Menikmati Macet Total di Taman Nasional Way Kambas

  • Bagikan
Kemacetan di jalan menuju Taman Nasional Way Kambas. (Foto: Ratna Juwita)

Ratna Juwita

Minggu, 13 November 2016. Sama sekali tidak terpikir untuk berangkat pagi, tersebab biasanya saya masuk ke Pusat Konservasi Gajah Taman Nasional Way Kambas (TNWK) siang atau jelang sore. Dengan waktu tempuh dari rumah yang hanya sepeminum teh, saya sering memilih menikmati langit sore di sana, serta biasanya duduk-duduk di pinggir kolam menunggui aktivitas gajah-gajah mandi sore sebelum mereka pulang ke ‘rumah’.

Karena belum ada waktu luang, saya menjenguk Festival Way Kambas 2016 pada hari ketiga, Minggu 13 November. Itu merupakan hari terakhir event, dengan minat utama ingin ikut acara Pesta Buah. Kesalahan saya adalah tidak up date situasi terkini, sehingga saya dan keluarga berangkat sekira pukul 11.00.

Adik saya sudah mengabarkan bahwa jalan masuk lewat gerbang utama penuh sesak oleh kendaraan, maka saya putuskan masuk lewat Desa Labuhan Ratu VI. Sampai ujung jalan desa perjalanan lancar, namun hanya berselang beberapa menit, begitu masuk ke jalan TNWK kami sudah terjebak kemacetan yang mengular sekira 7-10 km.

Sampai pukul 15.00, kami masih di sana. Macet total. Maju tak bisa, balik mundur juga tidak k mungkin. Ada tiga jalur kendaraan menuju arah masuk, dan satu jalur keluar. Itu pun sempit, hanya cukup untuk sepeda motor. Infonya, kantong parkir di dalam TNWK sudah penuh, sementara kendaraan yang mau masuk masih berbaris sangat panjang. Kendaraan roda empat yang akan pulang harus terhenti, sebab jalur keluar tertutup habis.

Ini cara lain menunggu kemacetan di Taman Nasional Way Kambas: menggelar tikar di tepi hutan sembari beristirahat. Foto: Ratna Juwita
Ini cara lain menunggu kemacetan di Taman Nasional Way Kambas: menggelar tikar di tepi hutan sembari beristirahat. Foto: Ratna Juwita

Terjebak kemacetan itu sangat tidak enak, tapi beberapa pengunjung memiliki cara unik melewatinya. Semisal menggelar tikar dan membuka bekal makan di bawah rimbun pepohonan. Ada yang memasang hammock di pinggir jalan dan tidur-tiduran seperti tak terganggu keramaian. Bahkan ada seekor monyet yang melompat masuk ke sebuah mobil pengunjung. Kabarnya, Bupati Lampung Timur, Ibu Chusnunia sampai harus berjalan kaki untuk keluar dari lokasi.

Berkali-kali saya bertemu kenalan, teman dan saudara. Namun mereka terjebak di arus jalan pulang. Semua mengingatkan agar saya balik arah saja. Kalau memaksa masuk, bisa sampai magrib atau malah subuh, katanya. Tapi kepalang tanggung, sudah macet 5 jam, jadi kami putuskan melanjutkan perjalanan.

Dan benar, mobil kami masuk area parkir sudah menjelang magrib. Langit temaram. Lampu-lampu dinyalakan. Pengunjung masih penuh, kendaraan masih mengular menuju arah pintu keluar. Kami sangat kelelahan. Mengitarkan pandang ke sudut-sudut, sebagian pedagang mulai membereskan dagangan.

Pengeras suaradari posko panitia berulang-berulang mengabarkan perihal ditemukannya seorang anak usia tiga tahun, dan terlihat seorang ibu berlari tergopoh-gopoh menuju posko. Sempat ku tengok, bak sampah cantik warna merah dan kuning kosong, namun sampah justru berserakan di sekeliling bak dan area pengunjung. Sudah tak ada gajah-gajah mandi, tak ada ilalang dan langit sore. Perut lapar. Akhirnya kami menuju warung soto di belakang mushola. Dan langsung pulang.

Gerbang Pusat Konservasi Gajah Taman Nasional Way Kambas (Foto: Ratna Juwita)
Gerbang Pusat Konservasi Gajah Taman Nasional Way Kambas (Foto: Ratna Juwita)

Perjalanan terhebat saya hari ini: enam jam untuk semangkok soto. Tapi tak apalah, setidaknya tak harus menunggu sampai lebaran kuda.

Apresiasi saya untuk Pemerintah Kabupaten Lampung Timur, yang sudah sukses melaksanakan even tahun ini. Rasanya ini yang termeriah dan mampu menyedot pengunjung hingga sedemikian. Berharap tahun tahun ke depan lebih baik lagi, catatan tebal saya untuk penanganan sampah dan membludaknya pengunjung.

Taman Nasional Way Kambas yang sejak Juli 2016 ditetapkan sebagai ASEAN Haritage Park. Semoga akan lebih memberi manfaat dan membanggakan, untuk Indonesia dan masyarakat Bumei Tuwah Bepadan, khususnya.

  • Bagikan