Menunggu

  • Bagikan

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial di FKIP Unila

Saat kita menghadiri perhelatan yang dihadiri oleh banyak orang, pada umumnya ada pemandu acara. Dalam perjalanan yang diikuti oleh banyak orang, biasanya juga ada satu orang yang ditugasi sebagai pemandu perjalanan atau kepala rombongan. Kata atau frasa yang sering muncul pada pembukaan acara biasanya adalah “menunggu” atau “menunggu sejenak”. Padanannyaadalah “menanti”atau “menanti  sejenak”.

Pada awal kegiatan pemandu perjalanan atau pembawa acara sering mengucapkan “Mohon bersabar…. kita menanti sejenak.” Ukuran durasi yang bersifat unlimited atau tak terukur secara eksak. Hal itu membuat ketahanan masing masing orang untuk menunggu atau menanti  berbeda beda. Ada yang bersabar, sepanjang apa pun waktu “menunggu”. Banyak juga yang pendek sabarnya, sehingga menunggu menjadi “penyiksaan” luar biasa bagi dirinya.

Perilaku yang ditampilkan masing masing individu dalam menunggu  berbeda satu dengan yang lain. Ada yang dengan membaca berita melalui gadget, ada yang dihabiskan dengan merokok, ada yang bercanda dengan teman, ada juga yang menggunakan waktunya untuk kegitan produktif, seperti membaca kitab suci. Semua itu tergantung dari kebiasaan masing masing individu.

Jika kita mau sejenak merenung, sebenarnya hidup ini pun adalah menunggu. Artinya, kita menunggu episode satu ke episode berikutnya pada satu garis perjalanan hidup. Oleh karena itu, ada sebagian kelompok atau mazab yang berpendapat bahwa manusia hanya menjalankan role life yang telah ditetapkan oleh Sang Maha Pencipta untuk melakonkan cerita kehidupan yang terdiri dari sejumlah episode.

Manusia sangat dibolehkan untuk menyusun rencana kehidupannya ke depan, sampai merincinya seterperinci mungkin. Namun apakah rencana itu dapat dijalankan seluruhnya atau sebagian atau tidak bisa dijalankan sama sekali, itu adalah wilayah keilahian yang tidak dapat dijangkau oleh perencanaan manusia.

Banyak peristiwa di dunia ini jika kita cermati baik secara kelompok, maupun secara individual yang keluar dari skenario awalnya. Secara perhitungan logika dan mathematic sebagai alat bantu berfikir, semua sudah sesuai aturan dan prosedure. Ternyata dalam perjalanannya tidak sesuai dengan apa yang telah digariskan. Itulah dalam berfikir ilmiah disebut ada factor “Miu” yang diluar perhitungan nalar manusia. Seberapa besar peluang Miu untuk terjadi, tidak ada ukuran kepastian atasnya.

Oleh karena itu, jika ada mazab yang mengatakan “hidup adalah suatu penantian” ; jika menggunakan cara berpikir di atas, maka  dapat dipahamkan maknanya. Namun, jika ada mazab juga yang berpendapat “hidup adalah suatu kebetulan”; untuk pintu masuk yang lain, cara berpikir ini dapat kita pahamkan. Karena kebetulan itu bukan milik manusia. Itu adalah milik  Yang Maha Membetulkan.

Jika kita ingin melihat keduanya lebih jernih, mari sejenak kita “menepi” dalam perjalanan kehidupan, kemudian melakukan evaluasi dan kalkulasi sosial, berapa banyak peristiwa kehidupan kita yang sesuai dengan “rencana” dan berapa banyak terjadi seolah “kebetulan”.Wilayah kebetulan yang kita miliki, itu sebenarnya wilayah ketentuan keilahian yang bersifat pasti yang tidak kita punyai.

Statistika, matematika, dan bahasa merupakan sarana ilmu pengetahuan yang adalah perangkat untuk menemukenali faktor rencana dan faktor kebetulan untuk dipahamkan. Ketiganya dibalut atau dirangkai oleh logika. Namun, dalam proses perjalannya tidak dapat menyempurnakan sesuatu menjadi sangat sempurna. Karena ketidaksempurnaanlah sebenarnya yang membuat sempurnanya perencanaan manusia.

Hidup harus terus berjalan, menusia melakonkan serial kehidupannya, ada duka, ada gembira, ada tertawa, dan ada menangis. Semua peristiwa memiliki pasangannya masing masing. Sehingga, selesai satu episode dilanjutkan dengan episode lain. Bisa jadi dalam waktu yang sama beberapa episode harus dilakonkan. Oleh karena itu, orang bijak mengatakan pertumbuhan bisa terus menjulang, namun perkembangan sebenarnya menuju pada satu titik kehidupan, yaitu kematian.

Peringatan itu telah tertuang dalam kitab suci “janganlah membenci sesuatu secara berlebihan, karena pada waktunya dia akan kau cintai. Sebaliknya juga jangan kau terlalu mencintai sesuatu, karena pada waktunya nanti dia akan kau benci”. Kewajaran dalam bertindak  atau dalam diksi bahasa Jawa “sak madya” (secukupnya saja); adalah kearifan pribadi yang sangat diperlukan dalam menghadapi dan melakonkan cerita kehidupan.***

Selamat Ngopi Pagi.

 

 

  • Bagikan