Beranda Kolom Sepak Pojok Metro Berkobar Cinta: Taman Cinta

Metro Berkobar Cinta: Taman Cinta

2307
BERBAGI

Syamsul Arifien

Awal tahun 2000 silam saya bersama sejumlah kawan aktivis Kota Metro rutin mengelar forum silaturahmi lintas sektoral di Taman Kota Metro. Forum bulanan yg kami namakan Tim Kreatif Seri Pemberdayaan Masyarakat (TK-SPM) itu barangkali tidak akan pernah tercatat dalam katalog biografi pembangunan Kota Metro, sebagaimana saya sendiri juga tidak pernah gedhen rumongso (GR), bahwa hal-hal kecil yang dilakukan TK-SPM itu punya pengaruh dan manfaat bagi masyarakat kota Metro.

Hanya saja, kalau boleh di bilang Taman Kota Metro yang sekarang 100 % berfungsi sebagai ruang publik, gemerlap jalan utama kota (yang dulu dikenal dengan istilah 1000 titik lampu jalan), kemudian jalan-jalan sekunder di seluruh wilayah Kota yang sudah hitam (dulu diistilahkan Metro Bebas Jalan Tanah), change over listrik dari KLP ke PLN adalah beberapa bukti sejarah yang lahir dari forum TK-SPM.

Adapun yang sampai sekarang masih remang-remang hingga sampai tiga kali periode kepemimpinan kota Metro adalah bagaimana bisa mengukur komitmen pejabat-pejabat teras kota yang berdomisili di luar kota, mematuhi tuntutan untuk tinggal menetap di Metro. (Mantan) Walikota Metro Lukman Hakim pun sekarang sudah tidak lagi terdengar berbicara soal ini.

Sejatinya, sebagai orang yang bukan siapa-siapa, saya selalu bangga ketika setiap hari melintas di kota Metro yang bergerak cepat dinamikanya. 15 tahun silam, tidak akan pernah terbayang oleh saya keramaian taman Kota Metro sebagaimana yang terlihat sekarang.

Masih lekat di pelupuk mata saya, ketika itu Taman Kota masih berpagar besi, tiap malamnya hanya menjadi ajang muda-mudi berpacaran – tanpa risi – meski tepat persis di depan hidung pak walikota (rumah dinas walikota). Kemudian, betapa kebakaran jenggotnya walikota (ketika itu) Mozes Herman, menanggapi kritik teman saya Ahmad Mujib perihal disfungsi taman kota di Tabloid Jamus – sebuah Media Mingguan – yang saya kelola pada medio 2000.

Lantas, dirobohkanlah pagar besi sekeliling taman kota. Sebagian besi bekasnya, kemudian setahu saya ada yang nangkring menjadi pagar rumah warga. Tentu saja saya husnudhon saja atas hal itu. Bisa jadi warga membeli besi bekas pagar itu dengan harga second untuk di pasang di rumahnya.

Di bawah komando Dinas Tata Kota Metro, yang saat itu Kepala Dinasnya dijabat oleh Murdjito, cancut taliwondo (bergegas, bergandengan tangan) menata taman kota. Dibuatlah jalan setapak paving block mengelilingi taman, air mancur di tengah taman menggantikan pondok joglo, lampu-lampu hias, hingga kemudian komplit sudah wajah taman kota sebagai zona wisata dan ruang hiburan warga.

Syukur alhamdulillah, kini jagung bakar, kacang rebus, dan segala rupa jajanan pasar, fasilitas permainan anak-anak mulai dari andong, odong-odong, dll. telah bisa unjuk gigi dan menjadi ikon wisata pusat kota. Seeorang kawan di Bengkulu mengirimi saya pesan: “Metro itu dahsyat cak”, demikian tulisnya melalui inbox.

Loading...