Mobil-Mobilan

  • Bagikan

Syamsul Arifien*

Dari seruas batang bambu dan sepotong dahan kayu dadap, imajinasi kreasi mengalir bebas sesuai yang tergambar di kepala. Dengan penuh riang, anak-anak seusia SD menghambiskan waktu bermainnya di halaman rumah-rumah kampung yang masih perawan dari pencemaran asap kenalpot kendaraan.

Alat permainan mobil-mobilan yang terbuat dari kreasi batang bambu dan kayu dadap itupun sudah cukup membikin bahagia anak-anak hingga sampai lupa waktu makan. Demikianlah, ketika masa-masa bermain dan alat permainan anak-anak belum dimanjakan industri  seperti sekarang, yang serba instan namun mematikan daya imajinasi, daya kreasi, dan juga ekstrimnya, barangkali penjajahan halus akal pikiran.

Anak-anak kita sekarang tak ada lagi yang mengenal mobil-mobilan bambu atau mobil-mobilan dari kulit jeruk. Ya tidak, tidak sama sekali. Termasuk di kampung-kampung. Isi kepala warga sudah sangat jatuh cinta dan menikmati serangan ‘polusi udara’ knalpot kendaraan. Maka tak heran, jika dari bangun tidur pagi dan menyruput kopi, pun langsung  kepikiran cicilan kredit mobil dan motor.

***

Kunjungan presiden Jokowi ke bangsa serumpun Malaysia pekan ini, telah memutuskan kerjasama bidang industri otomotif — melahirkan ‘jabang bayi’  produksi genre baru mobil proton. Sebelumnya, beberapa tahun lalu mobil merk Proton Malaysia itu pernah di pamerkan di arena Pekan Raya Jakarta, namin tidak pernah terlihat mengaspal di jalanan kota-kota besar Indonesia. Sementara, di negara produsennya sendiri, konon pasar Proton juga suram.

Jika dianalogikan dengan logika mobil-mobilan bambu atau kulit jeruk, barangkali nanti beban dan lamunan  cicilan kredit mobil saat ngopi bangun tidur pagi mudah-mudahan bisa terobati. Misalnya, anak-anak negeri bisa berganti hayalan membeli Proton dengan duit Trisakti.

Lain masalahnya, jika ternyata angan-angan itu nanti terpaksa harus terkubur kembali atau menguap bersama udara, sebagaimana efouria program mobil nasional Esemka tempo hari,  yang gelegar suaranya bak halilintar tapi nonsen hasilnya, kecuali cuma sukses sebagai ‘kendaraan’  walikota Solo masuk Jakarta.

Apakah kelak Proton juga akan bernasib sama seperti Esemka? Yang pasti, belum lagi presiden tiba kembali ke Jakarta, sudah keburu memanen sinisme dan cibiran.  Tapi biarlah, daripada otak dan hati tersandera oleh propaganda-propaganda fatamorgana, lebih baik melanjutkan minum kopi sambil berpikir keras bagaimana bisa mengansur lunas mobil atau motor kita.

*Ketua Kelompok Musik Gamelan Jamus Kalimosodo Lampung

Loading...
  • Bagikan