Beranda Pendidikan Mengolah Harmoni dengan Musikalisasi Puisi

Mengolah Harmoni dengan Musikalisasi Puisi

2936
BERBAGI
Para siswa SMAN 14 Bandarlampung sedang pentas musikalisasi puisi (ilustrasi)

Oleh Dwi Wahyu Handayani

PUISI sebagai sebuah media meresapkan pesan estetika, moral, simpati, rasa, dan sejenisnya terus dipanggungkan. Dan, musikalisasi puisi menjadi “mazhab” tersendiri. Satu perhelatan bertajuk Festival Musikalisasi Puisi Tingkat SMA Se-Sumatera digelar di Kantor Bahasa Lampung pada 2008 lalu.

Dalam busana hitam putih dan balutan kain tapis di pinggang, Septi Rahayu, siswa SMAN 11 Bandar Lampung, menuturkan sastra lisan Lampung, wawancan yang dilagukan. Diiringi gitar petikan Lampung, kolintang dan keprak rebana. Bagian selanjutnya, syair puisi yang dilagukan dan terkadang dibaca pun dituturkan, dengan iringan musik. Sebuah kolaborasi musikalisasi puisi yang menawan. Mereka serius membawakan sajak Iya akan Mengecupmu karya Isbedy Stiawan Z.S. dan Kepada Persada Tercinta karya Widyarta Hastjarja.

Kegiatan mengusung tema Musikalisasi puisi dalam pelestarian bumi, diprakarsai Kantor Bahasa Prvinsi Lampung. Tema tersebut diharapkan menggugah untuk lebih mencintai bumi dan turut melestarikannya. Festival ini merupakan kegiatan rutin yang dilakukan oleh Balai/Kantor Bahasa yang ada di Sumatera. Festival yang kali ini digelar di Lampung adalah festival ketiga. Sebelumnya tahun 2006 di Kantor Bahasa Provinsi Jambi dan tahun 2007 digelar Balai Bahasa Nangroe Aceh Darussalam.

Dalam festival ini, Lampung untuk pertama kalinya berhasil menjadi jawara, yaitu tim SMAN 11 Bandar Lampung. Juara II Jambi (tim Gromospa), dan juara III Sumatera Barat (SMAN 1 Bukittinggi). Juara harapan I diraih oleh Sumatera Selatan (SMKN 3 Palembang) dan harapan II diraih oleh Nangroe Aceh Darusalam (SMAN 4 Banda Aceh).

Sepuluh sekolah menengah atas se-Sumatera mengikuti festival bergengsi bagi seni perpaduan musik dan puisi itu. Sepuluh tim peserta festival itu terdiri atas SMA 1 Binjai Medan, SMAN 1 Bukittinggi Padang, SMKN 3 Palembang, dan Jambi yang diwakili oleh Gromospa dan ACC. Kemudian SMAN 4 Banda Aceh, dan SMAN 2 Bangkinang Pekanbaru. Sedangkan, Lampung sebagai tuan rumah mengirimkan tiga perwakilan, yaitu SMAN 1 Natar, SMAN 14 Bandar Lampung, dan SMAN 11 Bandar Lampung.

Persiapan dengan latihan serius yang dilakukan tim SMAN 11 Bandar Lampung sejak Februari lalu, berhasil menyuguhkan musikalisasi puisi, yang diperkaya dengan kesenian lokal. Tim itu terdiri atas Linda Lestari (puisi), Septi Rahayu dan Retno Kusuma P (vokal), Rizki Kurniawan (melodi), Rizki Ramadhan (gitar) dan Edi Suhaidi (perkusi). Tim yang di sekolahnya di bawah payung Teater Sebelas binaan Ahmad Jusmar itu, memasukkan unsur musik tradisional Lampung dengan rebana, kolintang dan suling, sehingga warna musik Melayu pun lebih kental.

“Kami berusaha menemukan sendiri bunyi alat tradisional itu, untuk memunculkan harmonisasi dengan alat musik moderen seperti gitar, sehingga tercipta perpaduan sangat unik pada musik pengiring puisi itu,” ujar Septi, yang dijumpai di sekolahnya, Rabu (21-5).


Penampilan mereka memukau sejak awal, dengan suguhan wawacan, yang dilantunkan Septi. Setelah salam, melantunkan Tabik Pun Nabik Tabik, Sikin Dua Joganta Haga dan Bupantun Cutik. Selanjutnya, syair-syair puisi yang dibacakan Linda, diiringan musik yang didominasi oleh alat tradisional Lampung.

Warahan Lampung yang ditampilkan diakui Rusli Syukur, salah seorang juri festival, sebagai keunggulan tim ini. Juri lainnya adalah penyair Lampung Ari Pahala Hutabarat dan pengasuh Teater Matahari Jakarta Fredie Arsi. Aspek lain yang dinilai adalah penafsiran puisi ketika diapresiasikan dalam musikalisasi puisi. Komposisi musikal, yaitu keselarasan musik dan puisi, sehingga menghasilkan musikalisasi puisi yang indah. Juga, kemampuan vokal dan penampilan. Secara umum, diakui Rusli penampilan 10 tim peserta memiliki keunggulan masing-masing.

Sayangnya, tata panggung yang dipersiapkan panitia, terlihat kurang mendukung penampilan para peserta. Menurut Gus Martin, sastrawan Bali, seni musikalisasi puisi tetap memiliki aturan, konsep dan karakter tersendiri. Ada tiga elemen dalam musikalisasi puisi, yaitu karya puisi, musik dalam makna fisik dan aturan, dan pengetahuan pemanggungan/pementasan. Menurut Gus Martin, meskipun bentuk musikalisasi puisi lebih dekat ke format audio (media dengar) dibanding visual (media tontonan), pengetahun pemanggungan/ pementasan tetap amat diperlukan.

Nah, berpijak dari hal tersebut, ada yang patut disayangkan dari festival musikalisasi untuk pelajar SMA tersebut. Tata panggung pementasan kurang mendukung tema yang diusung tentang lingkungan hidup. Terkesan sederhana dan apa adanya. Untuk event yang termasuk besar ini, karena melibatkan peserta dari Aceh hingga Lampung ini, alangkah baiknya mempersiapkan tata panggung yang sesuai. Tujuannya, tak lain mendukung penampilan para peserta, agar mereka mampu berekspresi maksimal. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah, sarana sound system. Bagi pertunjukkan seni ini, tampaknya lebih banyak membutuhkan pengeras suara, untuk keseimbangan hasil bunyi dari vokal, puisi dan musik.

Makna Musikalisasi Puisi

Penggiat seni Lampung Rusli Syukur menjelaskan musikalisasi puisi tentu berawal dari karya puisi. Materi puisi itu kemudian dilagukan, diberi warna musikal, yang dikemas untuk mendukung suasana sesuai isi puisi.

“Syair puisi yang menekankan makna ketenangan, dapat lebih terekspresikan dengan bunyi-bunyian yang mendukung suasana tenang. Syair dengan emosi meledak-ledak, dapat lebih terdeskripsi dengan musik dan seterusnya,” jelas dia.

Musikalisasi puisi ke dalam lirik lagu dapat dilakukan, untuk menonjolkan pesan penyair dalam bait puisinya. Lagu akan menjelma sebagai latar dan penguat pesan atau roh dalam syair ketika penampilan panggung. Menurut dia, diperlukan wawasan kesenimanan dalam membuat musikalisasi puisi. “Tidak semua puisi dapat dimusikalisasikan Ini membutuhkan kejelian dan kreativitas sang seniman tersebut,” ucap dia.

Sang kreator musikalisasi puisi pun, harus berhati-hati dalam menciptakan musikalisasi puisi ke dalam lirik lagu, karena ini kaitannya dengan penjiwaan sebuah pesan puisi. Sinergi musik dan lirik juga dilakukan untuk memperkuat lagu.

Terkait dengan persoalan aliran musik mana yang paling pas untuk musikalisasi puisi, Rusli berpandangan, sebaiknya tak perlu dibatasi dengan aliran atau jenis musik. “Musikalisasi puisi sebaiknya dibebaskan saja dari aliran atau jenis musik apa pun. Jangan terperangkap pada batasan dan genre musik yang ada,” kata dia.

Dia juga mengingatkan, dalam menggarap karya musikalisasi puisi, hendaknya diperhatikan harmonisasi antara karya puisi dan musikalitasnya. Jangan sampai sebuah puisi akhirnya justru “dirusak” oleh musikalitasnya sendiri. Idealnya, dalam musikalisasi puisi mampu mengangkat atau memaksimalkan karakter sebuah puisi.

Musikalisasi Puisi di Tanah Air

Menilik akar sejarah budaya Indonesia, tradisi musikalisasi puisi (jadi lirik lagu) telah ada dalam seni tradisi semacam mantra Melayu, tembang Sunda Cianjuran, tembang Jawa, pantun Dul Muluk Palembang, seni Lukah Melayu hingga ke puisi modern semacam Sutardji Calzoum Bachri.

Di masa silam sajak-sajak Chairil Anwar dan Usmar Ismail sudah digubah menjadi komposisi musik dan lagu oleh komponis Mochtar Embut dan Cornel Simanjuntak. Berikutnya Bimbo kerap melagukan puisi-puisi Taufik Ismail. Juga Emha Ainun Najib sering membawakan sajak-sajak dalam bentuk musikalisasi bersama kelompok Dinasti, yang berlanjut pada Kiai Kanjeng.

Pada sekitar 1980-an marak digelar Festival Musikalisasi Puisi di berbagai kota. Pusat Bahasa juga mengisi apresiasi sastra bagi pelajar mengambil bentuk ini dan menyiarkannya di beberapa stasiun radio. Dalam bentuk album rekaman, salah satu contoh Hujan Bulan Juni (dalam bentuk kaset terbatas pada 1987) dihasilkan oleh mahasiswa-mahasiswa UI.

Musikalisasi puisi di Lampung pun sedang tumbuh seiring dengan perkembangan seni lainnya. Rusli mengatakan untuk mendorong geliat seni ini tidak perlu tergesa-gesa karena tergantung pada apresiasi masyarakat. “Tugas para kreator, penyair, dan musisi untuk mengembangkan itu,” jelas Rusli.

*Tulisan ini pernah dimuat di Harian Lampung Post, dimuat ulang untuk keperluan apresiasi sastra.