Beranda Views Opini Mengukur Bobot Calon Gubernur Lampung

Mengukur Bobot Calon Gubernur Lampung

790
BERBAGI

Oleh : Gunawan Handoko *)

Mencari pemimpin sama susahnya dengan menjawab pertanyaan dari mana pemimpin itu muncul. Belajar dari perjalanan sejarah, pemimpin tidak bisa dicetak seperti kita mencetak roti atau kue sagon, melainkan dilahirkan. Dengan kata lain, pemimpin itu merupakan potret berfungsinya sebuah bakat alam.

Pemimpin yang dipaksakan hanya akan memboroskan uang rakyat dan tindakannya cenderung membuat celaka dan sengsara yang dipimpinnya, karena mereka tidak paham akan tugas yang diembannya. Karena itu, lebih baik pemimpin yang lahir secara alamiah dari bakat, lalu dimatangkan oleh pergulatan perjalanan hidup.

Yang diharapkan oleh masyarakat saat ini adalah pemimpin yang tidak saja cerdas dan ilmiah, namun harus memiliki sikap serta mampu menjadi pengayom atau pelindung. Banyak orang yang memiliki otak cemerlang, banyak juga orang yang istimewa. Namun, manusia hanya akan kagum manakala orang tersebut memiliki sikap, komitmennya jelas, suara moralnya tegas dan pemihakan hidupnya terhadap nilai-nilai tidak diragukan. Sikap itulah yang paling mahal dan sulit di zaman sekarang.

Pada 27 Juni 2018 mendatang Pemerintah akan menyelenggarakan pemilihan kepala daerah (Pilkada) secara serentak, termasuk pemilihan Gubernur (Pilgub) Lampung. Bagi masyarakat Lampung Pilgub kali ini menjadi momen yang penting untuk menuju perubahan kondisi daerah yang lebih baik. Maka sudah seharusnya setiap warga masyarakat untuk mengambil peran masing-masing demi terwujudnya agenda perubahan tersebut.

Masyarakat dituntut untuk cerdas di dalam memilih calon pemimpin dan membuang jauh-jauh politik transaksional ‘wani piro’ yang sudah menjangkiti masyarakat kita. Masyarakat tidak terlalu salah, karena selama ini tidak pernah mendapatkan pendidikan politik, baik dari KPU sebagai penyelenggara maupun dari para politisi, termasuk calon kepala daerah. Justru yang terjadi sebaliknya, para calon dengan membabi buta turun ke bawah untuk mencari simpati masyarakat dengan cara yang tidak mendidik, yakni membagi-bagi barang dan uang.

Berbagai cara dilakukan para kandidat agar masyarakat mengenali dirinya, paling tidak mengenal nama. Banyak masyarakat yang menyambut dengan suka cita dan menganggap bahwa ini sebagai kesempatan untuk mendapat rejeki 5 tahunan. Tapi tidak sedikit masyarakat yang menyadari bahwa proses lingkaran korupsi yang menjerat para Kepala Daerah telah di mulai.

Masyarakat kelompok ini bukan hanya menelusuri sosok masing-masing calon, namun juga asal sumber pendanaan dari mana. Hal ini memang penting untuk diketahui publik, mengingat sosialisasi yang dilakukan secara terbuka oleh para calon belakangan ini menghabiskan dana yang cukup besar. Sebab, apabila dukungan dana yang besar untuk kepentingan pemodal akan membuat Cagub ‘tersandera’ oleh kepentingan kelompok jika terpilih nanti. Siapapun yang terpilih nanti, tetap saja akan muncul Gubernur bayangan mengingat yang bertarung dalam Pilgub adalah para pemilik modal. Diyakini, langkah pertama yang dilakukan Gubernur adalah mengembalikan modal yang telah dikeluarkan dengan segala cara, termasuk korupsi. Masyarakat pun tidak dapat menuntut banyak, karena kebijakan yang dilakukan Gubernur harus disesuaikan dengan kepentingan pemodal.

Memang, untuk perhelatan perebutan kursi sekelas Gubernur, para calon tidak mungkin berjalan sendiri tanpa ada pemodal dibelakangnya. Para pengusaha dari masing-masing calon tentu punya kepentingan yang beragam. Kepentingan para pengusaha inilah yang harus diketahui publik, perusahaan mana yang berpihak dan bakal menguntungkan rakyat dan pengusaha mana yang bakal membuat masyarakat sengsara.

Yang pasti, ke depan masyarakat Lampung membutuhkan sosok pemimpin yang benar-benar memiliki komitmen untuk mengembalikan Lampung menjadi daerah yang aman, masyarakat yang rukun dan jauh dari konflik, sesuai dengan pandangan hidup Sai Bumi Ruwa Jurai.

Dalam rangka itu, pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur harus merupakan satu kesatuan yang utuh, tidak pecah kongsi sejak di lantik hingga akhir masa jabatan nanti. Gubernur bersama wakilnya harus mampu membangun sistem organisasi dan manajemen pemerintahan yang baik, agenda kebijakan yang tepat, pembagian tugas kelembagaan yang jelas, kewenangan yang seimbang dengan personel yang profesional. SDM di dalam organisasi pemerintahan, baik para birokrat karier maupun political appointees, harus menjiwai perannya dalam mengemban misi perjuangan untuk membangun daerah Lampung secara menyeluruh, dan mampu melaksanakan tugasnya sebagai abdi masyarakat dan abdi negara dengan penuh rasa tanggung jawab.

Ada pertanyaan yang pantas untuk dijawab oleh para kandidat calon Gubernur maupun Wakil Gubernur, sanggupkah mereka memikul risiko jabatan yang akan disandangnya kelak, mengingat begitu banyak permasalahan yang akan dihadapi, seperti meningkatnya gangguan keamanan, pengentasan kemiskinan, pengangguran dan permasalahan sosial lainnya.

Risiko jabatan akan dapat di ukur dari seberapa jauh kesenjangan akan terjadi, antara visi dengan praksis pemerintahan nanti. Dalam bahasa sederhana, visi adalah sebuah mimpi yang direncanakan, sedangkan praksis merupakan pelaksanaan rencana yang dibimbing oleh konsep dan teori.

Kita masih menunggu, adakah kandidat yang mampu atau berani menawarkan visinya tentang bagaimana menciptakan rasa aman bagi masyarakat? Bila visi itu ada, tentunya disertai serangkaian program untuk mencapainya. Jarak antara visi dan langkah praksis itulah yang disebut dengan risiko jabatan. Karena itu, kemampuan atau keberhasilan kepemimpinan dapat diukur dari kemampuannya untuk mempersempit atau kalau bisa menghilangkan jarak tersebut. Pemimpin yang baik secara individual maupun kolektif harus mampu menawarkan kedua arah visi dan praksis itu kehadapan publik, bukan hanya sebatas ramainya pemberitaan di media atau tulisan slogan spanduk dan baliho.

Para calon juga harus mampu menunjukkan sikap dan perilaku yang bisa diteladani. Apa yang dapat diyakini dan di contoh oleh masyarakat jika para kandidat selalu terlibat konflik dan mengkritik pihak lawannya terhadap hal-hal yang tidak krusial. Masyarakat akan menaruh simpati kepada calon pemimpin santun, rendah hati dan andap asor, memiliki rekam jejak perjalanan yang teruji.

Kebiasaan mengumbar janji dan menepuk dada bahwa dirinya yang terbaik, seperti menepuk air di dulang. Yang mencuat ke permukaan adalah tampilan negatif yang terus mengendap di memori masyarakat. Politik santun semestinya telah menjadi bagian dinamika kehidupan perpolitikan di seluruh tanah air. Sebab, reformasi yang telah melahirkan dan mengakomodasi kebebasan berorganisasi dan menyatakan pendapat mestinya menjadi tahapan terwujudnya kedewasaan berpolitik. Bahkan reformasi semestinya menjadi garansi lahirnya politisi-politisi yang matang, bukan politisi karbitan yang hanya mengandalkan kekuatan materi dalam berkompetisi.

Politik santun dan kesantunan berpolitik bukanlah sekedar wacana. Semua bisa diwujudkan dengan di dorong tekad yang bulat untuk mempraktekkan sebagai individu yang bermoral dan santun dalam bingkai kesungguhan hati, kejernihan berpikir serta keberanian untuk memulai. Bila ini dilakukan maka tontonan yang disajikan para kandidat akan berisi tuntunan yang menjadi referensi masyarakat.

Para kandidat harusnya mau belajar dari prinsip-prinsip kepemimpinan yang diajarkan Ki Hajar Dewantara, yakni ing ngarso sung tulodo. Menjadi kewajiban kita bersama untuk menyebarkan benih-benih positif tentang aspirasi rakyat dalam menentukan pilihan bagi calon pemimpinnya secara aman dan damai serta terbebas dari praktik kotor.

Kultur harus ditegakkan agar yang menang siap rendah hati dan tidak arogan, yang kalah mau dan berani menerima kekalahan secara ksatria dan sabar. Masih terbuka peluang bagi kita untuk mewujudkan pilkada aman dan damai sebagai jembatan emas untuk membangun provinsi Lampung yang lebih baik. Maka tidak ada pilihan kecuali semua pihak harus memainkan perannya untuk mewujudkan harapan tesebut.

*) Pengurus LSM PUSKAP (Pusat Pengkajian Etika Politik dan Pemerintahan) Wilayah Lampung

Loading...