Beranda Seni Sastra Menolak Denny J.A.

Menolak Denny J.A.

157
BERBAGI

Oyos Saroso H.N.*

Tidak ada buku sastra di Indonesia yang begitu diluncurkan langsung menghentak dan menjadi perbincangan publik seperti buku 33 Tokoh Sastra Indonesia yang Paling Berpengaruh.

Berkembangnya media baru—dengan kecanggihan aneka gadget dan media sosial—memungkinkan yang selama ini bukan penikmat sastra ambil bagian.

Hanya beberapa menit setelah diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Cikini, Jakarta, Jumat dua pekan lalu (3/1/2014), publik luas menjadi tahu ada peluncuran buku penting tentang tokoh sastra Indonesia. Buku itu berisi nama-nama tokoh yang berkiprah dalam dunia sastra Indonesia sepanjang 100 tahun terakhir.  Penyusun buku atau juri yang memilih tokoh-tokoh itu adalah Jamal D. Rahman, Acep Zamzam Noor, Agus R. Sarjono, Ahmad Gaus, Berthold Damshauser, Joni Ariadinata, Maman S.Mahayana, dan Nenden Lilis Aisyah.

Yang membuat buku itu langsung terkenal bukan lantaran menterengnya nama-nama orang yang menjadi penyunting atau juri dalam pemilihan 33 tokoh. Pokok soalnya—yang kemudian menjadi polemik, gerundelan, dan perbincangan luas—adalah sebuah ‘kecerobohan’ para mintilihir sastra.

Dari delapan nama penyunting, enam di antaranya dikenal sebagai sastrawan dan pengamat sastra mintilihir. Setidaknya, sebagai pembaca dan penikmat sastra, saya mengenal dengan baik Jamal D.Rahman, Maman S. Mahayana, Acep Zamzam Noor, Joni Ariadinata, Agus R. Sarjono, dan Nenden Lilis A. Saya sama sekali tidak meragukan kapasitas mereka sebagai sastrawan dengan rekam jejak yang panjang dan integritas yang kokoh di dunia sastra Indonesia.

Yang membuat publik satra Indonesia ‘takjub’ adalah bertenggernya nama Denny J.A. dalam buku tersebut! Artinya Denny J.A. mengalahkan kiprah dan ketokohan Kuntowijoyo, Budi Darma, Danarto, Radhar Panca Dahana, dll. Itu hanya karena Kuntowijoyo, Budi Darma, Danarto, dan Radhar Panca Dahana tidak ‘menawarkan’ genre sastra tertentu bagi konsepsi artistik sastra Indonesia.

Sementara Denny J.A. dianggap juri berpengaruh karena ia menciptakan puisi-puisi bergenre ‘puisi-esai’.  Hal itu oleh juri dianggap sebagai kebaruan dan sangat berpengaruh di Indonesia.

Kalau genre sastra baru yang ditawarkan Denny J.A. itu dianggap sebagai dasar pijakan memilih Denny sebagai tokoh paling berpengaruh, saya menilai ada prinsip yang dilanggar oleh para juri. Ialah prinsip untuk mengacu pada kriteria pemilihan tokoh yang mereka tetapkan sendiri.

Dalam memilih 33 tokoh itu, para juri berpijak pada enam poin pertimbangan berdasarkan karya dan/atau pemikiran tokoh. Rumusan pertanyaan meliputi: pertama, seberapa penting karya dan/atau pemikirannya. Kedua, karya dan/atau pemikirannya memberikan inspirasi bagi sastrawan berikutnya. Ketiga, karya dan/atau pemikirannya berdampak luas, berskala nasional, sehingga melahirkan semacam gerakan, baik yang berkaitan dengan sastra maupun dengan kehidupan sosial budaya yang lebih luas.

Keempat, karya dan/atau pemikirannya membuka jalan bagi munculnya tema, gaya, pengucapan baru yang jejaknya dapat dikembalikan pada tokoh tersebut. Kelima, karya dan/atau pemikirannya menjadi semacam monumen. Keenam, karya dan/atau pemikirannya menjadi semacam pemicu lahirnya pemikiran tentang kebudayaan, kemasyarakatan, bahkan kebangsaan.

Dasar pemikiran itu kemudian melahirkan empat kriteria untuk memilih tokoh. Pertama, pengaruhnya tidak hanya berskala lokal, melainkan nasional. Kedua, pengaruhnya berkesinambungan, tidak menjadi kehebohan temporal atau hanya sezaman.

Ketiga, tokoh itumenempati posisi kunci, penting dan menentukan. Keempat, tokoh itu sebagai pencetus atau perintis gerakan baru yang kemudian melahirkan pengikut, penggerak, atau penentang.

Menabrak Kriteria yang Dibuat Sendiri

Pertanyaan kemudian adalah: kenapa juri melanggar prinsip/kriteria yang mereka buat sendiri? Menurut saya, juri telah melanggar tiga dari empat kriteria yang mereka tetapkan sendiri. Ketiga kriteria yang dilanggar juri adalah kriteria pertama, kedua, dan keempat.

Kita bisa mengecek kapan publikasi karya-karya Denny J.A. itu mulai dilakukan. Tidak perlu jauh-jauh memperdebatkan seperti apa kualitas karya puisi-puisi Denny J.A., berapa banyak pengikutnya, dan seberapa besar pengaruhnya bagi dunia sastra Indonesia. Dicek saja sejak kapan Denny J.A menulis puisi dan mempublikasikannya.

Publikasi puisi-puisi Denny J.A. sepengetahuan saya belum sampai hitungan jari sebelah telapak tangan saja. Publikasi puisi-puisi Denny J.A. mulai masif pada 2012 lewat peluncuran buku, ‘menarik’ beberapa sastrawan (tentu ‘tidak sekadar’ menarik), memberi kesempatan Sapardi Djoko Damono untuk ikut mengomentari puisi-puisinya, dan mengadakan lomba resensi buku berhadiah aduhai (hingga puluhan juta rupiah).

Kalau dianggap sebagai sebagai sebuah fenomena di dunia sastra, maka itu karena Denny J.A. langsung muncul dengan ‘kebesarannya’. Ia memang sudah besar karena menjadi salah satu tokoh survai opini publik di Indonesia. Dengan materi yang melimpah ia bisa menebitkan buku dengan edisi luks dan jumlah sangat banyak. Bandingkan, misalnya, dengan penyair Indonesia lain yang harus mengasong ke mana-mana draf buku puisinya sebelum dicetak menjadi buku.

Publik sastra pun sebenarnya tidak akan terlalu cerewet jika sejak awal proses pemilihan 33 nama tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh itu didasarkan pada kriteria yang jelas dan ketat. Juga, ini yang paling penting, kriteria itu tidak ditabrak sendiri oleh para juri ketika menetapkan nama-nama tokoh.

Boleh saja publik tidak perlu tahu apa dasar pemilihan kriteria itu, kenapa yang dipilih harus 33 tokoh, kenapa tokoh A masuk sementara tokoh B tidak masuk, dsb. Hal itu bisa dianggap rahasia dapur  juri (kalau rahasia memang harus ada—OSHN). Namun, yang tidak boleh tidak dilakukan para juri—artinya mestinya harus dilakukan–, menurut saya, adalah (1) independen, jujur, dan objektif, (2) mempertimbangkan unsur akal sehat dan hati nurani, (3) suara/pendapat satu juri tidak boleh mengalahkan suara mayoritas juri.

Poin ketiga menjadi perhatian saya karena belakangan saya baru tahu bahwa sistem menjurian atau metode memilih tokoh sastra itu tidak seperti yang sama bayangkan semula. Awalnya saya mengira pemilihan itu didasarkan pada riset publik atau setidaknya ada uji publik. Kedua, saya awalnya juga mengira bahwa masing-masing juri memilih jago/calon tokoh, diperdebatkan,dan hasilnya didasarkan pada suara mayoritas. Tidak harus aklamasi (karena pasti susah). Yang penting, tokoh yang lolos setidaknya dipilih lebih dari separoh jumlah juri atau setidaknya-tidaknya setengah jumlah juri mau menerimanya.

Bagaimana peta jago masing-masing juri? Jamal D. Rahman memilih empat tokoh: Mochtar Lubis, Rendra, Iwan Simatupang, dan Arief Budiman; Agus R. Sarjono mengajukan lima tokoh: Kwee Tek Hoay, H.B. Jassin, Idrus, Pramoedya Ananta Toer, dan Arifin C. Noer; Maman S. Mahayana menjagokan lima tokoh: Marah Rusli, Muhammad Yamin, Armijn Pane, Sutan Takdir Alisjahbana, dan Achdiat Karta Mihardja.

Berthold Damshauser mengajukan satu tokoh:  Trisno Sumardjo; Nenden Lilis Aisyah mengajukan lima tokoh: Hamka, N.H. Dini, Goenawan Mohammad, Remy Silado, dan Helvy Tiana Rosa; Acep Zamzan Noor mengaujukan lima tokoh: Amir Hamzah, Ajip Rosidi, Taufiq Ismail, Sapardi Djoko Damono, dan Abdul Hadi W.M. ; Joni Ariadinata memilih tiga tokoh: Putu Wijaya, Emha Ainun Nadjib, Wowok Hesti Prabowo; Ahmad Gaus memilih lima tokoh: Chairil Anwar, Sutardji Calzoum Bachri, Afrizal Malna, Ayu Utami, dan Denny J.A.

Dari peta jago itu akhirnya kita pun tahu siapa memilih siapa. Kita pun tahu bahwa semua tokoh yang diajukan oleh juri itu lolos. Tentu, kita tidak perlu tahu bagaimana perdebatan juri berlangsung. Yang cukup mengherankan adalah kenapa para juri bersepakat untuk menabrak kriteria yang mereka buat sendiri dengan meloloskan nama Denny J.A. yang diajukan Ahmad Gaus? Kalau informasi di luaran itu benar: bahwa Ahmad Gaus merupakan ‘orangnya’ Denny J.A. yang membantu publikasi buku puisi Denny J.A.—maka pada titik ini kita tidak bisa menampik dugaan bahwa juri tidak bisa objektif pada juri lain.

Menyetujui nama tokoh yang diajukan seorang juri berarti sepakat bahwa nama tokoh itu memang layak menjadi tokoh sastra. Dan itu berarti para juri sudah siap dengan risiko yang akan dihadapi: ketidakpercayaan publik terhadap kredibilitas juri. Kredibilitas, barangkali, tidaklah begitu penting bagi sebagian orang.  Namun, pada zaman mahalnya nama baik seperti sekarang ini, bagaimanapun kredibilitas itu penting. Apalagi, buku tersebut diterbitkan oleh lembaga terhormat seperti Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin dan berpeluang akan tersebar ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia dan menjadi acuan pembelajaran.

Dunia Sastra Indonesia (belum) Kiamat


Bagaimanapun, buku 33 Tokoh Sastra Indonesia yang Paling Berpengaruh adalah buku tentang sejarah sastra Indonesia. Penyusunannya, dengan begitu, tidak boleh dilakukan secara ‘serampangan’ dan memandahkan diri pada kekuatan satu-dua juri.

Karena buku tersebut sudah menjadi perbincangan publik—dan sebagian ada yang bernada insinuatif  dan bisa mengarah kepada fitnah—saya mengusulkan juri memberikan jawaban terbuka. Atau, setidaknya-tidaknya ada pertanggungjawaban juri kepada publik sastra Indonesia (bukan hanya lewat pengantar di dalam buku).

Jawaban nantinya mungkin tidak bisa seratus persen mampu melenyapkan dugaan bahwa buku tersebut didanai Denny J.A (sehingga nama Denny harus masuk–OSHN). Namun, setidaknya akan bisa memperjelas duduk perkara kenapa nama yang diragukan itu bisa muncul dan bagaimana sebenarnya posisi masing-masing juri ketika menetapkan nama tersebut.

Akan halnya Denny J.A., saya tidak sepakat jika Denny menjadi sang tertuduh. Bukan karena saya pernah jadi kolega Denny J.A. di lembaga riset opini publik. Bukan. Denny tidak sepantasnya menjadi tertuduh karena dia tidak menawar-nawarkan diri menjadi tokoh. Kalau ada yang menawarkan kepada juri lain, itu tak lain adalah pekerjaan Ahmad Gaus. Dan itu tidak ada salahnya.

Saya masih yakin publik sastra masih tidak jauh bergeser dari kondisi 10-20 tahun lalu. Artinya, pembaca sastra masih ‘itu-itu juga’,  tidak jauh dari kawan-kawan saya juga.  Terlalu sayang kita menguras energi hanya untuk berdebat soal tokoh sastra, sementara tokoh asli dan benar-benar tokoh hanya senyum-senyum saja di pojok rumah sastra Indonesia.  Namun, terlalu lucu juga kalau pekerjaan kawan sendiri dianggap sepi.

Maka, sambil menunggu jawaban Jamal D. Rahman dan timnya, saya juga menunggu dengan setia hadirnya buku sejarah sastra lainnya. Mungkin buku sastra Indonesia yang merangkum nama-nama yang  bersetia pada sastra Indonesia dengan kualitas yang ‘oke punya’. Jangan hanya 33, tetapi 300 nama! Tidak harus dalam edisi luks dan diluncurkan di tempat mentereng, tapi cukup buku cetakan biasa, dengan kemasan biasa tetapi nyeni, dan diluncurkan di tempat biasa pula. Yang penting nama-nama itu nyata dan kiprahnya jelas dalam panggung sastra Indonesia.

* Penjahit kata