Beranda Views Sepak Pojok Metro Berkobar Cinta: Bayi Cinta, Api Cinta

Metro Berkobar Cinta: Bayi Cinta, Api Cinta

544
BERBAGI

Syamsul Arifien

Akan halnya TK-SPM semula adalah jabang bayi yang lahir dadakan di tengah gemuruh kota yang sedang berusaha menata diri, selepas Metro secara defenitif diresmikan menjadi Kotamadya – hasil pemekaran Kabupaten Lampung Tengah. Saya teringat betul statemen Sekretaris Kota, Munjidi Asmarantaka yang pesimis terhadap kehadiran jabang bayi yang kami bidani ini “Siapa yang akan kenal (percaya) dengan tim bentukanmu itu”, kata Munjidi menohok jantung saya.

Kami tidak patah arang. Lebih-lebih setelah memperoleh simpul pembicaraan dengan Ketua DPRD Kota Metro (ketika itu), Tri Legowo, wakil ketua DPRD, Sugeng Haryono dan Tato Gunarto, Ketua Komisi A Sigit Rahmanto, dan Ketua komisi D Amir Hamzah. Para wakil rakyat itu setuju, saya dan kawan-kawan team memulai turun gelanggang.

Even perdana, kedua dan ketiga pagelaran acara, kami lakukan dengan modal bantingan. Di tengah taman kota belum ada air mancur. Masih bercokol pondok joglo yang kami jadikan panggung perhelatan dan diskusi. Tampil kolaborasi musik Jamus Kalimosodo dengan campursari Trimulya asuhan ketua DPRD Tri Legowo.

Kehangatan acara demikian terasa di malam bersejarah itu. Tampil wakil walikota Lukman Hakim, seniman Metro Naim Emel Prahana, sejumlah anggota DPRD Metro, dan tokoh intelektual Metro Joko Mursito. Sedangkan posisi saya dalam setiap acara TK-SPM hanya nyelip sebagai tukang peramu dan penyaji ‘hidangan’.

Lukman Hakim berapi-api mewajibkan pejabat teras Metro wajib tinggal menetap di Kota Metro. Diskusi malam itu menyepakati batas limit instruksi wajib wakil walikota tersebut harus ditaati dalam tempo waktu satu bulan.

Puisi-puisi indah mengalir dari suara bariton penyair yang juga wartawan senior Naim Emel Prahana. Sementara orasi ketua DPRD Tri Legowo membakar semangat seluruh audien tentang pentingnya acara diskusi bulanan warga kota guna merembukkan segala hal produktif dan konstruktif pembangunan Kota Metro.

Joko Mursito, sudah menyentil-nyentil potensi pengembangan Metro sebagai pusat kota pendidikan. Rekan Embun Putranto yang saat itu masih menjadi orang radio, paling rajin menemani saya menggilir nara sumber berbagi peran.

Api Cinta 

Cintaku kepadamu tak akan tergerus oleh waktu
Cintaku kepadamu tak akan lekang oleh gegap gempita zaman
Cintaku kepadamu akan terus mengalir bersama lanjut usiaku
Tak penting bagiku apakah engkau peduli atau tidak dengan ketulusan cintaku

Demikianlah, sebungkus Djisamsoe, Gudang Garam Filter, Clas Mild, masih tak lebih dari Rp. 5.000. Itulah satu-satunya kegembiraan personal yang kami dapatkan dalam forum TK-SPM, setiap bulan. Adapun kegembiraan dan kebahagiaan lainnya, semua teraktualisasi secara komunal. Group-group kesenian, apakah musik, campur sari, tari, kuda lumping, barong sai, seni beduk tambur KBSB, seni de-bus, puisi, dll. menjadi bagian dan pelaku-pelaku sejarah yang secara langsung juga mendapatkan jatah kegembiraan yang dibangun di atas landasan kebersamaan dan ketransparanan management kegiatan.

Tradisi berpikir kritis warga kota secara otomatis terbangun di forum TK-SPM ini. Tak ayal pemerintah kota sering dibuat merah kuping oleh kritikan-kritikan tajam para audien. Seorang aktivis pemuda Kota Metro, Badawi Idham, misalnya mengkritisi habis walikota Metro Mozes Herman yang lebih memilih melancong ke luar negeri (India), ketimbang berfokus membereskan persoalan-persoalan krusial kota.

Tapi asyiknya, semarah apapun warga kepada pak walikota, energinya tetap dipenuhi api cinta. Tidak ada perdebatan yang anti klimaks, misalnya mengakibatkan kebencian, dendam dan permusuhan. Yang terjadi adalah dealegtika menjaga kota menegakkan cinta.

Kesaksian lain – sekadar menyebut nama pelaku sejarah – misalnya Juniardi. Kalau Juniardi sekarang dipercaya masyarakat menduduki jabatan publik Ketua Komisi Informasi Publik (KIP) Lampung, bayangkan saja 15 tahun silam Juniardi itu adalah seperti saya, anak gembel di Kota Metro. Hidup berpindah-pindah dari numpang sana numpang sini.

Sedangkan, saya lebih parah lagi, numpang pada teman-teman di rumah tumpangan teman-teman, termasuk sering nebeng tidur di rumah tumpangan Juniardi, di antaranya kantor Veteran Metro yang sekarang telah menjadi Gedung Perpustakaan Kota Metro itu, juga kemudian di sebuah rumah kontrakan di Yosodadi .

Tuhan memang sangat luar biasa. Kun fayakun Nya, bisa kapan pun dan kepada siapapun Dia tunjukkan sesuai kehendakNya. Sedangkan sebagai hamba yang tergolong dikemudian hari akan mendapatkan kuwwahNya, juga tampak tanda-tandanya pada diri kawan saya Juniardi ini.

Sebagai teman dekat, saya tahu betul siapa Juniardi. Saya tidak berlebihan mengatakan bahwa dia sudah sedemikian nyatanya mengelola hidupnya menurut Iradah Allah, sehingga sekarang sangatlah pantas dia memperoleh qudrah Allah, yang diangkat status sosialnya ke mahkaman mahmudan.
Skenario Tuhan yang ilmiah, memformulasi Juniardi tumbuh sebagai anak muda kritis. Tempaan penderitaan hidupnya, semakin memperkokoh jati dirinya sebagai anak bengal yang tahan banting dan kreatif.

Di forum diskusi TK-SPM, itu sering keluar pertanyaan maupun pernyataan-pernyataan kritis dari anak yatim sejarah ini. Sehingga saya, sebagai moderator sering dibuat tidak enak hati kepada para nara sumber yang sering mendapat dampratan kekritisan Juniardi.

Saya punya catatan, misalnya pada diskusi yang bertema: “Penegakan Hukum, Siapa Menguntungkan Siapa?” malam itu Juniardi tampil sebagai bintangnya. Tak pelak, Kejari Metro Muadin Yusuf, Kapolres Lampung Tengah, Tri Parnoyo Kartiko, wakil walikota Lukman Hakim, dan seorang pejabat teras Pengadilan Negeri Metro, yang saya lupa namanya – dimana mereka kami ajak naik ke atas panggung sebagai nara sumber – mereka dipaksa kerepotan menanggapi ‘sengatan lidah’ Juniardi.

Berbagai tema diskusi dari bulan ke bulan forum TK-SPM Kota Metro itu, semakin mengkristal dan terpola dalam fokus-fokus materi yang seiring dengan isu-isu up to date yang terjadi pada masa waktu berjalan.

Loading...