Opini  

Menggelorakan Kembali Semangat Sumpah Pemuda

Bagikan/Suka/Tweet:

Oleh : Gunawan Handoko
Mantan Aktivis Pemuda, tinggal di Bandar Lampung

SAAT ini bangsa Indonesia sedang mengalami patologi sosial yang amat kronis. Sebagian besar masyarakat kita telah tercerabut dari peradaban easterisasi atau ketimuran yang beradab, santun dan beragama. Dengan dalih demi kepentingan rakyat, para elite politik saling melampiaskan dendam politiknya dengan melakukan kritik dan hujatan terhadap lawan politiknya. Dengan dalih demi untuk menunjukkan paradigma transparansi, demokratisasi dan keterbukaan, unjuk rasa marak di mana-mana. Media massa yang diharapkan dapat menjadi lembaga independen dan sumber informasi yang benar dan berimbang, nampaknya sulit diharapkan. Rakyat pun menjadi bingung, sosok mana yang pantas menjadi figur pemimpin karena yang mengaku tokoh pun kerjanya hanya mengkritik dan menghujat.

Kita seperti sedang berjalan di alam yang gelap gulita, satu sama lain saling bertabrakan atau sengaja untuk bertabrakan. Mengapa semua bisa terjadi? Jawabnya adalah karena kita telah lupa sejarah. Perjalanan sejarah bangsa yang seharusnya dapat menjadi pedoman dalam meneruskan perjuangan para pendahulu, kini telah ditinggalkan. Nasionalisme tidak lagi menjadi sebuah aliran yang dimiliki oleh bangsa dalam upaya menjaga keabadian identitas bangsa dan negara untuk mencapai tujuan bersama.

Masyarakat masa lalu (zaman kemerdekaan) menggunakan nasionalisme untuk menyatukan NKRI dengan merebut kemerdekaan dari kolonial. Konsep nasionalisme masa lalu inilah yang tidak lagi ditemui saat ini. Selain perbedaan atas tujuan nasionalisme itu sendiri, bahwa nasionalisme dulu berbeda dengan nasionalisme sekarang karena momen yang berbeda. Sudah seharusnya kita kembali kepada semangat Sumpah Pemuda. Hal yang tidak bisa di bantah bahwa Sumpah Pemuda merupakan bukti otentik dimana pada 28 oktober 1928 bangsa Indonesia dilahirkan melalui ikrar Pemuda untuk bertanah air satu, berbangsa satu dan berbahasa satu Indonesia. Oleh karena itu, seharusnya seluruh rakyat Indonesia memperingati momentum 28 Oktober sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia.

Proses kelahiran bangsa Indonesia ini merupakan buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas di bawah kekuasaan kaum kolonial Kondisi ketertindasan inilah yang kemudian mendorong para pemuda untuk membulatkan tekad demi mengangkat harkat dan martabat hidup orang Indonesia asli (pribumi). Tekad inilah sesungguhnya yang menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaannya 17 tahun kemudian, yakni pada 17 Agustus 1945.

Seyogianya semangat sumpah pemuda ini secara terus-menerus digelorakan dalam rangka memberikan pemahaman bagi masyarakat, khususnya kaum muda agar dapat meneladani semangat dan patriotisme para pendahulunya. Dengan memahami sejarah masa lalu, diharapkan ke depan tidak akan terdengar lagi tuntutan sekelompok masyarakat atau golongan yang ingin untuk memisahkan diri dari NKRI, menuntut untuk diperlakukan secara khusus. Juga tidak akan muncul sikap saling curiga satu sama lain yang nota bene adalah satu, yakni satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa.

Sebagai orang yang pernah ikut malang melintang di organisasi kemasyarakatan pemuda, saya masih memiliki harapan besar terhadap kaum generasi muda khususnya, untuk mengambil peran aktif dalam membangkitkan kembali semangat persatuan dan kesatuan serta nasionalisme. Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) sebagai wadah berhimpunnya organisasi kemasyarakatan pemuda hendaknya mampu menjadi perekat dari berbagai bentuk dan corak kepemudaan yang ada.

Mari kita menengok sejarah ke belakang, betapa peran pemuda selalu dilihat dengan penuh kesan. Mereka selalu hadir dengan segala kepeloporannya dalam mendobrak berbagai upaya kemapanan dan ketika negara sedang dilanda krisis. Mereka adalah generasi penerus yang dipundaknya ada tanggungjawab keberlangsungan proses bagaimana masa depan bangsa ini akan dibawa. Maka formulasi Sumpah Pemuda dan bentuk perjuangannya pun tidak akan pernah berakhir, bahkan semakin berat dalam menyebarkan sebuah formulasi Sumpah Pemuda.

Bukan perkara mudah bagaimana Sumpah Pemuda itu bisa dikenal hingga sekarang, masih setia diucapkan oleh lidah para pemuda di berbagai lintas sejarah peradaban Indonesia. Adalah sah-sah saja bila kaum muda ikut asyik bermain dengan ranah politik, sepanjang tidak melupakan kewajiban yang mesti dilakukan dalam rangka pembinaan dan pengembangan kaum generasi muda. Semangat sumpah pemuda dapat menjadi senjata mahadahsyat dalam membangun kembali moral bangsa yang dilandasi dengan rasa persatuan, kesetiakawanan dan solidaritas sosial.

Harus diyakini bahwa pernyataan fenomenal yang diikrarkan di dalam Sumpah Pemuda 1928 mempunyai nilai semangat kebangsaan yang sarat dengan keteladanan dan perjuangan, kekuatan yang besar untuk bisa menyatukan kebhinekaan bangsa, mengangkat harkat dan martabat bangsa yang terjajah dan tertindas di segala lini kehidupan ratusan tahun lamanya, dan Sumpah Pemuda adalah hasil akhir sebuah proses panjang dalam memformulasikan kesatuan gagasan para pemuda saat itu. Dalam memperjuangkan nama bangsa, mereka sanggup mempertaruhkan nyawa demi mempertahankan setiap jengkal tanah. Kepatriotan mereka telah mengesankan para penjajah bangsa ini dan bangsa lain yang menyaksikan setiap detik proses bangsa ini untuk meraih kemerdekaannya.

Dilandasi semangat Sumpah Pemuda 1928 tersebut kita semua tentu berharap agar kondisi masyarakat Indonesia kedepan akan kembali bersatu, aman, nyaman dan menyenangkan. Sesama anak bangsa tidak ada lagi saling curiga, saling hujat bahkan saling berhadap-hadapan. Tidak perlu lagi ada pihak yang mengaku paling NKRI dan paling Pancasilais, dengan mencurigai pihak lain sebagai anti NKRI dan anti Pancasila. Para pemimpin dan elite politik diharapkan mampu menciptakan iklim yang sejuk dengan tidak mengeluarkan pernyataan yang justru menimbulkan suasana panas dan gaduh serta perpecahan ditengah masyarakat. Akibatnya, peran lembaga-lembaga tradisional seperti tokoh adat, tokoh masyarakat dan tokoh agama yang di masa lalu sangat berpengaruh di dalam menciptakan suasana kondusif di tengah-tengah masyarakat, kini nyaris hilang.

Harus kita akui bahwa demoralisasi sedang melanda negeri ini, nilai-nilai moral telah semakin menipis. Rasa nasionalisme masyarakat Indonesia saat ini mengalami ambiguitas, yang pada akhirnya terjadi degradasi nasionalisme. Sungguh ironis dan menyedihkan. Perlu pengakuan secara jujur bahwa kita telah banyak kehilangan jati diri bangsa.

Pada masa dulu bangsa Indonesia mendapat julukan sebagai ’bangsa timur’ karena perilaku masyarakatnya yang dikenal berbudi pekerti luhur, sabar, ramah dan santun. Itulah sesungguhnya jati diri yang telah terpatri dan dimiliki rakyat Indonesia dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sudah seharusnya semua pihak untuk berani mengobarkan kembali semangat Sumpah Pemuda 1928 demi merajut kembali persatuan dan kesatuan bangsa.

Dirgahayu 94 tahun Sumpah Pemuda, Jayalah Pemuda Indonesia!