Beranda Hukum MK Kabulkan Permohonan Uji Materi Mantan Ketua KPK Antasari Azhar

MK Kabulkan Permohonan Uji Materi Mantan Ketua KPK Antasari Azhar

183
BERBAGI
Bambang
Satriaji/Teraslampung.com

Antasari Azhar

Jakarta—Ruang sidang Mahkamah Konstitusi (MK) menjadi arena penuh hari saat
ketua Majelis Ketua Hamdan Zoelva menyatakan mengabulkan permohonan uji materi
(judicial review) UU KUHAP yang diajukan mantan Bekas Ketua Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar, Kamis (6/3).

Begitu Hamdan Zoelva menyatakan permohonan Antasari diterima, pria asal
Palembang yang pernah bertugas di Kejati Lampung itu tak kuasa menahan menangis.
Antasari tampak beberapa kali menyeka air matanya. Di sampingnya, Ida
Laksmiwati (istri Antasari) dan anak perempuannya, Ajeng Oktarifka,  matanya juga tampak berkaca-kaca.

“Tiada kata lain selain alhamdulilah. Doa kami dikabulkan Allah,” ujar
Antasari, seusai sidang MK.

Beberapa
waktu lalu PK yang diajukan Antasari ditolak Mahkamah Agung sehingga ia terpaksa
harus melanjutkan masa penahananya yang hingga kini sudah selama lima tahun.
Antari dituduh menjadi otak pembunuhan direktur PT Rajawali Putra Banjaran,
Nasrudin Zulkarnaen.
Antasari
mengatakan masih ada dua hal belum jelas terkait kasus pembunuhan Nasrudin yang
dituduhkan melibatkan dirinya  Pertama,
tidak diketahui siapa yang membuat dan mengirimkan pesan pendek (short message
service
/sms) yang mengatasnamakan dirinya terhadap Nomor HP Nasrudin. Pesan
pendek berbunyi ‘Maaf Mas, masalah ini cukup kita berdua saja yang tahu, Kalau
sampai terblow up tahu sendiri konsekuensinya’ itu menjadi alat untuk menjerat
Antasari.
“Persoalannya,
kalau tidak ada sms itu, kok saya bisa didakwakan? Salah saya kalau saya
katakan rekayasa? SMS tidak ada tapi kok saya didakwakan?” ujarnya.
Kedua,
penghilangan barang bukti yakni baju korban. Menurut Antasari, baju korban
sangat penting karena darah di baju tersebut bisa dipindai sehingga bisa
diketahui kapan korban ditembak.
Ketiga,
proyektil dan senjata yang dijadikan tidak sesuai. Proyektil yang dihadirkan di
persidangan adalah kaliber 9 mm dan senjata revolver. Di persidangan, Antasari
mengutip pendapat alm ahli forensik UI dr Abdul Munim Idris, proyektil tersebut
tidak cocok dengan revolver.
Menurut
Antasari dia sudah mengantongi bukti-bukti baru (novum) dalam pengajuan PK
selanjutnya. Novum itu, kata dia, nantinya akan diungkap di persidangan PK.
“Novum
itu ada. Termasuk pengakuan dari seseorang yang ingin menebus dosa kepada saya.
Orang itu mengaku dialah pertama kali mengelaborasi,” ujar Antasari.

Loading...