Beranda Views Opini Menjaga Zakat dari Sifat Riya’

Menjaga Zakat dari Sifat Riya’

1119
BERBAGI

Gunawan Handoko*

Bulan Ramadhan yang penuh hikmah dan ampunan dari Allah Ta’ala akan segera meninggalkan kita. Salah satu di antara sekian hikmah dan rahasia ibadah puasa adalah memupuk semangat solidaritas, persamaan derajat, kasih sayang, kepedulian sesama dan kesetiakawanan sosial. Selain kewajiban berpuasa, umat muslim yang berharta juga diperintahkan untuk membayar zakat fitrah, infak dan sedekah serta amal kebajikan lainnya. Maka ketaatan dan kepatuhan seorang muslim dalam menjalankan ibadah puasa dapat di ukur di penghujung bulan ini, sejauh mana dirinya menunjukkan kepedulian terhadap kaum du’afa dengan  membuang jauh-jauh sifat bakhil.

Nyatanya, di penghujung Ramadhan masih banyak kaum muslimin yang belum atau tidak ikhlas menyisihkan hartanya sedikit saja untuk diserahkan kepada badan Amil, guna meringankan beban kaum du’afa. Yang terjadi justru sebaliknya, banyak diantara mereka yang membawa zakat fitrah dan sedekahnya pulang mudik ke kampung halaman, sekaligus sebagai upaya untuk mendapat pengakuan dengan menunjukkan jati diri sebagai orang yang telah sukses dan berhasil selama di kota.

Celakanya, banyak diantara pemberi zakat (muzakki) yang ’memperlakukan’ zakat sebagaimana halnya infak dan sedekah. Menurut terminologi syariat, zakat adalah nama bagi sejumlah harta tertentu yang telah mencapai syarat tertentu yang diwajibkan oleh Allah untuk dikeluarkan dan diberikan kepada yang berhak menerimanya dengan persyaratan tertentu pula. Antara makna secara bahasa dan istilah berkaitan erat sekali, yaitu bahwa setiap harta yang sudah dikeluarkan zakatnya akan menjadi suci, bersih, baik, berkah, tumbuh, dan berkembang ( QS. At-Taubah: 103 dan Ar-Rum: 39).

Inilah tantangan lembaga Amil untuk secara terus-menerus menyadarkan masyarakat agar bersedia membayar zakat melalui lembaga Amil. Tidak mudah memang, mengingat mereka yang memilih untuk membayar dan menyalurkan zakat sendiri, rata-rata bukanlah masyarakat yang awam tentang syariat, justru sebaliknya mereka adalah kelompok yang paham tentang hal yang satu ini.

Pembayaran Zakat di zaman Rasulullah SAW

Pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat, tidak pernah terjadi pemberian zakat dari muzakki langsung kepada penerima atau mustahiq, melainkan disalurkan melalui badan amil yang dibentuk oleh Imam (pemerintah). Hal tersebut sesuai dengan firman Allah Ta’ala dalam Surah at-Taubah ayat 103 tentang perintah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memungut zakat.

Maka jelas, dengan membayar Zakat (termasuk infaq dan sedekah) melalui amil, selain menjalankan petunjuk Alquran, sunah Rasullullah dan para sahabat serta para tabi’in, juga untuk menjaga adanya beban moral maupun perasaan rendah diri para mustahiq, karena harus berhadapan langsung pada saat menerima zakat dari para muzakki. Dan yang paling penting adalah untuk menjaga timbulnya sifat ’riya’ bagi para muzakki, ketika menerima sanjungan dari para mustahiq atas kedermawannya.

Jika hal ini sampai terjadi, maka sia-sialah amal kebajikan kita di mata Allah. Dalam menunaikan zakat, infaq dan sedekah hendaknya kita ikhlas untuk menyerahkan pengelolaannya kepada lembaga amil, tanpa harus berpikir siapa orang yang bakal menerimanya nanti. Zakat adalah untuk membangun kesholehan individu, strategi muroqobah seorang hamba dengan Tuhannya, menambah kecerdasan dan kesalehan sebagai makhluk sosial.

Berzakat bukan sekedar menjalankan perintah agama, tetapi juga menunjukkan kepedulian sosial kepada mereka yang membutuhkan. Sebaliknya, siapa saja yang tidak mengeluarkan zakat maka sungguh dia telah terjatuh ke dalam dosa yang sangat besar, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam QS. At-Taubah : 34-35. Salah satu pintu yang dibuka oleh Allah Ta’ala untuk meraih keuntungan besar dari bulan Ramadhan adalah melalui sedekah.

Ramadhan juga mengajarkan kepada umat muslim untuk melaksanakan ibadah sosial, sebagai sarana untuk meningkatkan rasa kasih sayang, persamaan derajat dan solidaritas sosial. Dengan hikmah dan rahasia Ramadhan, manusia dituntut untuk dapat merasakan kesedihan saudara-saudara kita yang masih di timpa rasa lapar dan dahaga, karena mereka tidak dapat makan dan minum senikmat kita. Maka kita dituntut untuk dapat menghilangkan atau paling tidak mengurangi sifat kikir atau bakhil. Selanjutnya akan tumbuh sifat kedermawanan dan empati untuk berbagi kepada kaum du’afa disekitar kita dalam rangka untuk meraih kemuliaan dihadapan Allah Ta’ala.

Saatnya kita untuk berani membuang pemahaman atau nafsu yang salah dengan memandang harta benda sebagai ’simbol kehormatan’ atau derajat sosial. Nafsu inilah yang telah mengalahkan keimanan dan ketaqwaan sebagian umat muslim dalam mengelola hartanya. Akibatnya banyak yang terlena dalam mengejar harta dan kekayaan serta melupakan kewajiban yang menjadi perintah-Nya. Masih banyak umat Islam yang beranggapan bahwa harta yang dimiliki merupakan hasil jerih payah diri pribadi, tanpa adanya campur tangan Allah.

Meski firman Allah sudah sangat jelas bahwa harta yang kita miliki adalah ’titipan Allah’, pada kenyataannya tidak mampu mengalahkan sikap kikir dan bathil serta ego yang melekat pada sebagian umat Islam. Itulah sebabnya, banyak diantara mereka (kaum kaya) yang tidak dapat menikmati kekayaannya karena dirinya telah dikendalikan harta.

Semoga Ramadhan tahun ini mampu mempertebal keyakinan kita untuk kembali pada tuntunan Allah, bahwa menjadi satu kewajiban bagi seorang muslim yang diberikan kelebihan harta untuk berbagi kepada kaum dhuafa. Sehingga kewajiban berzakat pun menjadi salah satu pilar dalam rukun Islam. Dua hal penting dalam berzakat, yakni membangun kesholehan individu, strategi muroqobah seorang hamba dengan Tuhannya dan menambah kecerdasan serta kesalehan sebagai makhluk sosial yang berbagi peduli dengan lingkungan dan kaum yang belum beruntung.

Dengan memberanikan diri menafkahkan sebagian harta yang dititipkan Allah, pada akhirnya kita mampu merasakan tarikan magnet dan gravitasi nikmatnya bersedekah. Karena sesungguhnya ketaatan dan kepatuhan seorang muslim dalam menjalankan ibadah puasa dapat diukur sejauh mana dirinya menunjukkan kepedulian terhadap kaum du’afa dengan membuang jauh-jauh sifat kikir atau bakhil. Kesediaan melakukan pengorbanan untuk orang lain haruslah didasari demi mengharapkan keridaan-Nya.

Sesungguhnya harta kita yang abadi adalah yang telah kita sedekahkan di jalan Allah dan menjadi simpanan di akhirat nanti. Selebihnya, merupakan milik Allah yang dititipkan kepada kita untuk dibelanjakan dengan baik sesuai dengan tuntunan-Nya. Dengan berinfaq dan bersedekah, semoga akan menyempurnakan ibadah puasa yang kita laksanakan dan menghantarkan kita untuk menggapai maqam tertinggi dihadapan-Nya sebagai hamba yang menyandang derajat muttaqin.

Wallahu a’lam bis showab, Minal Aidin wal Faizdin 1438 Hijriah.

*Pengurus IPHI (Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia) Rajabasa Bandarlampung

Loading...