat logika kalimat, keterkaitan antar kalimat, dan sebagainya. Memastikan
penggunaan majas, irama, tipografi,  dan
sebagainya.
Saat mengedit
buku Hujan Kampoeng Jerami dan Titik Temu, saya mesti menyapa penulis-penulis
tertentu untuk memastikan hal-hal itu. Jika untuk mengedit puisi saya sendiri
saya langsung menghapus, mengubah atau penambah, tidak demikian jika mengedit
puisi orang lain. Tepatnya, membantu penulis untuk mengedit karyanya. Caranya
adalah dengan bertanya. Terus menerus bertanya sampai saya, sebagai editor
tidak lagi punya pertanyaan akan puisi itu.
Terakhir, saya
selalu memaksa diri sendiri atau orang lain untuk membaca puisi yang sudah
dituliskan. Berkali-kali. Keras-keras. Kalau perlu di depan cermin. Berekspresi
penuh untuk puisi itu untuk melihat keseluruhan puisi itu.  Saat membacanya kita akan melihat
bagian-bagian dari puisi dengan penekanan-penekanan yang kita harapkan. Berulang
kali.
Saat editing, kita
mesti berlaku sebagai pembaca, bukan penulis puisi yang sering jatuh pada rasa
‘sayang’. Bantailah puisi itu seolah-olah puisi itu ditulis oleh orang lain.
Potong, tambah, buang, ubah, hingga tak ada lagi yang bisa diedit dari puisi
tersebut. Seperti kita membantai karya orang lain, itulah bagian dari yang bisa
diperbuat untuk editing puisi kita.
Memakai
Puisi sebagai Alat Perubahan
Ada banyak tokoh
revolusioner yang suka menulis puisi. Misal Ernesto ‘Che’ Guevara, menulis Lagu
untuk Fidel.
Ayo,
ganyang segala hinaan,

Dengan semangat memberontak yang tak pernah padam,
Bersumpah untuk menang atau mati.
Atau puisi Wiji
Thukul yang setiap kali diteriakkan para aktifis dari golongan manapun saat
aksi di jalanan :
Maka hanya
ada satu kata: lawan!
.
Atau puisi-puisi
dalam antologi puisi Titik Temu. Buku yang  diluncurkan untuk hari Hak Asasi Manusia, 9 Desember
2013 dipenuhi dengan gelora penghormatan pada martabat manusia, harapan akan
terjadinya perubahan. Ada 60 penyair terlibat dalam buku ini. Bukan hanya
penyair kawakan seperti Acep Zamzam Noor, Korrie Layun Rampan dan sebagainya,
tapi aktivis-aktivis kemanusiaan juga terlibat seperti Siti Noor Laila, Mariana
Amiruddin, juga para penulis pemula dari berbagai kalangan. Kelompok LGBT,
buruh migran dan sebagainya.
Kita bisa
menangkap apa yang ingin disampaikan oleh mereka yang mungkin saja berbeda satu
sama lain. Walau dibungkus oleh kata-kata puitik, puisi-puisi ini mempunyai
impian akan perubahan dalam situasi sosial di Indonesia dengan penghormatan
yang penuh utuh pada hak asasi manusia.
Saya selalu
setuju dengan yang dikatakan oleh Siti Noor Laila, Komisioner Komnas HAM dalam kata
pengantar buku Titik Temu : “Berbagai peraturan
tidaklah cukup, diperlukan pendekatan melalui budaya, nilai-nilai anti
kekerasan dan ‘dialog hati’ untuk membangun bangsa yang bermartabat. Buku
kumpulan puisi ini menjadi salah satu media terjadinya ‘dialog hati’ komunikasi
antar sesama anak bangsa agar terbangun rasa dan karsa menuju Indone­sia yang
manusiawi dan bermartabat.” ***
* Cerpenis, penyair, dan editor Antologi Puisi Titik Temu Komunitas Kampoeng Jerami, tinggal di Bandarlampung.
(Ringkasan
makalah yang disampaikan dalam Seminar Nasional tentang Mengembangkan Potensi
Peserta Didik, Penciptaan Karya, dan Penerbitan Buku, dalam rangkaian Tribute
Chairil Anwar oleh Kedai Proses, Taman Budaya Bengkulu, 18 April 2015)