Beranda Teras Berita Menyentuh Kedamaian

Menyentuh Kedamaian

53
BERBAGI

Gede Prama

Semenjak David Mc. Clleland menerbitkan karya klasiknya Achieving Society puluhan tahun lalu, banyak kemajuan materi terjadi di sana-sini. Bahkan, sejumlah kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi melampaui imajinasi manusia. Dan sebagaimana terjadi di semua bidang kehidupan, setiap kemajuan ada ongkosnya. Stres, depresi, bunuh diri, perceraian meningkat pesat di mana-mana. Ia membuat dunia miskin dari kedamaian.

Ciri dominan masyarakat berprestasi yang ditulis Mc. Clleland adalah dorongan untuk selalu menjadi nomor satu. Apa pun bidangnya, dari pembantu rumah tangga hingga pemimpin negara, semuanya didorong sekeras-kerasnya agar menjadi nomer satu. Tentu saja ada hasilnya. Kemiskinan dan pengangguran menurun. Pendapatan dan kesejahteraan ekonomi menaik.

Akan tetapi, sebagaimana turnamen sepak bola, selalu yang menjadi pemenang juara satu hanya satu. Sedangkan yang tidak mendapat piala kemenangan jumlahnya jauh lebih banyak. Mc. Clleland hanya memikirkan pemenang-pemenang yang jumlahnya terbatas. Dan pemenang ini pun di waktu lain harus turun menjadi bukan pemenang.

Dan jumlah bukan pemenang ini terus menumpuk dan bertambah dari tahun ke tahun. Seperti gumpalan-gumpalan kekotoran dalam tubuh, suatu hari ia meledak menjadi penyakit berbahaya. Kehidupan di tingkatan ini serupa musuh yang mesti dimusnahkan. Tanda-tanda ke arah sana sesungguhnya ada. Dari pemanasan global, sampah nuklir hingga cuaca ekstrim. Bila tidak ada yang mengarahkan perjalanan ke arah kedamaian, bukan tidak mungkin bumi tidak lagi menjadi tempat tinggal yang layak. Dalam masyarakat super kompetitif seperti Jepang dan Korea, tanda-tanda ini terlihat jelas melalui menaik pesatnya angka bunuh diri.

Filosofi Mengalir

Seperti bandul yang terus bergerak, peradaban terus berayun. Ada putaran waktu tatkala manusia kelaparan, ada putaran zaman orang-orang berkelimpahan. Orang biasa yang menderita membiarkan dirinya diguncang oleh gerakan-gerakan bandul ini. Ini yang berada di balik kehidupan yang stres dan kelelahan.

Berbeda dengan orang biasa, orang bijaksana serupa matahari. Hidup memang berputar dari siang ke malam, malam ke siang, tapi matahari tetap bercahaya seperti seorang saksi. Tatkala musim panas, nikmati keindahan matahari terbit dan tenggelam. Saat musim hujan, berterimakasih yang dalam pada indahnya pelangi. Dengan cara ini, kehidupan didekap seperti seorang ibu mendekap putra tunggalnya.

Seorang psikolog Inggris John Bowlby melalui attachment theory menemukan otak kita bertumbuh paling sehat tatkala kita dalam dekapan kasih sayang. Dengan kata lain, setelah lama otak, pikiran, emosi manusia panas oleh nafsu untuk berprestasi dan berpotensi untuk sakit, inilah saatnya belajar mengalir. Terutama agar kehidupan bisa kembali dalam dekapan kasih sayang. Mengalir itu seperti ibu, kasih sayang adalah bayi yang lahir dari sana.

Damai, Damai, Damai

Sementara dalam konsep masyarakat berprestasi hidup dianggap tidak sempurna, karena itu manusia berlomba untuk menjadi nomer satu, di jalan meditasi – terutama di tingkat kesempurnaan – kehidupan diyakini sebagai serangkaian kesempurnaan. Di Tibet kadang disebut dzogchen (kesempurnaan agung) kadang disebut mahamudra (segel yang agung). Di Jepang, ia disebut Bushido. Sebentuk meditasi yang menyaksikan semuanya tanpa disentuh sedikit pun oleh aliran kehidupan. Dalam bahasa pemuja Tuhan, semuanya adalah tarian kesempurnaan yang sama.

Oleh karena semuanya adalah tarian kesempurnaan yang sama, maka keseharian hanya berisi tiga langkah sederhana: terima, mengalir, senyum. Bagi orang awam, ini diidentikkan dengan pasif tidak melakukan apa-apa. Tentu saja tidak demikian. Seperti kelapa yang alaminya di pantai, pinus yang alaminya di gunung, manusia yang mengalir kembali ke panggilan alaminya.

Saat seseorang kembali ke panggilan alaminya, ia bukannya tidur tidak produktif, sebaliknya ia bisa menyentuh puncak kedamaian. Dalam kedamaian itulah kemudian produktivitas, kreativitas mungkin terjadi. Ia sesederhana kelapa di pantai, sesimpel pinus di gunung. Di kedua tempat berbeda itulah kelapa dan pinus memberikan kontribusi terbaik pada kehidupan.

Dengan cara yang sama, manusia bisa memberikan kontribusi terbaik tatkala ia melaksanakan panggilan alaminya. Di tingkatan ini, jawabannya bukan menjadi nomer satu, tapi menjadi diri yang unik dan otentik. Seunik ikan yang berenang di air, burung yang terbang di udara. Persaingan, perbandingan tidak diperlukan sebagaimana kelapa yang tidak bersaing dengan pinus. Di atas semua itu, dalam menjalankan panggilan alami inilah kemudian kehidupan mengalir damai, damai, damai.

Sumber: blogdetik