Mobil Bagus, Jalan Mulus, Sopir ‘Gilo’

  • Bagikan

Oleh : Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Sosial FKIP Unila

Ini aslinya adalah diksi dalam bahasa dialek Palembang dengan menggantikan kata gila menjadi gilo. Adapun makna bebasnya adalah kendaraan bagus prasarana jalan juga bagus, tetapi pengendaranya gila. Bisa dibayangkan bagaimana lajunya kendaraan itu di jalan raya karena dikendarai oleh orang yang tidak waras — tentu saja menghawatirkan dan sangat mungkin membahayakan orang lain.

Ternyata “sanepo” atau kiasan itu ingin menggambarkan bagaimana peran penting pemimpin sebagai pengemudi institusi dalam menjalankan roda organisasi. Peran sentral ini menentukan bagaimana gerak langkah suatu sistem yang harus dijalankan oleh institusi dalam gerak roda organisasi. Ritme, gerak laju, penganggaran serta semua aturan dan tatalaksana organisasi ada pada kendali pemimpin sebagai pengemudi.

Namun demikian, diksi gilo itu dalam ranah budaya Palembang bisa berarti positif jika dihubungkan dengan bagaimana tindakan yang diambil oleh pemimpin untuk kepentingan dan kemaslahatan bersama. Sebagai contoh, karena kebuntuan birokrasi bisa saja seorang pemimpin melakukan tindakan by pass agar kepentingan bersama dalam arti positif dapat diselesaikan dengan cepat, dengan catatan bukan pelanggaran berjamaah, apalagi korupsi berjamaah.

Berbeda dengan apabila “iklim” yang dibangun oleh pengemudi (baca: pimpinan) dalam menjalankan kendaraan; jika pengemudi selalu bertikai dengan penumpang, teknisi dan semua yang ada dalam kendaraan itu, tentu saja iklim yang terbangun adalah ketidaknyamanan. Demikian juga dalam organisasi. Jika iklim yang terbangun tidak kondusif, maka bisa diterka bahwa sesama anggota akan saling mencurigai, atau bahkan saling menghambat. Tentu saja jalannya organisasi dalam iklim yang seperti ini menggunakan diksi Palembang disebut juga dengan “gilo”.

Pada masa pandemi seperti saat ini yang seharusnya kita menjalankan organisasi dengan baik; karena dana cukup besar disiapkan, vaksin terus menerus digelontorkan; namun masih juga kita temukan perilaku “gilo” tadi. Misalnya memvaksinasi dengan vaksin kosong, mengkorupsi dana bantuan sosial untuk mereka yang terdampak, dan masih banyak lagi perilaku menyimpang yang ditampilkan. Termasuk juga memanfaatkan situasi untuk kepentingan politik sesaat bagi kepentingan pencitraan persiapan pemilihan yang masih jauh waktunya. Hal ini menjadikan keprihatinan yang mendalam bagi kita yang masih merasa waras berpikir.

Belum lagi bingungnya rakyat menghadapi situasi: dikatakan daerahnya merah, vaksinasi gratis di mana mana; begitu ditanyakan ke Pusat Kesehatan Masyarakat, jawaban standar “masih dalam perjalanan”. Ini seperti hal pengganti  jawaban “Premium Habis” yang diganti dengan “Maaf Premium dalam Perjalanan”. Berpikir heksagonal seperti ini adalah trik untuk menghindar dari tanggungjawab yang sepurna; karena kita bisa memberikan paling tidak enam alasan sempurna seperti halnya gambar sisi dan titik sudut hegsagolan.

Untuk keluar dari daerah merah tidak cukup hanya mengandalkan imbauan, dan gerak organisasi lembaga yang standard; akan tetapi diperlukan terobosan terobosan baru, dan keberanian pemimpin yang exstraordinery dalam mengambil keputusan penyelamatan warga. Terutama mereka yang terdampak secara ekonomi; perlu ada upaya upaya serius bukan sembunyi di balik meja.

Kita semua sudah harus memikirkan bagaimana dampak lanjut dari Virus Corona ini, bagaimana nasib keluarga yang ditinggal tulang punggung pencari kehidupan, bagaimana anak anak yang jadi yatim dan piatu atau mungkin yatim piatu. Semua memerlukan kebijakan pimpinan segera, bukan menunggu instruksi pusat. Sebagai contoh pada tahun ajaran baru dari SD, SMP sampai SLTA, jika mungkin sampai PT, anak anak ini perlu mendapatkan perhatian lebih. Bisa berupa pembebasan biaya atau apapun namanya, dan itu harus merupakan keputusan bersama antara eksekutif dan legeslatif. Jangan kedua lembaga ini seolah bermain sepak bola di tengah lapangan yang becek. Janganlah hanya ingat pada rakyat saat butuh pilihan mereka, tetapi saat inilah mari berjuang untuk mereka.

Penyekatan kota atau daerah boleh kita lakukan, tetapi penyekatan nasib anak bangsa sesuatu yang tidak harus kita lakukan. Justru seharusnya mulai sekarang, sebelum mereka teriak, sudah harus kita siapkan perangkat keras dan lunaknya. Di sini diperlukan “kegilaan” berpikir dari pemimpin yang ingin memajukan daerah dan rakyatnya. Upaya-upaya terobosan baru untuk menyelamatkan generasi harus segera dilakukan; sehingga masa depan negeri ini akan lebih baik.

Melalui tulisan ini saya ingin menyampaikan ribuan terimakasih kepada para relawan baik yang ada di level nasional maupun daerah dan para wadyabala pers yang telah menjadi juru selamat bagi saudara kita yang terkena covid 19. Dari yang menyediakan dana bersama, tabung oksigen, sampai berupa sembako dengan gagah perkasa menembus badai corona. Demikian juga kepada teman teman alumni FIP Unsri yang telah berdiskusi dan menginspirasi terbitnya tulisan ini untuk menggugah semua pihak termasuk kita semua, untuk bahumembahu menyelamatkan negeri.***

 

  • Bagikan