Beranda News Lampung Mewaspadai ITCZ, Awan “Cumulunimbus”, dan Angin Puting Beliung di Lampung

Mewaspadai ITCZ, Awan “Cumulunimbus”, dan Angin Puting Beliung di Lampung

651
BERBAGI
Awan Cumulunimbus (dok ilmupengetahuan.org)

Oleh : RamadhanNurpambudi*

Inter Tropical Convergenze Zone (ITCZ) beberapa hari terakhir terlihat di Lampung. ITCZ merupakan pertemuan angin dari BBU (Belahan Bumi Utara) dan angin dari BBS (Belahan Bumi Selatan). Pertemuan angin ini melintasi Indonesia pada Januari dan sudah beberapa hari terakhir terpantau terbentuk mulai Lampung hingga Bali. ITCZ akan berdampak terhadap meningkatkanya curah hujan di setiap daerah yang dilaluinya. ITCZ terbentuk disebabkan adanya sistem tekanan rendah yang terjadi di sekitar ekuator.

Sistem awan yang dihasilkan oleh ITCZ akan membentuk awan-awan konvektif dengan pertumbuhan vertikal yang luar biasa, biasa kita kenal dengan awan Cumulunimbus. ITCZ merupakan gangguan cuaca skala regional yang dapat aktif selama seminggu ke depan.

Sistem perawanan yang terbentuk berpeluang menghasilkan hujan hingga satu minggu dengan kondisi cuaca berawan tebal. Proses ini membutuhkan waktu untuk berkembang yaitu proses konveksi mulai pagi hingga siang hari dan akan menghasilkan hujan mulai sore hingga malam hari.

Garis ITCZ tidak seperti garis lurus melainkan seperti gelombang di atmosfer, pergerakannya mengikuti gerak semu matahari. Wilayah yang dilaluinya akan berbeda-beda setiap kali ITCZ aktif.

Awan Cumulunimbus yang terbentuk akibat ITCZ mampu tumbuh hingga ketinggian 12 Km, meskipun hujan lebat dari awan Cumulunimbus skalanya lokal (10-30 Km²) dengan durasi yang tidak lama (5-30 menit). Gabungan beberapa awan Cumulunimbus inilah yang biasanya banyak merusak bangunan serta merobohkan pepohonan dengan angin puting beliungnya.

Aktifnya ITCZ semakin diperparah dengan tingginya suhu muka laut di perairan sebelah timur Lampung. Suplai utama sistem perawanan ITCZ berawal dari lautan, sehingga dengan tingginya suhu muka laut akan menghasilkan proses konveksi yang hebat lalu diiringi dengan hujan lebat mulai sore hingga malam hari.

Hujan dengan intensitas lebat yang disertai petir diprediksi turun dalam jangka waktu yang singkat namun setelahnya hujan dengan intesitas ringan akan mengikuti dengan durasi yang lebih lama.

Potensi hujan es turun semakin besar terja di seiring dengan giatnya pembentukan awan Cumulunimbus di wilayah Lampung. Semakin tinggi pertumbuhan awan Cumulunimbus maka potensi hujan es semakin besar dengan syarat suhu di permukaannya tidak terlampau panas. Hujan es atau dikenal dengan Hail berdiameter 5-150 mm.

Potensi terjadinya hujanes dapat diprediksi menggunakan radar cuaca, dengan membedah ketinggian awan Cumulunimbus dan dianalisis nilai reflektivitasnya akan didapatkan potensi terjadinya hujan es.

Pergerakan ITCZ sendiri umumnya dari utara menuju selatan dan wilayah berkembangnya awan-awan hujannya bergerak dari barat ke timur.Untuk wilayah Lampung prediksi cuaca esok hari hampir seluruh kabupaten berpotensi mendapat hujan dengan intensitas lebat pada malam hari.

Warga di daerah dengan tingkat rawan bencana yang tinggi dimbau agar lebih mewaspadai dampak fenomena ini.***

* Prakirawan Stasiun Meteorologi Radin Inten Lampung