Beranda News Lingkungan Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca dengan “Septic Tank” Raksasa

Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca dengan “Septic Tank” Raksasa

12724
BERBAGI
Covered In-Ground Anaerobi Reaktor (CIGAR) atau septic tank raksana yang menjadi pembangkit energi berbahan biogas milik PT Santori, d Bumiaji, Anaktuha, Lampung Tengah. (Foto: Oyos Saroso HN
Covered In-Ground Anaerobi Reaktor (CIGAR) atau septic tank raksana yang menjadi pembangkit energi berbahan biogas milik PT Santori, d Bumiaji, Anaktuha, Lampung Tengah. (Foto: Oyos Saroso HN

Oyos Saroso H.N.|Teraslampung.com

LAMPUNG TENGAH — Dilihat dari kejauhan, bangunan instalasi septic tank raksasa yang terbuat dari High Density Polyethylene (HDPE) itu mirip dengan balon raksasa yang ditanam di dalam tanah. Instalasi bangunan berwarna biru itu yang juga tampak terpal raksasa yang menggelembung itu terletak di pusat peternakan sapi milik PT Santosa Agrindo (Santori) di Kampung Bumiaji, Kecamatan Anaktuha, Kabupaten Lampung Tengah.

Memang tak salah, di dalam septic tank raksasa berukuran  90 x 45 meter dengan kedalaman 9 meter itu memang terdapat kotoran sapi, mesin pengolahan kotoran, dan kolam-kolam penyaring kotoran sapi. Di dalam bangunan itu juga terdapat bakteri yang mengurai kotoran sapi menjadi padat dan cair, mengurangi gas metana yang dilepas ke udara. Itulah bangunan yang disebut sebagai Covered In-Ground Anaerobi Reaktor (CIGAR) atau pembangkit energi berbahan biogas milik PT Santori.

Hanya dibatasi oleh jalan raya dengan jarak sekitar 50 meter, di kompleks pusat penggemukan sapi asal Australia itu terdapat sekitar 22 ribu ekor sapi, baik sapi yang baru didatangkan dari Australia maupun sapi yang sudah siap dijual. Kotoran sapi-sapi itulah yang diolah di dalam CIGAR untuk mengurangi dampak emisi gas rumah kaca.

“Instalasi CIGAR ini merupakan bentuk komitmen kami membantu pemerintah mengurangi emisi gas rumah kaca.  Dengan pengoperasian CIGAR ini kami sudah membantu mengurangi emisi gas rumah kaca setara dengan 200  ribu ton karbondiaksida dalam periode sepuluh tahun. Pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 200 ribu ton tersebut itu setara nilainya dengan emisi karbon yang dikeluarkan oleh 35.000 mobil penumpang,” kata Presiden Direktur PT Santori, Samuel Wibisono.

Kotoran sapi yang diolah CIGAR milik PT Santori menghasilkan rata-rata 900 ton gas metana/tahun. Gas metana itulah yang kemudian diolah untuk dapat menghasilkan energi terbarukan setara dengan satu megawatt. Selama ini gas metana yang dihasilkan PT Santori baru dimanfaatkan oleh perusahaan untuk keperluan listrik di lingkungan perusaahaan.

Kotoran sapi dialirkan ke bank penampungan, kemudian dialirkan dengan pipa ke bak penyaringan dan dimasukkan ke 'septic tank' raksasa. (Foto: Oyos Saroso HN).
Kotoran sapi dialirkan ke bank penampungan, kemudian dialirkan dengan pipa ke bak penyaringan dan dimasukkan ke ‘septic tank’ raksasa. (Foto: Oyos Saroso HN).

“Kami sedang mengupayakan ada kerja sama dengan Perusahaan Listrik Negara (PLN) sehingga penduduk sekitar perusahaan juga bisa memanfaatkan biogas yang kami miliki. Selama ini gas metana hanya kami bakar agar tidak terbang bebas ke langit,” kata Wibisono.

Wibisono mengakui pemanfaatan kotoran sapi untuk menjadi sumber energi terbarukan bukan hal baru. Selama ini sudah banyak peternak di Indonesia yang memanfaatkan kotoran sapi untuk menghasilkan energi yang dipakai untuk keperluan sehari-hari.

“Namun pembuatan instalasi pengolahan dalam skala besar dengan memanfaatkan kotoran dari 22 ribu ekor sapi baru kamilah yang melakukan. Sampai saat ini PT Santori menjadi satu-satunya penghasil energi terbarukan yang terdaftar dan diakui oleh United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCC) untuk kategori cattle feedlot animal waste management system improvement,” kata Wibisono.

Government Relation Manager and Business Development PT Santori, Dayan Antoni, mengatakan kotoran sapi dalam jumlah besar jika tidak diolah, maka gas metana yang dihasilkan akan langsung terbang ke udara dan mengganggu lingkungan.

“Dua puluh ekor sapi bisa menghasilkan kotoran 160 ribu kilogram limbah. Limbah sapi itulah yang kemudian disalurkan melalui pipa, disalurkan ke 14 kolam kecil, kemudian diolah menjadi biogas di dalam CIGAR atau digester,” kata Dayan Antoni.

Menurutnya, proyeksi biogas menjadi grand energi listrik ini sudah dimulai pada 2011.

’’Gagasan ini memang sudah lama. Namun, realisasinya baru direncanakan tahun 2011. Feedlot kami di Bekri  bisa menampung 22 ekor sapi, sementara feedlot di Jabung, Lampung Timur berkapasitas 16 ribu ekor sapi. Kalau kotorannya diolah menjadi biogas tentu akan menjadi sumbangan berharga bagi pengurangan dampak rumah kaca. Selain itu, juga bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari,” kata Dayan.

Arrie Setiawan, Project Manager Eco Securities, perusahaan yang membuat dan mengola CIGAR milik PT Santori, mengatakan pengolahan kotoran sapi menjadi biogas sebenarnya cukup sederhana.

“Menjadi tidak sederhana karena jumlah sapi milik PT Santori mencapai puluhan ribu ekor,” kata Arrie.

Setelah dikumpulkan dari setiap kandang, kotoran sapi ini kemudian dipompa dan dialirkan melalui pipa menuju ke sebuah kolam besar (sand trap). Di dalam kolam sand trap itulah pasir dan benda-benda padat yang mengalir bersama kotoran sapi disaring agar hanya kotoran cair yang masuk ke dalam digester atau septic tank raksasa.

“Limbah sapi harus steril dari pasir sehingga yang diambil hanya airnya. Ia menyatakan kotoran sapi mengandung salah satu bahan organik. Organik ini akan dicerna bakteri an aerobic yang pada hasilnya menjadi biogas. Fermentasi ini dilakukan di dalam digester,’’ kata Arrie.

Menurut Arrie, CIGAR milik PT Santori memiliki volume penampungan sekitar 250-300 m3/jam.

“Pengelolaan limbah ini akan menghasilkan gas metan (Ch4). Digester ini ibaratnya septictank yang diatur pengeluaran gas metannya,’’ jelas Arrie .

Reaktor bioagas milik PT Santori di Anaktuha, Lampung Tengah

Setelah biogas terkumpul di dalam digester, petugas kemudian mengukur biogas di dalam blower dan didorong masuk ke flare atau tempat pembakaran.

’’Dengan begitu, gas metan tidak langsung terbang ke udara,” kata dia.

Saat meresmikan CIGAR milik PT Santori, awal Desember 2010 lalu, Ketua Harian Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI), Rachmat Witoelar, memberikan apreasi yang tinggi terhadap upaya mengurangi dampak emisi gas rumah kaca yang dilakukan PT Santori.

“Ini menjadi sebuah cerita menarik tentang upaya kami  mengurangi emisi gas rumah kaca. Pengoperasian CIGAR untuk mengolah kotoran sapi menjadi biogas ini menunjukkan bahwa kita di Indonesia sangat serius melakukan pengurangan emisi gas rumah kaca. Indonesia berharap negara-negara maju, termasuk perusahaan-perusahaan multinasional, untuk membantu dana guna membantu membuat instalasi pembangkit energi yang serupa,” kata Witoelar.

Loading...