Beranda News Pertanian Meraih Kesejahteraan dengan Bank Tani

Meraih Kesejahteraan dengan Bank Tani

714
BERBAGI

Pengantar Redaksi


Diskusi Bank Tani dan Penanggulangan Traficking digelar di Rumah Hijau, Jl.  Arjuna Dusun Pekalongan, Kampung Bhaktinegara, Kecamatan Baradatu Kabupaten Way Kanan, Jumat (18/7). Ketua Komite Civic Education for Future Indonesia Leaders (CEFIL) Lampung sekaligus Direktur Kantor Bantuan Hukum (KBH) Bandarlampung dan penggagas bantuancoffe.org, M Syarif Abadi, hadir sebagai pembicara. Hadir pula Ketua GP Ansor Waykanan Supri Iswan, pengurus HKTI Waykanan Damiri, pengurus KTNA Waykanan Mustakim, dan beberapa ketua kelompok tani di Way Kanan. Berikut rangkumannya:

Prediksi akan hilangnya satu generasi petani menurut pengamat kemungkinan akan terjadi di Indonesia terutama generasi sekarang yang tidak memiliki cita-cita untuk menjadi petani. Hal ini menjadi salah satu permasalahan bagi sektor pertanian, selain masalah cuaca, pengolahan pertanian, bibit, harga produksi pascapanen, pupuk, dan kebijakan pemerintah yang nyatanya saat ini masih merugikan petani. Akibatnya berbagai impor produk pertanian saat ini dilakukan dan harga menjadi melambung.  Sebab itu, diskusi dengan tema bank tani dan penanggulangan traficking di perdesaan menjadi tema yang aktual.

Menurut Syarif, pola bank tani sangat membantu petani dalam memasarkan produknya,harga yang sesuai serta pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari petani terpenuhi denga pola kerja sosial.

Bank Tani merupakan konsep yang telah terbukti dalam mensejahterakan petani di Agam, Sumatera Bara. Pencetus Bank Tani, Masril Koto, telah berhasil menerapkanya. Masril mendirikan sebuah lembaga keuangan yang bernama LKMA Prima Tani, tempat bagi para petani bisa mendapatkan pinjaman untuk tambahan modal usaha.

Banyaknya petani yang sulit mencari pinjaman modal menginspirasi Masril untuk membentuk lembaga keuangan para petani yang disebutnya Bank Tani atau Bank Petani tersebut. Ia menjadi pendiri LKMA Prima Tani di Nagari Koto Tinggi dan 580 LKMA lain yang tersebar di seantero Sumatera Barat yang kesemuanya memiliki aset mencapai Rp100 miliar.

“Setiap LKMA yang dibina Masril Koto memiliki minimal 5 karyawan yang biasa diambil dari anak-anak petani, terutama mereka yang putus sekolah. Hal ini ditujukan untuk mengurangi angka pengangguran,” kata Syarif.

Menurut Syarif,  Masril Koto bersama teman petani lainnya merintis lembaga keuangan itu sejak tahun 2002. Empat tahun kemudian (2006) baru resmi didirikan setelah Masril dan kawan-kawan petaninya mendapatkan pelatihan keuangan dalam bentuk akutansi sederhana dari Yayasan Alumni Fakultas Pertanian Universitas Andalas (AFTA), Padang. Sistem bank yang didirikannya itu diadopsi oleh pemerintah dan menjadi cikal bakal Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) Nasional.

“Konsep yang sudah dikembangkan di Sumatera Barat ini kami sosialisasikan kepada teman-teman petani di Lampung agar para petani lebih bergairah untuk dapat menyejahterakan kehidupanya,” ujar Syarif.

Di Lampung, program ini sudah berjalan. Antara lain di Metrokibang (Lampung Timur) dan Sumber Jaya (Kabupaten Lamung Barat). Petani di sana mulai meyakini apa yang didapat dalam program ini. Menurut Syarif, Kabupaten Waykanan yang dikenal dengan semboyan “Bumi Petani” sangat mungkin mengembangkan program bank tani.

“Pogram ini pasti berjalan dengan baik bila dilakukan dengan keyakinan dan kesadaran menuju petani sejahtera,” kata Syarif.

Mustakim, pengurus KTNA Waykanan sekaligus aktivis i kelompok tani, menyambut baik pola bank tani ini. Namun, menurut Mustakim, pola ini harus di inisiasi oleh orang yang memiliki intregritas yang baik mengingat celah kejahatan terhadap petani akan terjadi jika dijalankan dengan berangkat untuk keuntungan pribadi.

“Saya melihat dibutuhkan komitmen yang kuat dan penuh keyakinan untuk mengorganisir pola ini. Mungkin perlu anak muda yang punya pengetahuan dan pengalaman di bidang manajemen.Sosialisasi bank tani tidak berhenti dengan mengajak petani yang memiliki komitmen yang kuat dalam mensejahterakan petani itu sendiri,” kata mantan Kepala Kampung Setia Negara, Kecamatan Baradatu, Waykanan itu. (Aan Frimadona Rosa)

Loading...