Menguras Laut, Meratakan Gunung

  • Bagikan
Guru Besar FKIP Unila, Prof. Dr. Sudjarwo

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial di FKIP Unila

Kedua istilah itu sesuatu yang paradog; karena dua duanya sesuatu pekerjaan yang amat mustahil dilakukan secara harfiah. Namu,  pada cerita epos Ramayana dikisahkan bagaimana tentara kera yang dipimpin oleh Hanoman menguras laut dan meratakan gunung, untuk kemudian menambalnya sehingga dapat dilalui oleh ribuan tentara Sri Ramawijaya untuk mengepung Negara Alengkadiraja tempat bersemayannya raja angkara murka, yaitu Prabu Dasamuka.

Sifat laut (air) selalu mengalir ke tempat yang rendah, dan terus menyeruak mencari celah untuk mengisi ruang ruang kosong yang berposisi rendah, tidak perduli apapun halangannya jika membesar dia menjadi air bah, yang justru membahayakan sekitarnya.

Apa maksud sebenarnya gunung yang akan diratakan ? Itu juga tidak mungkin karena sifat Gunung aktif itu dan terus bertumbuh setiap saat dengan didorongnya lava dari dalam perut bumi yang kemudian mengeras menjadi batu yang ada di atas puncak gunung. Tumbuhnya lava menjadi batu ini setelah dingin, berlangsung sepanjang waktu; tidak peduli malam, siang atau apapun cuaca, dorongan Magma dari kerak bumi yang mendorong menjadi lava dan meleleh ke permukaan kemudian dingin menjadi batu dan pasir.

Dua lambang kebendaan ini adalah simbolisasi dari hasrat dan kehendak manusia yang tidak akan pernah berakhir sampai nyawa berpisah dengan badan. Hasrat yang diwakili oleh Air dan Kehendak diwakili oleh gunung, merupakan kodifikasi dari Sang Khalik kepada kita manusia; manakala kita dikuasai oleh hasrat dan kehendak tanpa pengendalian diri yang baik, tunggu saja kehancurannya.

Lalu apa yang dapat mengendalikan laju keduanya ? Sang Maha Pencipta menitahkan akal budi kepada kita agar digunakan untuk mengendalikan, atau paling tidak mengatur Hasrat dan Kehendak , agar tidak semaumaunya melabrak, karena dikhawatirkan justru karena over keduanya membuat kehancuran dunia.

Mari kita bumikan pemikiran filsafat di atas: karena ditumburkannya hasrat dan kehendak, maka ada gerai makanan terkenal di kota ini harus ditutup oleh penguasa. Saling-silang pendapat terjadi, bahkan memimjam istilah Heri Wardoyo, cara-cara Khmer Merah dilakukan dengan berlindung di belakang punggung karyawan, agar kerajaan bisnisnya selamat dari hukum pengemplangan pajak. Demi mengejar hasrat dan kehendak sampai sampai terlalu jumawa meletakkan pajak akherat sebagai kuwajiban agama ditindihkan dengan kewajiban sebagai warganegara kepada negaranya. Entah dalil dari mana ini dipakai, sementara belum ada ahli hukum formal yang melakukan cara tafsir demikian. Kalaupun ada, itu mungkin baru wacana yang masih bebas untuk diperdebatkan; atau mungkin ada ajaran agama baru yang kita tidak tahu.

Hasrat dan kehendak merupakan pasangan dorong dan tarik yang terus menerus ada selama kehidupan berlangsung, dan makna keduanya secara definisi operasional sering disamarkan. Oleh karena itu manakala keduanya menyatu; maka kekuatan dahsyat akan muncul, terlepas apakah bersifat konstruktif atau destruktif. Sebagai contoh; tidak terbayangkan di Republik ini pernah terjadi korupsi berjamahaan yang melibatkan pimpinan tinggi lembaga perwakilan rakyat dengan nilai fantastis yaitu triliunan rupiah. Ditambah lagi ada menteri, gubernur, jaksa, bupati dan entah apalagi jabatannya; yang dengan gagah berani menjadi Panglima Hasrat dan Kehendak untuk melanggengkan keberadaannya mengangkangi dunia. Jika para syuhada yang telah bergalang tanah dalam merebut dan mempertahankan negeri ini dari penjajah mendengar, mungkin tangis mereka akan memekakkan telinga isi negeri ini.

Peraturan bahkan perundang-undanganpun dibuat, inti pokoknya adalah mengatur penyaluran hasrat dan kehendak yang ada pada diri manusia. Hasrat yang pemenuhannya ingin berulang ulang, sering membuat hak orang lain dilanggar. Dengan demikian, tidak salah jika sekalai tidak terungkap penyimpangannya; maka manusia ingin mengulangnya lagi. Jadi tidak mustahil penumpukkan penyimpangan pajak contohnya, cenderung selalu berulang dan besar pada akhirnya. Sementara hasrat ini akan terus muncul jika kenikmatan akibat pemenuhan dari yang dilakukan menimbulkan kenikmatan, sehingga kehendak untuk memenuhinya selalu ada, dan merasa tidak nyaman jika tidak memenuhi kehendak tadi.

Oleh karenanya,  pembelaan akan kesalahan diri saat memenuhi hasrat dan kehendak sering memutus urat malu yang bersangkutan. Sehingga, sudah salah pun masih berucap menjadi benar. Padahal, benar itu hanya seolah-olah, bukan kebenaran hakiki miliknya. Di sini peran akal budi sebagai pemandu hati. Maka kita diwajibkan untuk berdoa kepada Sang Khalik untuk menetapkan hati kita selalu istiqomah, karena hanya Sang Khalik-lah yang berkendak untuk membolakbalikkan hati ciptaan-Nya.

Sisi lain yang harus disadari bahwa hasrat dan kehendak itu pada  hakikatnya diberikan Tuhan agar manusia memiliki dorongan usaha untuk mengubah nasibnya, bersama doa. Manakala ketiganya dijalankan secara benar, ada kuwajiban lain yang menunggu yaitu bersyukur. Jadi pengingkaran akan rahmat yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia, dalam bentuk apa pun, (termasuk pengemplangan pajak, di antaranya); sebenarnya ada pelanggaran hakekat ketuhanan di sana, bagi orang yang menyadari akan karunia keilahian.

Sekarang kembali kepada kita semua sebagai manusia, apakah masih berkeinginan menguras laut dan meratakan gunung; atau berusaha mensyukuri dengan tetap berdoa dan berusaha dalam batas kemampuan sebagai manusia. bukankah kita ini diciptakan bukan malaikat dan juga bukan setan.***

 

  • Bagikan