Beranda Views Opini Menggugat  Peran Keluarga di Panggung Pendidikan

Menggugat  Peran Keluarga di Panggung Pendidikan

58
BERBAGI

Oleh : Christian Heru Cahyo Saputro*

Indeks Pembangunan Manusia Indonesia menempati urutan 111 dari 182 negara di dunia. Sedangkan untuk di kawasan ASEAN Indonesia hanya bertengger di urutan enam dari 10 negara ASEAN.

Di samping prihatin terhadap merosotnya kualitas pendidikan di Indonesia. Jagad pendidikan kita juga dihantam prahara kemerosotan moral.  Di lingkungan institusi pendidikan terjadi hal-hal buruk seperti; perkelaihan pelajar, penyalahgunaan narkoba yang melibatkan pelajar, kekerasan anak sampai perilaku amoral, seks bebas yang melibatkan pelajar, perjokian, plagiarisme karya ilmiah hingga skripsi.

Belajar dan menyigi dari fakta dan realitas tersebut, tentu lahir sebuah pertanyaan mendasar. Siapa yang bertanggungjawab ? Kita tak perlu mencari kambing hitam dan saling lempar tanggungjawab. Tetapi harus dicari akar permasalahan dan solusinya hingga persoalan ini tak berkepanjangan.

Keluarga (orang tua) sejatinya secara fitrah mempunyai peran utama dalam pendidikan anak. Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan utama (primary community).

Keluarga sebagai pemeran utama menjadi garda depan pendidikan. Untuk itulah keluarga seharusnya memiliki visi dan arah yang jelas terhadap pendidikan anak-anaknya.

Merosotnya moralitas  dan kualitas dunia pendidikan di Indonesia dewasa ini tentu tak terlepas dari lemahnya peran keluarga dan masyarakat di panggung pendidikan.

Orang tua  karena kesibukannya masing-masing menjadi abai terhadap pendidikan anak-anaknya yang nota bene harapan bangsa.  Biasanya setelah anaknya memasuki usia  sekolah para orang tua menyerahkan pendidikan  sepenuhnya ke pihak sekolah atau pemerintah.

Para orang tua juga tak peduli dengan perkembangan atau hal-hal baru yang terjadi  di seputar dunia pendidikan, seperti; persoalan  guru, kurikulum dan metode pengajaran yang diberlakukan di sekolah anaknya. Jadi wajar saja kalau keluaran kualitas pendidikan kita memprihatinkan, karena tanpa kontrol dan apresiasi yang produktif dari para orang tua siswa.

Immanuel Kant berujar, bahwa, pendidikan adalah sebuah proses memanusiakan manusia. Merujuk konsep ini jelas bahwa seorang anak harus dididik oleh manusia, dengan cara yang manusiawi. Dalam keluarga proses pendidikan harus disemai atas dasar cinta dan kasih sayang.

Dalam keluarga anak-anak mulai mendapatkan sentuhan pembelajaran, maka sudah seharusnya kalau keluarga memberikan dasar pendidikan moral dan karakter yang baik kepada anak-anak.

Keluarga sangat berperan dalam memasyarakatkan nilai-nilai pendidikan moralitas.  Keluarga juga merupakan pondasi dan dasar dalam membangun karakter anak-anak dengan sentuhan kasih sayang, cinta dan berbagai nilai afektif lainnya. Keluarga juga merupakan kawah candradimuka dan cetak biru untuk pendidikan yang lebih luas lagi dalam hal ini sekolah dan masyarakat.

Kembali Ke Khitah

Dalam proses pendidikan menjadikan manusia yang seutuhnya, orang tua tentunya harus membekali anaknya pendidikan berdasarkan fitrahnya sesuai dengan bakat dan kemampuannya

Howard Gardner berteori bahwa manusia  ini dikenal dengan  kecerdasan ganda berupa kemampuan dan bakat yang berbeda. Sedangkan pakar pendidikan Hoogveld menyatakan, bahwa pendidikan harus membuat anak cakap dan bisa menyelesaikan perkara hidupnya sendiri secara mandiri.

Untuk itulah, para orang tua seharusnya kembali ke khitahnya memaknai pendidikan sebagai upaya untuk mengembangkan manusia sesuai bakat dan kecerdasannya.

Pendidikan bertujuan akan menjadikan manusia untuk dapat menguasai ilmu pengetahuan, memiliki ketrampilan, menjadi dirinya sendiri sesuai bakat dan kemampuannya, serta dapat hidup bersama dengan sesamanya.

Hal ini sesuai dengan empat pilat pendidikan yang dirilis Badan Pendidikan Dunia UNESCO, yakni, learning to know, learning to do, learning to do, leaning to be dan learning live together.

Diharapkan setelah mengenyam pendidikan manusia  tidak hanya sekedar cerdas, tetapi juga memiliki akhlak yang mulia.

Penguatan Peran Keluarga

Esensi pendidikan yang paling hakiki adalah proses hidup. Jadi pendidikan bukan hanya sekadar mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga merupakan proses transfer nilai agar tujuan pendidikan memanusiakan manusia terwujud.

Lembaga Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang mengurusi persoalan anak UNICEF dalam publikasi resminya mengingatkan betapa pentingnya peran orang tua  dan komunitas dalam proses pendidikan anak-anak sejak dini.

Banyak penelitian yang dilakukan menunjukkan peran orang tua berhubungan erat dengan keberhasilan pendidikan anak, termasuk perkembangan sosial dan emosi anak. Lingkungan belajar yang kondusif  juga punya sumbangan penting terhadap keberhasilan anak dalam pendidikan.

Keluarga sebagai basis utama dalam pembentukan Sumber Daya Manusia perlu menjalin kerjasama dengan pihak sekolah. Pihak orang tua juga harus membangun komunikasi yang baik dengan sekolah . Orang tua juga bisa mengambil peran  dan aktif  berkiprah di organisasi Komite Sekolah. Interaksi pihak orang tua dan sekolah ini merupakan langkah yang efektif dalam mengawal proses pendidikan baik di sekolah maupun di rumah.

Pemerintah melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan  terus berupaya melibatkan  dan memperkuat posisi serta peran keluarga dalam dunia pendidikan. Pemerintah selain terus berupaya memperbaiki kurikulum pendidikan, melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 11 Tahun 2015 tentang Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga.

Diharapkan dengan adanya respon positif dari pemerintah melalui Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga itu mampu menggesa proses penguatan prestasi belajar siswa, pendidikan karakter, kepribadian dan pendidikan kecakapan hidup.

Selain itu, Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga ini juga memiliki program penanganan pendidikan penanganan remaja,  perilaku perundungan (bullying) dan perilaku destruktif.

Program-program yang digulirkan pihak Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga ini tentunya menuntut peran aktif para orang tua atau wali siswa untuk ambil bagian dan tanggungjawab dalam pendidikan. Yang muaranya tentu untuk perbaikan moralitas dan kualitas hasil keluaran pendidikan yang dicapai.

Kalau bukan kita para orang tua yang membekali anak-anak kita ketrampilan, pengetahuan, kecerdasan, moral dan akhlak yang baik siapa lagi. Kalau tidak kita mulai dari keluarga kita sekarang, kapan lagi?

* Pemerhati Pendidikan bermukim Di Bandar Lampung