Beranda Views How To Meringkus Grandong dengan Lampu Neon

Meringkus Grandong dengan Lampu Neon

2594
BERBAGI
Lampu perangkap 'grandong' yang dibuat petani bawang merah di Kecamatan Wanasari, Brebes, Jawa Tengah. (Teraslampung.com/Rama Pandu)

Rama Pandu/Teraslampung.com

BREBES – Jika Anda kebetulan naik kereta api malam hari dari Jakata menuju Yogyakart atau Semarang, begitu memasuki wilayah Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, akan melihat ratusan lampu neon bertebaran di tengah sawah. Lampu-lampu itu tampak berjajar rapi dengan jarak teratur di tengah hamparan yang luas. Anda mungkin akan penasaran dan mengira ada tempat pendaratan UFO di areal persawahan itu.

Lampu-lampu neon itu tak lain adalah alat pembasmi hama tanaman bawang merah  (Allium ascalonicum) yang sengaja dipasang para petani. Dengan teknologi sederhana, para petani bawang merah di Brebes mencoba menyelamatkan tanaman mereka dari serangan hama yang mereka sebut sebagai grandong.

Grandong adalah tokoh jahat yang menjadi anak buah Mak Lampir dalam serial Misteri Gunung Merapi yang disiarkan sebuah stasiun televisi swasta Indonesia . Para petani bawang merah di Brebes menyebut hewan sejenis lalat yang menyerang daun bawang merah itu sebagai grandong karena ‘kejahatan’ hama itu sama dengan grandong.

Selama ini serangga itu menjadi musuh utama para petani bawang merah di Brebes. Karena serangan hama grandong, banyak petani bawang merah di Brebes yang gagal panen dan bangkrut. Sudah aneka pestisida dengan harga mahal dicoba untuk membasmi grandong, tetapi hewan itu tetap menyerang daun bawang merah sehingga tanaman rusak sebelum dipanen.

Hama Lyriomyza sp tersebut berasal dari Amerika Selatan. Sejenis lalat kecil ini sampai ke Indonesia tahun 1996 setelah menyebar ke negara-negara di Eropa, Cina , Taiwan , dan Jepang melalui tanaman bunga-bungaan. Sebelum masuk ke Brebes dan beberapa daerah di Jawa Timur,   hama ini ditemukan di Jawa Barat dengan menyerang tanaman kentang, tomat, bawang merah, melon, dan cabai.

Lalat grandong (Lyriomiza Sp ) biasanya bertelur di daun bawang, lalu menetas menjadi larva. Larva inilah yang  kemudian menyerang tanaman bawang merah. Antara lain dengan mematahkan saluran nutrisi daun, sehingga daun menjadi belang kekuning-kuningan sehingga tanaman mati.

Selain grandong, tanaman bawang merah juga disukai oleh ulat daun (Laphygma exigua) dan hama bodas (Thrips tabaci). Serangan kedua hama ini sering menyebabkan ujung daun terpotong dan daun menjadi terkulai. Larvanya sering merusak umbi. Hama yang agak mirip ulat daun ialah Spodoptera exigua. Gejala serangannya terlihat pada pinggiran dan ujung daun berupa bekas gigitan.

Warsono, 60, petani bawang merah dari Kecamatan Wanasari, Brebes, mengaku petani di Brebes baru memanfaatkan teknologi memerangkap hama grandong sejak dua tahun terakhir. Menurut Warsono, setelah para petani memasang lampu neon di areal persawahan mereka, hasil panen jadi lebih melimpah.

“Dulu kami harus adu cepat dengan grandong dan seranggga lainnya. Kami harus keluar dana besar untuk membeli pestisida. Setelah kami memasang lampu, banyak grandong yang mati terperangkap lampu. Kalau dulu per hektare hanya panen 7-8 ton, sekarang bisa mencapai 12  ton,” kata Warsono.

Meski begitu, menurut Warsono, tidak semua petani bawang merah bisa memasang lampu neon di areal persawahannya. Biasanya yang memasang lampu adalah petani bawang merah yang memiliki areal luas dan bermodal besar.

“Tapi, petani kecil yang berdampingan dengan petani yang memasang lampu neon juga terkena dampak positifnya. Sebab, hama pengganggu yang menyerang tanaman bawangnya juga berkurang,” ujarnya.

Para petani memanfaatkan lampu neon untuk memberantas hama karena serangga bersifat fototropik. Serangga akan cenderung senang mendekati lampu. Jadi, lampu-lampu yang dipasang di sela-sela hamparan tanaman bawang merah itu adalah untuk menarik serangga, baik jenis grandong maupun serangga lainnya yang biasa bertelur di daun bawang merah.

‘Grandong’ terperangkap di cairan oli dan akhirnya mati. (Teraslampung.com/Rama Pandu)
‘Grandong’ terperangkap di cairan oli dan akhirnya mati. (Teraslampung.com/Rama Pandu)

Biasanya lampu-lampu itu dipasang secara berjajar dengan jarak antarlampu masing-masing 15-20 meter. Lampu-lampu itu dipasang dengan cara diikatkan pada dua bilah kayu atau bambu yang ditancapkan ke tanah. Di bawah lampu itu dipasang nampan atau piring plastik ceper berukuran  besar.

Di atas nampan itu diberi cairan minyak tanah dicampur oli bekas. Dengan begitu, grandong, kupu-kupu, dan aneka hewan pengganggu tanaman bawang merah yang terperangkap lampu akan jatuh ke cairan minyak bercampur oli bekas sehingga mati.

Dengan teknologi sederhana itu, kini para petani bawang merah di Brebes mulai bisa mengurangi pemakaian pestisida untuk membasmi serangga. “Selain menyelamatkan tanaman dari serangan hama , kami menjadi bisa menghemat biaya produksinya. Selama ini biaya untuk membeli obat pembasmi serangga sangat besar, mencapai 1/3 dari total biaya produksi,” kata Warsono.

Kabupaten Brebes selama ini dikenal sebagai sentra bawang merah di Indonesia . Kabupaten terbarat di Jawa Tengah itu memasok 30 persen dari kebutuhan bawang merah nasional. Data di Dinas Pertanian Brebes menunjukkan produksi bawang merah Brebes per tahun (setahun dua kali panen) antara 160 ribu ton hingga 240 ribu ton.

Bawang merah produksi Kabupaten Brebes memiliki kekhasan, yaitu berwarna lebih merah, umbi lebih kecil, dan aromanya kuat. Itu berbeda dengan bawang merah impor yang warnanya biasanya lebih pucat, berumbi besar, tetapi aromanya kurang kuat. Itulah sebabnya, perusahan mi instan di Indonesia lebih memilih bawang merah Brebes sebagai bahan penambah sedapnya.

Popularitas bawang merah Brebes menyebabkan banyak pedagang bawang dari daerah lain di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta memberi label “bawang Brebes” untuk bawang merah yang dipasarkannya. Itulah sebabnya, Pasar Bawang Merah Klampok di Brebes menjadi makin ramai karena dipenuhi para pedagang besar dari luar daerah. (RP/Oyos Saroso HN)