Beranda Views Opini Menikmati “Nasehat Lebah” Karya Indra Intisa

Menikmati “Nasehat Lebah” Karya Indra Intisa

580
BERBAGI
Oleh Sukur Budiharjo*
Saya awali tulisan ini dengan
mengutip pendapat Maman S Mahayana, pengajar FIB Universitas Indonesia, yang
mengatakan bahwa buku-buku pelajaran sastra di sekolah telah menciptakan
pandangan sesat tentang tradisi perpuisian Nusantara. “Pantun dan syair
diajarkan sekadar ciri-cirinya belaka dan tidak menempatkannya sebagai kekayaan
intelektual bangsa ini. Akibatnya perjalanan perpuisian Indonesia seolah-olah
terdiri dari puisi lama (tradisional) dan puisi baru (modern). Itulah pandangan
sesat yang lain. Jadi, wahai para pengamat sastra Indonesia, kembalilah ke
jalan yang benar!” kata Maman S Mahayana di penghujung esainya (“Dinamika
Pantun dan Syair”, Kompas, 29 Mei 2015, halaman 27).
Kritik Maman S Mahayana tersebut
layaknya menjawab berbagai sinyalemen yang mengatakan bahwa puisi lama telah
mati atau nyaris menjadi fosil sastra penghuni museum yang sekadar layak
diziarahi. Padahal, karya-karya sastra puisi lama yang beragam bentuknya itu
tentu saja akan senantiasa hidup sepanjang masa jika kita kreatif memberikan
muatan-muatan yang kontekstual dengan kehidupan zaman (yang kini tengah berada
di abad informasi dan serba digital).
Buku-buku pelajaran Bahasa
Indonesia tempo doeloe ternyata memberikan andil yang tidak kecil dalam memutus
mata rantai perjalanan karya kreatif puisi bangsa ini. Sebutlah buku Puisi Lama
karya Sutan Takdir Alisyahbana dan Kesusasteraan Indonesia Lama karya Zuber
Usman. Kedua buku ini menjadi buku babon dalam pengajaran sastra, baik di
sekolah menengah maupun di perguruan tinggi.
Saya sependapat dengan Maman S
Mahayana. Sebab, pantun dan syair, misalnya – yang terlanjur dikelompokkan
sebagai puisi lama – hingga kini masih ditulis oleh siapa pun penyukanya. Salah
satunya adalah Indra Intisa, penyair yang lahir 27 September 1984 di Jambi ini.
Dari tangannya telah hadir buku Manuskrip Puisi Lama: Nasehat Lebah (Bandung:
Penerbit Asrifa, tanpa tahun, viii + 90 halaman).
Dari buku kumpulan puisi ini,
kita akan memperoleh vitamin rohani dan nyamikan batin yang mampu meningkatkan
kualitas akhlak dan budi pekerti. Sebab, sesuai dengan judulnya, puisi-puisi
yang tergelar di dalam buku kumpulan puisi ini layaknya berisi nasihat. Ini
dikemas dalam puisi syair (17 buah), gurindam (7 buah), pantun (8 buah), talibun
(5 buah), karmina (4 buah), seloka (4 buah), dan mantra (4 buah). Seluruh puisi
merupakan karya orisinal penyair Indra Intisa, bukan karya puisi yang sekadar
mengutip-ngutip puisi karya anonim yang layaknya banyak kita temukan di dalam
buku-buku pelajaran atau buku kumpulan puisi lama yang sudah ada.
***
Marilah kita nikmati puisi “Syair
Nasihat Dunia dan Akhirat” (hlm. 16) yang mengingatkan kita agar senantiasa
mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya dalam menjalani kehidupan di dunia dan
tidak melupakan kehidupan akirat. Berikut ini puisi tersebut.
SYAIR NASEHAT DUNIA DAN AKHIRAT
Jika lupa terhadap akhirat
Alamat diri takkan selamat
Cinta dunia jadikan sesat
Sehingga diri suka bersiasat
Kejar dunia demi harta
Silaunya dunia indah di mata
Kejar jabatan demi penjara
Alamat badan akan celaka
Kita nikmati puisi gurindam
“Nasehat Harta” (hlm. 42) yang mengajak kita agar tidak kemaruk terhadap harta.
NASEHAT HARTA


Banyak harta malas sedekah
Tentu dirimu akan serakah
Jika berdagang suka menipu
Bagaikan badan tidak berbaju
Jika harta ingin berkat
Jangan lupa segera berzakat
Berbuat curang karena harta
Kelak diri masuk neraka
Jika berdagang haruslah jujur
Kelak dirimu selalu mujur
Mengambil untung janganlah besar
Supaya harta tidak tercemar
Tentu tidak afdal jika kita
melewatkan puisi “Karmina Rukun Islam” (hlm. 70). Sebab, kaum muslimin
senantiasa diwajibkan untuk mengamalkan Rukun Islam secara konsisten. Berikut
ini puisi selengkapnya.
KARMINA RUKUN ISLAM
Tali pengikat kotaknya sama
Mengucap sahadat aalah pertama
Celana ditambal berbaju lusuh
Shalat ditinggal agama pun runtuh
Susun barisan menjadi tertib
Puisi ramadhan adalah wajib
Tongkat patah penyebab buta
Zakat fitrah pencuci harta
Ayam kelana kaki bertaji
Amalan sempurna adalah haji
Atau puisi “Mantra Pengusir Setan
Malas” (hlm. 84) berikut ini, yang secara substansial menyodorkan ketauhidan
Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

MANTRA PENGUSIR SETAN MALAS
Hai jin tanah
Jin kayu
Jin sungai
Jin laut
Dan jin segala jin
Pergilah engkau dari hati
Jika gaib kembali gaib
Ini pusaka bukan sembarang pusaka
Pusaka diisi dengan mantra
Jika kutiup kembali rahmat
Bismillahhirrahmanirrahim
Puah … Puah
Demikianlah. Meskipun menggunakan
merk lama, puisi-puisi dalam kumpulan puisi ini mampu menghadirkan aroma dan
cita rasa baru. Sebuah kekayaan intelektual yang layak kita resepsi dengan
sepenuh hati.
Cibinong, 28 Juni 2015

* Guru, tinggal Cibinong
Loading...