Beranda News Liputan Khusus Miskin dan Tinggal di Bilik Bekas Toilet, Nenek Ini Tak Pernah Terima...

Miskin dan Tinggal di Bilik Bekas Toilet, Nenek Ini Tak Pernah Terima Bantuan Pemerintah

289
BERBAGI
Mbah Sukinten terpaksa harus tinggal di bekas toilet di Desa Hajimena, Natar, Lampung Selatan.
Mbah Sukinten terpaksa harus tinggal di bekas toilet di Desa Hajimena, Natar, Lampung Selatan.

Zainal Asikin | Teraslampung.com

LAMPUNG SELATAN–Selama ini  pemerintah tampak gencar memberikan bantuan kepada warga miskin atau kurang mampu. Misalnya melalui Program Keluarga Harapan (PKH), bantuan pangan non tunai (BPNT),  bantuan sosial tunai (BST), bedah rumah,  maupun bantuan lainnya. Namun, di tengah gencarnya aneka program populis itu, masih ada warga miskin yang justru tidak pernah tersentuh bantuan. Misalnya adalah   Sukinten (70), perempuan yang hidup sebatang kara, warga Desa Hajimena, Kecamatan Natar, Lampung Selatan.

BACA: Tinggal di Kandang Sapi, Warga Lampung Selatan Ini Tidak Tersentuh Bantuan Pemerintah

Mbah Sukinten — begitu warga sekitar biasa menyapa — adalah sosok miskin ‘absolut’. Ia benar-benar miskin. Ia terpaksa harus bertahan hidup di sebuah bangunan tua, bilik sempit bekas kamar mandi dan toilet di lokasi bekas tempat pengolahan sampah di Desa Hajimena.

Mirisnya lagi, sudah jelas perempuan tua itu miskin, tetapi ia tidak pernah masuk dalam daftar penerima bantuan pemerintah. Nasibnya Mbah Sukinten sama persis dengan nasib Sukarta (53), warga Dusun Bunut Utara, Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi dan Karsini atau Mbah Kar (72), warga Dusun Bangunrejo, Desa Neglasari, Kecamatan Katibung yang tinggal di kandang sapi.

Mbah Sukinten terpaksa harus tinggal di bekas toilet di Desa Hajimena, Natar, Lampung Selatan.
Mbah Sukinten terpaksa harus tinggal di bekas toilet di Desa Hajimena, Natar, Lampung Selatan.

Saat teraslampung.com berkunjung ke “rumah” Mbah Sukinten, rumah itu sama sekali tidak layak sebagai tempat tinggal. Bangunan tua bekas kamar mandi dan toilet umum itu ukurannya hanya 1 x 2 meter, sebagian dindingnya berbalut terpal plastik, atapnya pun sudah banyak yang bocor.

Kondisi Mbah Sukinten makin nelangsa, karena kedua kakinya sakit asam urat, sehingga kesulitan saat berjalan dan harus menggunakan tongkat dari kayu untuk membantunya berjalan.

Meskipun sakit menderanya, Mbah Sukinten tidak pernah berusaha berobat.

“Jangankan untuk berobat, untuk makan sehari-hari saja susah karena nggak punya duit,”kata nenek Sukinten dengan suara lirih kepada teraslampung.com, Rabu (24/6/2020).

Nenek Sukinten menceritakan, ia tinggal di bangunan tua bekas kamar mandi dan toilet umum tersebut sejak delapan tahun silam. Dulunya, tempat ini adalah tempat pengolahan sampah.

Sebelumnya, ia pernah tinggal di wilayah Serang, Banten. Saat ini hidup sendiri atau sebatang kara, setelah ditinggal mati oleh suami dan anak perempuan satu-satunya sekitar lima tahun lalu.

BACA: Hidup Miskin, Warga Lamsel Ini tidak Pernah Terima Bantuan Pemerintah

“Sudah lama suami dan anak saya meninggal. Sekarang saya hanya hidup sendiri dan menumpang di tempat bangunan tua ini karena saya tidak memiliki rumah,” katanya.

Di ruangan berukuran 1x2 meter bekas kamar mandi dan toilit yang dijadikan tempat untuk tidur nenek Sukinten (75), warga Desa Hajimena, Kecamatan Natar, Lampung Selatan.
Di ruangan berukuran 1×2 meter bekas kamar mandi dan toilit yang dijadikan tempat untuk tidur nenek Sukinten (75), warga Desa Hajimena, Kecamatan Natar, Lampung Selatan.

Diakuinya, untuk kebutuhan makan sehari-hari, saat ini hanya menggantungkan hidupnya dari belas kasih warga sekitar tempat bangunan tua bekas kamar mandi dan toilet umum yang ditinggalinya.

“Tadinya saya kerja cari rongsokan, berkeliling kampung sini. Sejak sakit asam urat dan jalan juga susah saya sudah nggak bisa ngerongsok lagi,”ujarnya.

Saat disinggung apakah ia pernah menerima bantuan dari pemerintah daerah, nenek Sukinten mengaku belum pernah sekalipun mendapat bantuan dari pemerintah daerah dalam bentuk apa pun selama ia tinggal di bilik sempit dan kumuh itu.

“Selama saya tinggal di sini, belum pernah saya dapat bantuan dari pemerintah. Ya saya hanya bisa pasrah dan dijalani aja. Ada yang kasih makan ya saya makan kalau tidak ada ya diem aja. Nggak mau saya minta-minta” ungkapnya, dengan raut wajah sedih.

Ruangan yang dijadikannya sebagai tempat tidurnya itu, sebenarnya belum sepenuhnya aman karena lubang toiletnya masih ada. Supaya tidak bau, lubang bekas toilet (closed) itu ditutup.

Di tengah rasa sepi diusinya senjanya ini, nenek Sukinten terus menunggu dan berharap mendapatkan bantuan pemerintah serta diberikan tempat tinggal yang laik untuk dihuni pada masa tuanya.

Nenek Sukinten (75), tinggal dan hidup sendiri dibangunan bekas kamar mandi dan toilet umum di Desa Hajimena, Kecamatan Natar, Lampung Selatan.
Nenek Sukinten (75), tinggal dan hidup sendiri dibangunan bekas kamar mandi dan toilet umum di Desa Hajimena, Kecamatan Natar, Lampung Selatan.

Syafnijal, tetangga Sukintem, sangat menyayangkan tak satu pun program bantuan dari pemerintah yang “mampir” ke gubuk Mbah Sukinem. Menurutnya, seharusnya orang seperti Mbah Sukinem itulah yang menjadi prioritas penerima bantuan dari pemerintah.

“Saya berharap, nenek Sukinten dapat bantuan dari pemerintah suapaya dia (nenek) dapat menjalani kehidupan yang layak dan juga bisa mengobati penyakit yang dideritanya selama ini,” kata Syafnijal.

Loading...