Beranda Kolom Kopi Sore Minta Maaf

Minta Maaf

197
BERBAGI

Oleh Jay Wijayanto

Sayangnya Flo tidak mengenal saya, sehingga tidak minta saya mencarikan cara menyelesaikan persoalannya dengan cara Jogyakarta. Bagi orang Jawa, cara itu penting bahkan sering lebih penting dari substansi. Maka Flo seharusnya minta maaf dengan gaya Mataraman, merendahkan hati dan tak banyak membantah. Kalau mengucap minta maaf tapi masih menyisakan pernyataan yang mengganjal itu bagi orang Jawa masih lamis, masih berhenti di kata tidak dari hati.

Orang Jawa itu kalau dipangku akan lunglai hatinya, tak berdaya, lemas seperti kebanyakan makan kluban kangkung. Sebaliknya kalau ditantang dengan gaya sok formal, ya seperti menyiram api dengan bensin. Sekecap dibalas sekecap itu menyakitkan bagi orang tua Jawa.

Maka saran saya, Dik Flo, pilihlah penasehat yang memahami alam pikir Jawa supaya kriwikan tidak jadi grojokan. Masalahmu itu masalah kecil secara substansi, tetapi caramu menyikapi itu menyulut api. Caramu masih cara sebrang. Ini tentu saja bukan masalah di ranah hukum tapi budaya.

Kalau Adik belajar macapat di ngejaman pojok kraton arah ke Rotowijayan atau menari Jawa, Adik akan paham artinya menjadi luluh. Ekspresi yang besar musti ditampilkan dengan emosi paling dingin. Bahkan kalau adek menari Manortor pun Adik harus merundukkan pandangan, sehingga mata tidak pencilakan menatap para tamu pria yang datang, hanya jarimu musti kaujentikkan dengan tajam.

Bottom line-nya emosi itu tidak diumbar, tetapi kita kendalikan, dihela dengan lembut seperti menggandeng anak yang baru belajar berjalan, atau membelai kekasih yang sudah paham jalan kamasutra.

*Tulisan ini bersumber dari catatan Jay Wijayanto

Loading...