Beranda Medsos Trending Mereka Menyambut “Reshuffle” Kabinet dengan Pesimis

Mereka Menyambut “Reshuffle” Kabinet dengan Pesimis

72
BERBAGI
Presiden Jokowi melantik para menteri baru hasil reshufle Kabinet Kerja, di Istana Negara, Jakarta, Rabu (27/7) siang.

TERASLAMPUNG.COM — Presiden Joko Widodo (Jokowi) akhirnya merombak kabinetnya untuk kali kedua, Rabu (27/7/2016). Sembilan menteri baru menghiasi wajah Kabinet Kerja, sedangkan empat menteri hanya bergeser posisinya.

Di antara para menteri yang bergeser posisi, nama Luhut Binsar Panjaitan paling mendapatkan sorotan publik. Publik menganggap Luhut “sakti” karena hanya bergeser dari posisinya. Bahkan “kesaktian” Luhut itu dianggap seolah-olah dialah presiden yang sesungguhnya.

Presiden Jokowi secara tidak langsung menjawab pertanyaan publik bahwa perombakan kabinetnya terkait dengan kegaduhan di tubuh kabinet yant disebabkan irama kerja yang tak sama, saling adu argumen, bahkan diindikasikan ada menteri yang kurang bagus koordinasinya dengn Presiden dan Wakil Presiden.

Di luar soal kompetensi, kualitas, dan kapasitas, perombakan kabinet kali ini juga tampak sekali masih mencerminkan adanya faktor determinan lain: tawar-menawar dengan parpol pendukung Jokowi-JK dan basis pijakan ormas pendukung (NU atau Muhammadiyah). Pada titik inilah nama Anies Baswedan terpental dari jabatannya sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Ia digantikana Muhajir Effendi yang berbasis Muhammadiyah.

Perombakan kabinet dengan pola itu mudah sekali dibaca publik awam sekalipun. Itulah sebabnya, beberapa saat usai pengumuman susunan kabinet baru oleh Presiden Jokowi, cuitan di Twitter dan status di Facebook pun ramai dengan aneka kritik.

Berikut komentar netizen tentang perombakan kabinet:

FadliFadli Pangestu, jurnalis, Batam: Politik, dimana Kejujuran Adalah Hil yang Mustahal
Baru saja Kabinet Presiden Jokowi di-reshuffle alias dirombak untuk kedua kalinya dalam dua tahun terakhir. Perombakan kabinet taklah suatu yang tabu, pasca reformasi perombakan kabinet seperti sebuah kebutuhan untuk memberikan ruang ejakulasi bagi banyak pihak, terutama partai politik.

Mungkin generasi yang masih ijo royo-royo melihat bahwa posisi Menteri merupakan puncak karir seseorang yang terpilih mendudukinya. Padahal bagi partai politik, kursi menteri ibarat kue yang akan menjadi sumber energi bagi kelangsungan pribadi dan organisasi.

Sebelum terpilih sebagai Presiden, janji politik Pak Jokowi bahwa kabinet tidak akan diduduki oleh mereka yang rangkap jabatan di partai politik. Bahkan, seperti orang polos, pak Joko menjamin bahwa pembantu presiden yang dipilih lebih dominan berasal dari kelompok profesional alias minus dari latar belakang politik.

Tapi ya begitulah, lidah memang tak bertulang, ucapan dari politisi itu seperti sebuah dusta yang akan terbongkar di kemudian hari. Kini, setelah Ketua Partai Sutiyoso yang menjabat Ketua Badan Intelijen Negara (BIN) menyusul pak Wiranto sebagai Menkopolhukam, membuktikan ketidak konsistenan pak Joko terhadap pernyataannya sendiri.

Belum lagi mereka-mereka yang duduk di partai sebagai fungsionaris dan memegang posisi menteri menteri nan basah. Para menteri asal parpol memang mundur secara administrasi, tapi maju secara fakta bagi kegiatan parpol mereka. Tapi apa boleh buat, taik kambing bulat-bulat, itu semua adalah hak prerogatif sang Presiden.

Kini, wajah pemerintahan pak Jokowi taklah berbeda alias podo wae dengan jaman-jaman sebelumnya. Cuma kemasan dan kecap kecapnya saja yang agak agak mengikuti trend kekinian. Politik memang tak pernah jujur, karena kejujuran dan konsistensi adalah hil yang mustahal dilakukan politisi. Sekali lagi…lantaklah….

erwinAhmad Yulden Erwin, Bandarlampung: Kenapa kita dulu memilih Jokowi sebagai Presiden RI pada pilpres 2014? Apakah karena Jokowi seorang yang berpengalaman dalam politik? Apakah karena Jokowi seorang pemimpin yang jenius dan menguasai banyak bidang? Apakah karena Jokowi seorang yang kharismatik dan banyak uang? Tidak! Kita memilih Jokowi jadi Presiden RI karena Jokowi adalah ORANG BAIK! Sekarang, Anies Baswedan disingkirkan dari kabinet Jokowi, tanpa alasan yang logis. Anies diganti karena Anies dianggap ORANG BAIK. Logika kalian di mana coba?

andidesfian2Andi Desfiandi (IBI Darmajaya, Lampung): Memperhatikan nama2 menteri yg di reshufle hari ini oleh presiden jokowi…ada beberapa nama menteri yg bagi saya menimbulkan pertanyaan kenapa diganti dan kenapa tidak diganti ? Jonan dan anies baswedan adalah nama2 menteri yg diganti walaupun jonan sudah sering diisukan akan diganti. Namun Jonan dan Aneis merupakan menteri yang memiliki kapasitas dan integritas yg tinggi terhadap tanggung jawabnya, mereka sudah all out menjalankan kewajiban mereka tanpa lelah dan teguh kepada kepentingan bangsa.

Kesalahan Jonan yg terakhir mungkin peristiwa ‘tol brexit’ yg menggemparkan jagad media namun kesalahan tsb bukan semata kesalahan beliau tapi adalah kelalaian kolektif instansi lainnya yg terkait arus mudik jalan tol tsb. Dan juga komentar Jonan yg memang kurang pantas pada saat diwawancara medi. Namun secara overall kinerja beliau baik bahkan sangat baik terutama dalam membangun infrastruktur perhubungan dan penegakan regulasi.

Begitu juga dengan Anies Baswedan tidak terlihat kesalahan yg mencolok dalam pelaksanaan tanggung jawabnya apalagi pembenahan pendidikan memerlukan waktu yg cukup panjang dan komprehensif dan melibatkan instansi lainnya termasuk pemerintah daerah krn kewenangan pendidikan dasar sampai menengah ada di level pemerintah daerah. Walaupun penggantinya prof. Muhajir termasuk berhasil memimpin UMM ketika menjabat rektor UMM dan sebenatnya menurut saya beliau lebih cocok menjadi Menristekdikti daripada Mendiknas.

Sofyan djalil adalah kali ke 3 dirotasi diberbagai posisi dan menyisakan pertanyaan besar kenapa beliau tsb tetap dipertahankan di kabinet ? Apakah kalau dia tidak jadi menteri maka kabinet tidak bisa dibentuk atau beliau memiliki kesaktian yg luar biasa sehingga akan ada posisi utk beliau walaupun reshufle kabinet dilakukan 10 kali ? Tata kelola pangan nasional tidak mengalami kemajuan yg berarti dan hal tsb tidak terlepas dari peran menteri pertanian, dan sepatutnya pula menteri pertanian lengser dan diganti dengan sosok yg sanggup mengatur pangan nasional termasuk mafia pangan yg sudah berakar.

Menteri perdagangan memang ikut bertanggung jawab dalam kekisruhan pangan nasional sehingga memang pantas utk diganti, namun apakah penggantinya mampu utk memberantas mafia perdagangan yg jg sudah berakar kuat ? Menteri ESDM memang sangat pantas untuk diganti namun apakah penggantinya adalah sosok yg berani dan bersih utk mengelola migas dan energi nasional yg juga sudah dikuasai oleh mafia2 yg tak bisa tersentuh ? Saat ini meneg BUMN lolos dari reshufle mungkin masih diberikan kesempatan utk melakukan Business Process Reengineering sekaligus restrukturisasi BUMN yg sedang berjalan.

Damhuri-MuhammadDamhuri Muhammad, sastrawan, Jakarta: adapun yang belum tuntas terjawab adalah kenapa menteri yang sudah dua kali kena geser masih selamat? dan seorang sejawat berkata, “wah, kalau itu sih sampai ke neraka juga bakal dibawa.” selepas itu, ada pula yang bertanya, “kenapa posisi mbak Puan tampak begitu aman dan hampir tak mungkin digeser apalagi dicopot?” saya bilang saja, “Mbak Puan itu ibarat jantung di tubuh kabinet. Kalau jantung dicopot, ko’idlah itu kabinet.

arizkaArizka Warganegara, dosen Unila: Pak ManMen Anis Baswedan lama lama cocok jadi pujangga ajah..inilah realitas Pak ManMen monggo siapkan diri saja mana tau bisa tampil nyapres atau nyawapres th 2019..Gud luk, selamat datang Kanda Muhajir Effendi Ketum HMI Cabang Malang 1979-1980 sekaligus Suhu kami di Muhammadiyah!