“Mikul Dhuwur Mendhem Jero”

  • Bagikan
Pro. Dr. Sudjarwo/Foto: Istimewa

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial di FKIP Unila

Membaca kiriman Mas Heri Warodooyo (HRW) dalam caption piranti di gawai yang beliau copy paste dari tulisan Pak Dahlan Iskan mengenai Pak Laks; saya termangu; apalagi ada komen dari Mas Jauhari Zailani tentang paragraf akhirnya. Saya bertanya apakah saat sekarang ini masih ada orang yang seperti Pak Laks. Jawaban Mas HRW masih walau sedikit, dan diskusi berlanjut; maka keluarlah judul di atas; atas kesepakatan yang tidak diaklamasikan dengan Mas HRW.

Kata mikul (jawa) atau memikul mengandung arti membawa di atas bahu, kata dhuwur (jawa) artinya tinggi, kata mendhem (jawa) artinya memendam, menanam atau mengubur sedangkan kata jero artinya dalam. Dari arti kata tersebut maka kalimat ungkapan “Mikul dhuwur mendhem jero” memiliki makna menjunjung tinggi sesuatu dan memendam sesuatu dengan dalam. (dirujuk PK 11.00, 17 Juni 2021).

Biarkan maknawi dari diksi itu menjadi urusan para ahli bahasa; ltulisan ini akan menganalisisnya menggunakan pisau lain. Pada saat SLTA tahun 1968 penulis pernah mendapatkan materi pembelajaran tentang kuadran; maksudnya dalam mengnalisis sesuatu kita bisa menggunakan pola berpasangan imbang dan tak imbang. Pola itu akan kita temukan empat model, dan untuk itu kita mencoba mengkaitkan dengan perilaku manusia. Empat pasangan kuadran ini pernah juga dibahas pada satu sidang ujian terbuka calon doktor oleh Prof.M.Mukri dengan mengutip dasar aslinya dari tulisan terkenal pujangga Islam pada jamnnya (kuadran Imam Al-Ghazali).

Manusia itu ada empat (tipe). Pertama, manusia yang tahu dan tahu bahwa dia tahu. Itu orang berilmu, maka ikutilah dia!. Kedua, manusia yang tahu dan tidak tahu bahwa dirinya tahu. Itu orang yang tidur, maka bangunkanlah dia. Ketiga, manusia yang tidak tahu dan tahu bahwa dia tidak tahu. Itu pencari petunjuk, maka berilah dia petunjuk. Keempat, manusia yang tidak tahu dan tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu. Itu orang dungu, maka tolaklah dia. (19 Juni 2021).

Sedangkan dalam tulisan ini akan mengadopsi pemikiran di atas dengan memposisikan mikul duwur mendem jero sebagai obyek telaah permodelan.

Model pertama mikul dhuwur mendhem jero; model ini adalah model ideal yang pada umumnya dalam rangka menghormati orang tua atau pemimpin, kita seoleh olah diharuskan selalu menyembunyikan kekurangannya, dan mengemukakan kebaikannya.

Model kedua mikul endhek (rendah) mendhem jero; model ini mendeskripsikan perilaku yang tidak perlu mengenang jasa jasa baik orang, yang penting tidak mengungkit dosa dosanya. Kebaikan itu keharusan jadi untuk apa di kenang apalagi diumbar. Sementara keburukannya harus ditanam dalam dalam, tidak perlu diungkit.

Model ketiga mikul endhek mendhem cethek; model ini mendeskripsikan perilaku yang masa bodo mau berjasa mau banyak dosa terserah aja. Manusia yang memang harus begitu tidak ada baik semua dan tidak ada yang buruk semua. Jadi kalau mau diungkap kekurangannya ya ungkap saja, atau mau memuji kebaikannya yang puji saja. Menggunakan adagium Gus Dur…Gitu aja kok repot.

Model keempat mikul dhuwur mendhem cethek: model ini mendeskripsikan perilaku yang menghormati jasa jasa baik orang namun tidak harus menutupi kelemahannya. Dosa yang tetap dosa sekalipun dia memiliki jasa yang banyak.

Keempat hal itu hanya pisau analisis dan membuat rumahnya; sementara apakah dalam kehidupan nyata ada keempat perilaku tadi, tinggal sudut pandang mana yang akan kita pakai untuk melihatnya.
Kalau Al Ghazali memposisikan kesempurnaan pada ideal tipe hirarkhis; pada konsep terakhir lebih pada bidang datar; dengan demikian tidak mengklasifikasi atas dasar tingkatan, tetapi lebih pada pengelompokkan yang datar dan mencair.

Atas nama hakikat kemerdekaan manusia merdeka; maka kita masing masing bebas memberikan maknawi dari mikul dhuwur mendhem jero dengan segala macam uba rampe-nya.***

  • Bagikan