Beranda Seni Esai Mitos dalam “Rumah Kawin”-nya Zen Hae*

Mitos dalam “Rumah Kawin”-nya Zen Hae*

221
BERBAGI

Oyos Saroso H.N.

SEPERTI tercatat dalam nujuman, pada Kamis Wage, tanggal 19 bulan keempat Imlek 2549, di usianya ke-24, seorang gadis bershio kelinci, putri pemilik restoran chinese food “Tiram Selatan” di bilangan kota tua itu, menjadi burung. Seekor jekimpreng. Hitam, tentu saja. Sayap dan ekornya hampir hangus ketika ia mencoba meloloskan diri dari kobaran api di rumahnya pada suatu sore yang nahas, di antara amukan orang-orang bermata merah yang bengis lagi ganas.

Penggalan kisah di atas merupakan bagian pembuka kisah “Putri Tiram Selatan” dalam cerpen Zen Hae berjudul “Taman Pemulung”. Bersama delapan cerpen lainnya, cerpen tersebut diterbitkan menjadi satu kumpulan cerpen bertajuk Rumah Kawin (diterbitkan Kata Kita, Depok: Oktober 2004).

Meskipun kisah berubah wujudnya putri pemilik restoran chinese food itu sudah terbaca dalam nujuman–sehingga sangat kuat bau mitosnya–pada dasarnya kisah (cerpen) itu dapat kita temukan referensinya dalam kehidupan riil. Secara implisit, ia akan menemukan signifikansinya dengan sebuah huru-hara menjelang jatuhnya rezim Orde Baru. Yakni, ketika orang-orang kalap yang digerakkan oleh “tangan yang tak terjamah” meluluhlantakkan Jakarta dan memerkosa gadis-gadis etnis Tionghoa. Dengan cukup apik, Zen Hae mengawinkan mitos dan realitas ke dalam cerpennya.

Mitos agaknya memang menjadi perhatian khusus Zen Hae dalam cerpen-cerpennya. Bahkan, bisa dikatakan hampir semua cerpen Zen dalam antologi ini berangkat dari mitos dan dunia surealis. Selain “Taman Pemulung”, mitos juga sangat kuat dalam cerpen “Rumah Jagal” (kisah tentang Ceu Tarmi yang kemasukan setan), “Hikayat Siti Rahma” (tentang perempuan yang menjadi pohon asam), “Kelewang Batu” (hikayat Naga Merah), “Hikayat Petarung Kampung” (cerita pertarungan jago silat), “Rumah Kawin”, dan “Segalanya Terbakar di Matamu”. Sementara surealis tampak kuat dalam cerpen “Kereta Ungu” dan “Kota Anjing”.

Di dunia sastra kreatif, “lari ke mitos” merupakan salah satu strategi alternatif untuk keluar dari mainstream besar tema-tema realis-komtemporer. “Lari ke mitos” juga menjadi cara untuk mengkamuflasekan kritik sosial atau penolakan terhadap realitas sosial. Dalam konteks inilah alasan Zen Hae untuk “lari” (atau kembali) ke mitos menemukan pembenarannya.

Kisah dalam cerpen “Rumah Jagal”, misalnya, tidak begitu saja dibaca sekadar sebagai cerita tentang Ceu Tarmi yang kesurupan setan yang berasal dari pohon jamblang. Meskipun Zen Hae dengan lihai menghubungkan peristiwa kesurupan dengan sebuah puisi “Rumah Jagal” karya penyair Mahmuda Tongga dan monster Minataur dalam buku Mythologies, kita akan bisa membaca bahwa inti dari kisah cerpen tersebut tak lepas dari peristiwa sosial-politik pasca-tragedi 27 Juli 1996.

Hal yang sama juga terjadi dalam cerpen berjudul “Hikayat Siti Rahima”. Meskipun berkisah tentang arwah seorang perempuan yang menyatu dengan pohon asam, cerpen tersebut sebenarnya bercerita tentang peristiwa yang sangat dekat dengan kita: penggusuran tanah dan nasib. Bercerita dalam posisi sebagai roh atau orang yang sudah mati merupakan cara untuk menyiasati keadaan. Itulah posisi “orang kalah”, yang hanya bisa membalaskan dendam nasibnya setelah menjadi arwah. Hampir sama dengan kisah sinetron dan film Indonesia yang tokohnya menang dan membalaskan dendam setelah sang tokoh mati.

Dengan cukup memukau, Zen bukan saja bertutur tentang “perjuangan” Siti Rahima untuk bertahan-menyatu dengan pohon asam, tetapi juga tentang proses dehumanisasi orang-orang Betawi. Dalam dunia nyata, kita tahu, orang-orang Betawi terpinggirkan oleh keserakahan manusia yang mengatasnamakan pembangunan. Jika sudah atan nama pembangunan, jangankan pohon keramat; rumah-rumah penduduk pun akan dengan sangat gampang digusur dengan ganti rugi tanah yang kecil.

Lewat struktur cerita yang dibangun oleh beberapa peristiwa, pembaca bisa menemukan signifikansi antara mitos Putri Rahima dengan realitas masyarakat Betawi atau sikap pengarang terhadap realitas. Mitos yang digali Zen dalam “Hikayat Siti Rahima”, pada titik tertentu juga mencerminkan kehidupan manusia Betawi yang tersingkir oleh jargon “pembangunanisme”.

Dalam cerpen “Hikayat Siti Rahima”, Zen tidak menempatkan mitos semata-mata sebagai “hal yang diceritakan” (mitos yang bersifat naratif dan menghibur), tetapi juga mengeksplorasi apa yang disebut GS Kirk, seorang profesor dari Universitas Cambridge, sebagai “mitos eksplanatoris yang lebih kompleks dan mendasar”. Pada titik tertentu, cerpen “Hikayat Siti Rahima” bahkan sudah masuk dalam kategori mitos eskatalogis, yaitu kisah yang dibangun dari dunia kematian imajiner.

Dalam hal ini, fungsi eksplanatori jauh menjadi lebih luas dan dalam ketimbang sekadar bercerita. Persoalan direfleksikan dalam cerita yang tidak selalu menuntut adanya penyelesaian masalah. Yang ditampilkan Zen adalah “abstraksi citra yang memuat makna”. Yakni, makna yang implisit, yang mewujud dalam bentuk metafora, perlambang, bunyi, isyarat, dan kode-kode budaya tertentu. Kesadaran akan hal inilah, agaknya, yang menyebabkan cerpen-cerpen Zen Hae tampak dengan ketat mempertimbangkan pemakaian bahasa.

Daya abstraksi sangat kuat dimiliki Zen. Kekuatan daya abstraksi yang didukung oleh eksposisi yang prima menjadikan cerpen-cerpen Zen Hae terasa mengalir lancar. Kekuatan menjabarkan abstraksi ke dalam bentuk cerita itulah yang menyebabkan cerpen-cerpen Zen tidak terjebak menjadi proses pemindahan kisah sehari-hari menjadi sebuah cerpen. Kuatnya daya abstraksi membuat kehidupan dalam cerpen-cerpen Zen tampak berjarak dengan kehidupan sehari-hari pengarangnya.

Zen tidak hanya banyak bermain metafora dan mengeksplorasi bahasa Indonesia sedemikian dalamnya, tetapi juga menampilkan eksposisi yang prima. Eksposisi yang di sana-sini cenderung berkepanjangan itu, pada beberapa cerpen, justru menjadi kekuatan yang mengalahkan konflik. Kekuatan eksposisi dalam cerpen-cerpen Zen Hae, mungkin saja, disebabkan oleh peguasaannya terhadap teori-teori sastra dan linguistik, mengingat Zen pernah mengenyam pendidikan bahasa dan sastra.

Memang, teori-teori sastra atau teori-teori lingustik (termasuk semiotik) tidak ada hubungannya dengan teori-teori sastra. Artinya, seseorang tak perlu belajar teori sastra lebih dulu untuk menjadi cerpenis, novelis, atau penyair. Namun, dalam beberapa kasus sastrawan, teori-teori yang pernah dibaca oleh seorang pengarang akan berpengaruh terhadap gaya atau cara ungkap. Dalam hal ini, kekuatan eksposisi yang ditampilkan Zen Hae, saya kira, tak akan pernah terwujud jika dia tidak belajar dan menguasi tentang teori eksposisi.

Warna Lokal

Sembilan cerpen Zen Hae menyiratkan satu hal: Zen sangat piawai bertutur. Saking piawainya, karena asyik dengan permainan eksposisi, konflik yang menjadi kekuatan sebuah cerpen acap kurang tergarap. Saya curiga, jangan-jangan Zen tidak terlalu tertarik untuk menggali tema dengan mengembangkan konflik.

Hampir semua cerpen Zen Hae tidak menggarap konflik dengan cukup jitu. Namun, mungkin saja ini sebagai hal yang disengaja. Artinya, Zen memang tidak menciptakan cerpen sebagaimana layaknya sebuah cerpen yang kita kenal selama ini: ada tokoh, alur, konflik, dan penyelesaian. Lagi pula, bukankah sebuah cerpen tidak harus menawarkan penyelesaian masalah dan memuaskan semua pembaca?

Selain upayanya melakukan eksposisi dan mengeksplorasi bahasa, kekuatan lain Zen adalah dalam hal bercerita. Ia bukan saja menjadi pencerita yang baik, tetapi bisa menggambarkan setting secara subtil. Setting itulah yang kemudian menjadi unsur pokok penciptaan suasana. Ia terus bergerak, berkembang, secara dinamis dalam alur cerita. Setting tersebut juga menjadi apa yang disebut Lucien Goldaman sebagai vision du monde (pandangan dunia).

Meskipun dibangun dari dunia mitos, cerpen-cerpen Zen tetap berangkat dari realitas. Artinya, bukan mitos itu sendiri yang ingin dikedepankan Zen. Sama seperti halnya ketika Zen mengeksplorasi khasanah budaya Betawi dalam “Rumah Kawin”, “Kelewang Batu”, dan menggali kembali cerita silat dalam “Hikayat Petarung Kampung”. Dengan cara bertutur yang memikat, perkawinan antara mitos dan realitas itu tidak menjebakkan penulisnya menjadi juru khotbah atau pengajar filsafat.

Cerpen “Rumah Kawin”, misalnya, sangat menarik untuk dibaca karena bisa memperkaya pengetahuan pembacanya tentang budaya Betawi karena mendedahkan warna lokal yang sangat kuat. Pembaca yang hanya memiliki pemahaman terbatas tentang budaya Betawi akan bertambah pengetahuannya tentang kesenian Betawi dan tata sosial masyarakat Betawi. Diksi-diksi Betawi–yang berpeluang menjadi arkhais–seperti “jekimpreng”, “teh yan”, “cukin”, “capri”, “panjak”, dll dieksplorasi lagi oleh Zen. Dengan menampilkan setting rumah kawin, yakni rumah tempat penyelenggaraan pesta, lengkap dengan tradisi cokeknya, cerpen ini mengandung muatan lengkap budaya Betawi.

Sayangnya, peluang budaya Betawi untuk dieksplorasi lebih jauh tidak terwujud. Gambaran tentang bagaimana sifat terbuka warga Betawi yang suka bicara “cablak” tidak tergambar dalam cerpen itu. Zen terlihat terlampau sadar pada pilihan bahasa sehingga ruh dari budaya Betawi itu kurang tampak.

Selain penggarapan konflik dalam beberapa cerpen, di sana-sini masih ada kesilapan dilakukan Zen Hae. Ketika berkisah tentang “Si Radja Djoesta” dalam cerpen “Taman Pemulung” (jadi, cerita ini adalah cerita di dalam cerita), penutur mengisahkan tentang iklan yang hanya menawarkan pakansi ke sebuah gua di tengah hutan yang terletak sekitar lima kilometer arah timur pusat kota Kutoarjo. Gua itu menurut kepercayaan penduduk setempat pernah menjadi tempat sembunyi Pangeran Diponegoro. Tak salah lagi, yang dimaksud Zen Hae adalah Gua Selarong!

Penyebutan nama tempat (sebuah gua yang berjarak lima kilometer arah timur Kutoarjo yang dijadikan tempat persembunyian Pangeran Diponegoro) menunjukkan Zen kurang teliti. Sebab, realitasnya, Gua Selarong (Zen tidak menyebutkan nama guanya) jaraknya lebih dari dua puluh kilometer arah timur Kutoarjo. Gua tersebut masuk wilayah Yogyakarta dan lebih dekat dengan Purworejo ketimbang Kutoarjo. Meskipun cerpen merupakan cerita fiksi yang sudah mengalami sekian banyak proses, jika ceritanya berangkat dari riset sosial, maka validitas nama tempat, posisi geografis, dsb harus tetap terjaga.

Terlepas dari itu semua, cerpen-cerpen Zen Hae menurut saya sangat berharga untuk dijadikan bahan pengkajian. Cerpen-cerpen Zen barangkali bisa menjadi salah satu penanda lahirnya genre cerpen yang relatif panjang “dengan kekuatan cerita minus konflik”. Kumpulan cerpen ini setidaknya kembali menyadarkan kita akan satu hal: betapa banyaknya mitos yang belum digali para sastrawan kita. Tentu, penggalian yang tidak sekadar didasarkan untuk melakukan reproduksi mitos yang menyebabkan daya kreatif justru jadi lemah. ***

*Pernah dimuat di Media Indonesia, Minggu, 28 November 2004