Beranda Views Kisah Lain Menjenguk Padepokan Prabowo

Menjenguk Padepokan Prabowo

204
BERBAGI
Ana
Mustamin*
Prabowo (dok Kompas/Uniadhi Agung)

KAMIS
14 Maret 2013, saya berkesempatan melongok kediaman Prabowo Subianto, mantan
menantu Presiden Soeharto dan calon presiden RI untuk periode 2014-2019.
Kesempatan itu datang atas ajakan Perhumas (Perhimpunan Humas) Indonesia,
melalui kegiatan “Forum Pemimpin dan Pengusaha” bertema “Tantangan Masa Depan
Indonesia”.
Meski
sejak awal saya mencium aroma kampanye di balik kegiatan ini, saya putuskan
untuk hadir. Pertama, tentu untuk kepentingan networking. Saya pasti ‘reuni’
dengan sesama mantan pengurus Badan Pengurus Pusat (BPP) Perhumas. Kedua, harus
diakui, apapun yang pernah berhubungan dengan sosok Presiden Soeharto, apalagi
di lingkar dalam keluarga besar, tetap merupakan magnet yang memicu rasa ingin
tahu. Terlepas dari saya suka atau tidak suka jika Prabowo menjadi calon
presiden Indonesia nantinya.
Rumah
mantan Danjen Kopassus yang saya maksud itu terletak di Bukit Hambalang, Desa
Bojong Koneng, Kabupaten Bogor. Untuk bisa mencapai tempat itu, selepas pintu
tol Jagorawi keluar Sentul City, Anda harus menempuh jalan berkelok.
Pemandangan di kiri-kanan jalan hanya kehijauan, mengingatkan saya pada lagu
anak-anak “naik-naik ke puncak gunung”… serasa piknik aja rasanya! Oya, sekadar
info, saya tidak membawa mobil pribadi ke sini. Mobil diparkir di sebuah areal
pompa bensin yang sudah tidak terpakai di kawasan Sentul City. Lalu dari situ,
panitia sudah menyiapkan bus.
Mendekati
kediaman Prabowo, panitia membaca pengumuman yang membuat saya senyum kecut.
Tamu tidak diperkenankan membawa peralatan elektronik masuk ke kediaman
Prabowo! Tidak handphone, iPad, apalagi kamera. Di pintu masuk penjagaan yang
dilengkapi metal detector, saya lebih surprise lagi. Tas jinjing saya pun tidak
diperkenankan dibawa masuk. Praktis saya hanya boleh membawa kartu pengenal dan
undangan. Benar-benar mati gaya deh! Saya pernah masuk ke Istana Presiden yang
di Medan Merdeka Barat. Saya juga pernah masuk ke Istana Bogor. Tapi saya boleh
membawa handphone!
Meski
nggerundel dalam hati, saya menghibur diri. Kedua istana yang saya sebut di
atas itu istana rakyat. Wajar saja kalau saya boleh masuk membawa hp, kamera,
dan tas. Lha, yang ini? Ini istana pribadi, neng!
Acara
yang dirancang oleh organisasi yang menyebut dirinya Indonesia-Asia Institute
molor hampir satu jam. Celaka dua belas. Saya banyak janji. Anak saya di rumah
sedang sakit. Tapi saya tidak bisa menghubungi mereka. Dan tidak bisa keluar
dari tempat ini kecuali nekad jalan kaki hingga ke Sentul City.
Sambil
menunggu, saya sempat keluar pendopo. Alasan utama sih ke rest room. Tapi
sebetulnya sambil mata jelalatan. Rumah yang oleh Prabowo disebut padepokan ini
konon berdiri di atas areal seluas 5 hektare. Dibuat berteras, mengikuti kontur
perbukitan. Saya tidak tahu persis ada berapa buah bangunan di situ. Tapi
bentuknya jelas mengadopsi arsitektur Jawa. Didominasi kayu dan batu merah.
Lalu, di luar, dari jendela mobil tadi, mata saya menangkap sebuah helipad –
sekaligus menjawab rasa penasaran saya: apa Prabowo gak pegal bolak-balik ke
sini? Padepokan ini juga dilengkapi istal – sang jenderal sangat hobi berkuda
rupanya, dan (konon) juga kolam renang – karena saya gak sempat melihat
letaknya di mana. Di halaman, rumput tertata dengan asri, dilengkapi jajaran
pepohonan pinus.
Saat
menyampaikan orasi, Prabowo berkisah mengapa ia membangun padepokan di atas
bukit. Menurutnya, meski ia berdarah campuran Sulawesi dan Jawa, dia dibesarkan
dengan tradisi dan pemikiran Jawa. Di Jawa, jika seorang kesatria sudah tidak
dibutuhkan atau digunakan oleh rakyat, maka ia harus naik gunung, lengser
keprabon madhep pandhito – bersemedi atau bertapa mencari kesempurnaan hidup,
untuk kemudian turun gunung lagi pada saatnya nanti.
Di
padepokan itu, Prabowo yang hobi beladiri melakukan sejumlah kegiatan, melatih
pemuda olahraga pencak silat, berkuda (ssttt…konon ia punya ratusan kuda
Lusiano – kuda asal Eropah yang mahalnya minta ampun), bertani, dan memelihara
berbagai ternak.
Sampai
di sini, saya hanya bisa jadi pendongeng. Karena sekali lagi, saya tak punya
bukti foto-foto (nyesekkk lho rasanya, karena di tas saya ada kamera dan iPad).
Pidato Prabowo tidak  terlalu istimewa buat saya. Pidato yang sudah sering saya
dengar dari mereka yang berkeinginan memimpin negeri ini. Kunjungan ke kediaman
Prabowo diakhiri dengan foto bersama. 

Saya bersalaman dengan orang yang pernah
memiliki ‘kekuasaan sangat besar’ di mata saya yang pernah jadi aktivis di
kampus. Prabowo tersenyum, senyum ala kadarnya. Seusai itu, saya teringat tas
saya yang dititip ke penjaga, dan kemudian hanya bisa membatin, “katanya mau
dekat dengan wong cilik…”!***

Catatan kaki:
Berdasarkan tanggapan dan informasi Partai Gerindra di kolom
komentar, Prabowo Subianto memiliki kuda jenis Lusiano kurang dari 10 ekor,
yang digunakan untuk latihan para atlet berkuda Indonesia. Dengan demikian,
kata ‘konon’ dalam tulisan di atas sudah mendapatkan kejelasan. Terima kasih, Gerindra.

* Ana Mustamin adalah seorang cerpenis, bekerja di AJB Bumi Putera 1912. Tulisan ini pernah dimuat di Kompasiana, dimuat di teraslampung.com atas persetujuan penulisnya.

Loading...