Menghadapi Pandemi Covid-19: Melawan atau Mati

  • Bagikan
Pro. Dr. Sudjarwo/Foto: Istimewa

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu-Ilmu Sosial FKIP-Unila

Sebentar lagi kita merayakan Hari Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 2021. Semua kita ingat slogan para pejuang kemerdekaan tahun 1945 silam :“Merdeka atau Mati”. Pekik itu membahana di seluruh negeri. Perasaan senasib sepenanggungan akibat penjajahan  telah mengikat bangsa Indonesia dalam satu citap-cita bersama untuk Merdeka. Mengabaikan kesiapan kesenjataan, dengan bermodalkan tekad dan keberanian; rakyat Indonesia maju ke medan laga hanya bersenjatakan apa adanya.

Musuh bangsa Indonesia pada waktu itu kasat mata: berbeda bangsa bahkan ras, berbeda warna kulit, berbeda persenjataan, berbeda bahasa, berbeda budaya, dan masih banyak lagi perbedaan lain. Perbedaan itu memudahkan membedakan siapa lawan kita, walaupun di tengah perjuangan selalu ada pecundang — yang terkadang berasal dari bangsa sendiri ingin memancing di air keruh dan mencari keuntungan untuk dirinya sendiri.

Kini bangsa kita juga memiliki musuh bersama yang tak kalah berbahayasanya: Virus Corona atau Covid-19. Berbeda dengan musuh bersama kita zaman dulu, Covid 19 tidak kasat mata, dia sulit dikenali, tetapi ada dan membahayakan. Banyak korban sudah berjatuhan karenanya, bahkan yang harus menderita akibat keberadaannya terus bertambah. Kita hampir putus asa dibuatnya karena serangannya tidak tampak sema sekali. Dia menyerang siapa saja, dari golongan mana saja, tidak peduli siapa dia.

Pilihan yang ada di muka kita hanya “Mati atau Melawan!”. Tentu saja kita semua sepakat jawabannya adalah “Melawan!”. Lalu bagaimana cara melawan, strategi apa yang harus segera kita siapkan? Ini persoalan baru yang harus kita pecahkan bersama secara ilmiah untuk dapat ditemukan jawabannya. Pertama kali yang harus kita siapkan adalah: mari mengesampingkan terlebih dahulu perbedaan di antara kita, baik segi ideologi, pandangan politik, syahwat ingin berkuasa, pangkat, strata sosial atau golongan, bahkan agama. Mari kita satukan niat, tekad bulatkan kehendak untuk bersama sama mempertahankan negeri ini dari serangan Covid 19.

Virus adalah urusan paling dekat dengan kesehatan. Dan dia adalah salah satu makhluk ciptaan Tuhan yang diciptakan salah satunya adalah agar kita berpikir, dan ini masuk rumpun urusan biologi. Berarti jika kita tarik pada kelompok keilmuan pengelolaannya adalah bidangnya mereka yang menggeluti ilmu biologi dan ilmu kedokteran dan atau kesehatan.

Rumpun sudah kita temukan, tinggal membuat gugus seperti apa yang harus kita buat galurnya. Jika kita cermati wilayah Indonesia ini secara analisis teritori, maka dapat kita bagi atas tiga wilayah, yaitu Barat, Tengah, dan Timur. Kemudian wilayah itu jika kita cermati ada sejumlah perguruan tinggi yang memiliki Fakultas Kedokteran dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam yang di dalamnya ada jurusan biologi, tinggal menginventarisir berapa jumlahnya.

Wilayah Barat bisa di tunjuk sebagai basis riset adalah Universitas Unggulan di wilayah barat, Wilayah Tengah, Wilayah Timur demikian juga adanya. Pemerintah membuat payung kerjasama penelitian antara Kementerian Kesehatan dengan Kementerian Pendidkan dan Kebudayaan serta Riset; membuat skema kerjasama bersama, membentuk tim seleksi para ahli bidang kedokteran dan bidang biologi, dengan berdasar pada Jurnal Penelitiannya yang terindeks dari hasil penelitiannya.

Siapa yang paling banyak dan kompeten atas dasar banyaknya publikasi dan risetnya itu yang diunggulkan untuk masuk tim peneliti. Kemudian menunjuk dan menetapkan satu Perguruan Tinggi sentral sesuai kewilahan tadi.

Para ahli hasil seleksi ini di kumpulkan diwilayah yang sudah ditunjuk; kemudian dikarantina selama beberapa lama guna melakukan penelitian bersama tentang virus Covid 19 tadi. Pemerintah menanggung semua biaya penelitian, biaya hidup, dan seluruh biaya yang terkait untuk menunjang keberhasilan penelitian. Penelitian ini diharuskan sampai menemukan vaksin yang sesuai dengan karakteristik keindonesiaan kita.

Tentu waktu yang diperlukan cukup lama, namun tetap menguntungkan jika dibandingkan dengan terus membeli dari produk asing; karena membeli produk asing sama saja kita menggadaikan negeri ini untuk didikte oleh bangsa asing. Kita bukan berarti alergi kerjasama dengan bangsa lain, akan tetapi tentunya kerjasama yang saling menguntungkan, bukan kerjasama ketergantungan; di mana kita selalu ada pada posisi menggantungkan. Biaya riset ini tentu tidaklah sebesar biaya membuat jalan tol yang ada selama ini. Penulis bukan berarti anti-jalan tol, tetapi saat ini mendesak untuk membangun tol kemanusiaan yang memerlukan penelitian.

Penghargaan kepada peneliti tentu bukan hanya sekedar materi, tetapi juga non materi yang dirumuskan kemudian; antara lain memberikan nama hasil penelitiannya, sebagai namanya; Sementara hak paten tetap ada pada Pemerintah Republik Indonesia. Atau juga mendapat hak istimewa akademik pada bidangnya.

Tentu cara ini tidak disukai oleh para pecundang negeri ini; karena mereka selalu ingin mendapatkan keuntungan melalui kartel, monopoli dan lain sebagainya; untuk memperkaya diri sendiri atau kelompoknya; melalui cara cara yang tidak terpuji, dan selalu menyengsarakan rakyat. Untuk itu diperlukan perangkat hokum yang tegas, keras, dan jelas; serta tidak pandang bulu.

Aturan aturan pembatasan yang dilakukan selama ini, adalah cara penyelesaian jangka pendek, tidak menyentuh akar persoalan. Bahkan ekses yang ditimbulkan justru menciderai maksud baik yang terkandung maksud sebelumnya. Namun dengan penyelesaian ilmiah tentu akan menyelesaikan persoalan secara mendasar dan menyeluruh. Paling tidak kita dapat secara mandiri menyelesaikan persoalan bangsa untuk jangka panjang.

Swasembada pangan yang pernah kita raih di dekade 70-an bisa dicapai karena adanya niat kuat para penyelenggara Negara untuk memandirikan pangan. Demikian juga saat ini kita seharusnya bisa swasembada vaksin jika semua komponen bangsa ini mampu berpikir jernih.

Pemikiran di atas tentunya masih perlu pengkajian bersama untuk duduk bersama semua komponen yang ada; sehingga keterlibatan ilmuwan yang dimiliki Indonesia bisa maksimal seperti halnya pada waktu kita membangun swasembada pangan pada waktu itu.

Sejarah akan mengukir semua kreativitas anak negeri ini jika kesempatan diberikan kepada Putra Putri terbaik bangsa ini guna menyelamatkan negeri dari kehancuran.****

 

  • Bagikan