Beranda News Wisata Menikmati Musim Durian Berbonus Eksotisme Air Terjun Cikawat Tahura Wan Abdul Rachman

Menikmati Musim Durian Berbonus Eksotisme Air Terjun Cikawat Tahura Wan Abdul Rachman

314
BERBAGI
Alumni Faperta Unila 1984 menikmati eksotisme Air Terjun Cikawat di Tahura Wan Abdul Rachman (Foto: Batin Herman Mangku)

Herman Batin Mangku*

Keindahan Taman Hutan Raya (Tahura) Wan Abdul Rachman hingga saat ini seperti permata terpendam di Provinsi Lampung. Ada belasan air terjun indah dalam kawasan tersebut. Hanya sebagian kecil saja warga Lampung yang tahu bahwa di kasawan pinggir Kota Bandarlampung itu ada surga sembunyi.

Ikatan Faperta Unbersila Lampung (IFU) 1984 menguak salah satu air terjun yang masih “perawan”, yaitu Air Terjun Cikawat.

Seperti slogan pariwisata Lampung, “The Treasure of Sumatra”, rombongan IFU ’84 tak sengaja ” menguak” salah satu keindahan alam air terjun Cikawat dalam kawasan Tahura Wan Abdul Rachman, Kabupaten Pesawaran.

Berawal dari gagasan Ir. Samsul Arifin, S.H., M.H., sebagian alumni IFU ’84 kumpul Minggu (28/1/2018), pukul 08.00 WIB. Tujuannya cuma satu, yakni para alumni menikmati durian di kawasan perkebunan pinggiran Kota Bandarlampung.

Saat ini, durian sedang berbuah lebat. Para pedagang berbaris di beberapa ruas jalan di perbukitan sisi barat Kota Bandarlampung, kawasan yang berbatasan dengan Tahura Wan Abdul Rachman, Kabupaten Pesawaran.

Rombongan masuk kawasan perkebunan durian lewat jalan persimpangan dekat Taman Bumi Kedaton milik mantan gubernur Lampung Sjachroedin ZP, Jl. WA Rachman, Batuputu, Telukbetung Utara, Kota Bandarlampung.

Begitu masuk jalan tersebut, rombongan melalui jalan aspal naik-turun bukit. Di sepanjang jalan yang menuju kawasan Tahura Wan Abdul Rachman, sepeda motor berbagai merk dan CC yang dimodif ala trail berseliweran.

Di kiri-kanan sepeda motor yang rata-rata tanpa plat kendaraan, ada kantong besar banyak yang memuat durian. Mereka naik-turun bukit dan pegunungan mengangkut durian, manggis, dan berbagai hasil perkebunan lainnya.

Sekitar 5 Km, rombongan sampai di ujung aspal. Kendaraan beruntung karena jalan tanah keras bebatuan kering, tak basah oleh hujan. Tak lama kemudian, rombongan berhenti untuk menikmati durian di bawah pepohonan durian dan manggis.

Ternyata, lokasi pemberhentian rombongan sudah di Desa Talangmulya, Kecamatan Telukpandan, Kabupaten Pesawaran. Sambil menikmati durian, masyarakat setempat yang jadi pemandu mulai menggoda rombongan.

Dia bilang 300-an meter ketemu jalan besar yang baru dibuka Gubernur Ridho Ficardo menuju lokasi teropong bintang dalam kawasan Tahura Wan Abdul Rachman. Jalan menuju lokasi teropong bintang, pemandangannya Teluk Lampung.

Rombongan ragu soal 300 meter. Ada yang berseroloh khawatir 300 meternya versi masyarakat pedesaan, jauh. Rombongan akhirnya memutuskan coba-coba. Siapa tau habis menikmati durian membawa pulang kenangan kawasan Tahura Wan Abdul Rachman.

Sesampainya di jalan tanah selebar 12-an meter menuju lokasi teropong bintang yang baru dibuka Gubernur Lampung Ridho Ficardo, pemandu kembali menggoda untuk melihat air terjun Cikawat.

Kembali, ada yang ragu-ragu soal jarak. Maklum, dari jalan yang baru dibangun tersebut, rombongan harus menyelusuri jalan setapak di antara kawasan hutan yang sudah banyak ditanami durian, kopi, dan berbagai tanaman perkebunan lainnya.

Di antara tanaman perkebunan tersebut, masih tersisa pohon penghijauan. Rombongan yang tak terbiasa berjalan naik-turun perbukitan nyaris menyerah di tengah perjalanan. Namun, pemandu selalu bilang : tak jauh lagi.

Setengah putus asa, setelah berjalan hampir 1,5 km, semak-semak sudah menyentuh kaki, jalan setapak hampir tak tampak lagi, rombongan akhirnya berjumpa dengan lembah air terjun Cikawat.

Terbayar sudah, jalan kaki menyelusuri jalan setapak naik-turun perbukitan Tahura Wan Abdul Rachman. Air jernih dari mata air pegunungan terjun sekitar 30-an meter. Suasana sekitar air terjun masih sangat alami. Tampaknya, tak banyak orang yang berkunjung ke air terjun ini.

Air terjun Cikawat, salah satu potensi wisata kawasan Tahura Wan Abdul Rachman. Di kawasan ini, ada belasan air terjun, termasuk Cikawat yang belum banyak diketahui masyarakat.

Airnya, selain jernih, juga sangat dingin. Di lembah air terjun tersebut, rombongan serasa di ruang AC. Rasanya ingin berlama-lama menikmati suasana alami lembah Cikawat.

Di kawasan Tahura Wan Abdul Rachman, selain Cikawat, ada belasan air terjun. Dari belasan air terjun tersebut, ada tujuh air terjun yang mulai banyak dikunjungi pecinta alam dan wisatawan.

Ketujuh air terjun yaitu air terjun Sinar Tiga yang memiliki ketinggian 70 m dengan lebar 6–10 m, air terjun Gunung Minggu yang digunakan oleh pengunjung sebagai shower alam, air terjun Talang Rabun memiliki tinggi 30 m, air terjun Tanah Longsor 35 m, air terjun Penyairan 35 m, air terjun Bidadari 20 m, dan air terjun Talang Mulya 30 m.

Air terjun lainnya, yakni air terjun Gunung Tanjung, Batu Lapis Mata Dewa, Pelangi, Batu Perahu, Kupu Jambu, Tawon, Way Awi, Way Ngeluh dan air terjun Sungai Langka.

Tahura Wan Abdul Rachman yang memiliki luas: 22.249,31 Ha adalah salah satu dari 14 Tahura di Indonesia. Ditetapkan sebagai Tahura Wan Abdul Rahman berdasarkan SK Menhut No. 408/Kpts-II/93 dikelola oleh Pemerintah Daerah Provinsi Lampung sesuai UU No. 22 tahun 1999, PP No. 25 Th. 2000, Keputusan Menhut No. 107/Kpts-II/2003 serta Keputusan Gubernur Lampung No. 03 tahun 2003.

Sekitar 80 % luas hutan Tahura Wan Abdul Rachman berada di Kabupaten Pesawaran, 15 km dari kota Bandarlampung.

Ada 47 titik pemukiman di Tahura WAR. Sensus 2002 menunjukkan 23.489 KK tinggal di dalam hutan. Salah satu yang menarik perhatian para wisatawan adalah keindahan yang disuguhkan oleh air terjun di kawasan ini.

Rombongan alumni IFU ’84 tak sengaja membawa kenangan indah dari salah satu air terjun yang masih “perawan” : Cikawat. Ada juga yang membawa pulang durian yang jatuh dari pohon di tepi jalan setapak menuju Cikawat.

Jalan yang baru dibangun menuju kawasan teropong bintang bakal menguak banyak pertama wisata di kawasan Tahura Wan Abdul Rachman. Trimakasih Pak Ridho. “The Treasure Sumatra”.

*)jurnalis.

Loading...