Beranda Ekbis Bisnis Menggantungkan Harapan pada Kebaikan Luwak

Menggantungkan Harapan pada Kebaikan Luwak

173
BERBAGI
Luwak peliharaan petani kopi Lampung Barat (teras/oshn)

Mas Alina Arifin/Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG–Musang luwak atau disebut luwak adalah hewan dengan nama latin Paradoxurus hermaphroditus. Di Jawa, orang menyebutnya lenggarangan atau rase. Di daerah lain di Indonesia sebutannya bermacam-macam.

Di Jakarta orang menyebutnya musang, sementara di Jawa Barat dikenal sebagai careuh. Sedangkan di Inggris binatang seukuran kucing besar dan bertubuh lebih panjang dibanding kucing disebut common palm Civet, mentawai palm civet, atau toddy cat.

Selain sering menjadi ‘hama’ bagi pemilik ayam peliharaan, luwak juga bermanfaat bagi manusia. Utamanya adalah bagi para produsen kopi luwak. Maklum saja, binatang mamalia ini termasuk pandai memilih biji kopi terbaik. Biji kopi yang sudah dimakan luwak itu, hasilnya berupa kotoran yang masih berujud biji kopi. Tentu kulitnya sudah terkelupas.

Nah, biji kopi hasil fermentasi di perut luwak itulah yang diyakini berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit. Itulah sebabnya kopi luwak sering disebut sebagai kopi obat atau ‘kopi bukan sembarang kopi’.

Biji kopi luwak yang belum diolah

Dalam bahasa Latin, luwak disebut Paradoxurus hermaphroditus. Nama ini berasal dari fakta bahwa luwak memiliki semacam bau yang berasal dari kelenjar di dekat anusnya. Samar-samar bau ini menyerupai harum daun pandan, tetapi lama-kelamaan bisa membuat perut mual.

Luwak memiliki ukuran tubuh sedang, sekitar 50 cm dengan ekor panjang mencapai 45 cm dan berat rata-rata 3,2 kg. Tubuh luwak ditutupi bulu berwarna kecoklatan dengan moncong dan ekor berwarna kehitaman.
Sisi bagian atas berwarna abu-abu kecoklatan dengan variasi warna cokelat merah tua. Penampang kaki dan ekor coklat gelap sampai hitam. Dahi dan sisi samping wajah hingga di bawah telinga berwarna keputih-putihan, seperti beruban. Satu garis hitam samar-samar lewat di tengah dahi, dari arah hidung ke atas kepala.

Binatang ini termasuk jenis mamalia yang bersifat arboreal (hidup di pepohonan). Meski begitu, luwak sering juga turun di atas tanah. Ia termasuk binatang nokturnal yang beraktivitas di malam hari.
Biji kopi luwak belum diolah (teraslampung/oshn)
Luwak termasuk hewan omnivora. Makanan utamanya adalah buah-buahan lembek seperti buah kopi, mangga, pepaya, dan rambutan. Namun Luwak juga memakan telur, serangga, burung dan mamalia kecil.

Pencernaan luwak cukup sederhana. Itulah sebabnya, biji-bijian yang dimakannya akan dikeluarkan kembali dalam bentuk utuh bersama kotorannya. Ituah sebabnya luwak dimanfaatkan para produsen kopi untuk menghasilkan kopi luwak.

Persebaran luwak cukup luas. Mulai Bangladesh, Bhutan, Brunei Darussalam, China, Filipina, India, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Nepal, Singapura, Srilanka, Thailand, hingga Vietnam.

Di Indonesia, luwak tersebar di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Selain itu juga telah diintoduksi ke Papua, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Maluku.

Habitat yang disukai adalah hutan, semak-semak, hutan sekunder, perkebunan, dan di sekitar pemukiman manusia. Luwak bisa hidup di daerah dataran rendah hingga di daerah dengan ketinggian 2.500 meter dpl.

Populasi dianggap masih banyak dan aman dari kepunahan. Karena itu, IUCN Redlist hanya memasukkannya dalam status konservasi Least Concern sejak 1996.

Berkat memelihara luwak untuk menghasilkan kopi luwak, kini banyak petani kopi di Lampung Barat kesejahteraannya meningkat.Maklum saja, harga kopi luwak di pasaran memang selangit. Harga kopi luwak jauh lebih tinggi dibanding dengan kopi biasa yang diolah secara normal.

Referensi: Thewebsiteofeverything


Baca Juga:Era Kopi Luwak di Ambang Kiamat?
Baca Juga: isnis Kopi Luwak Belum Kiamat