Bisnis, IKM  

Modal Rp200 Ribu, Warga Desa Titiwangi Lamsel Ini Kini Menikmati Legitnya Bisnis Keripik Pisang

Yuli Asmara, pemilik UMKM keripik pisang "Rendra Utama". Ia memperjakan warga sekitar rumahnya untuk mengembangkan bisnisnya. Foto: Teraslampung.com/Dandy Ibrahim
Bagikan/Suka/Tweet:

TERASLAMPUNG.COM, LAMPUNG SELATAN — Dengan modal awal Rp200 ribu Yuli Asmara (41) merintis usaha keripik pisang di Dusun Candi Rejo, Desa Titiwangi, Kecamatan Candipuro, Lampung Selatan.

Sekitar tahun 2012 dia mulai usaha tersebut bermitra dengan pengusaha Kripik Pisang Askha Jaya di Jalan Pagar Alam Kota Bandarlampung.

“Sekarang omzet saya sekitar 20 juta/bulan dengan pengiriman keripik pisang sekitar 300 kg/hari,” katanya, di tempat usahanya yang dilingkapi empat tungku penggoreng berukuran besar.

Usaha kripik pisang yang diberi nama “Rendra Utama” itu menggunakan pisang kepok Manado sebagai bahan utamanya dan sudah memiliki sertifikat halal dan kesehatan.

“Cuma pisang Kepok Menado yang paling pas. Kalau pisang lain tekturnya berubah,” kata Yuli

Di masa pandemi ini Yuli Asmara hanya mengandalkan 6 sampai 7 orang pegawainya. Mereka bertugas mengupas kulit pisang, menjaga api/tungku, dan menggoreng pisang.

“Sebelum pandemi Covid-19, saya bisa mempekerjakan warga sekitar 20 sampai 25 orang. Selama pandemi terpaksa kita kurangi dari empat tunggku sekarang yang kami pakai hanya dua tungku,” jelasnya.

Pandemi Covid-19 juga sempat menghentikan usaha Yuli selama dua bulan. Hal itu karena tidak ada order dari mitranya di Bandarlampung.

“Awal-awal pandemi waktu PPKM level IV saya berhenti selama dua bulan, sebab memang tidak ada yang beli pisang,” ungkap Yuli.

Warga Desa Titiwangi bekerja di usaha keripik pisang “Rendra Utama”.

Yuli Asmara mengaku, usaha keripik pisang Rendra Utama menghidupkan ekomoni warga sekitar. Menurut Yuli, pengeluarannya dalam satu bulan untuk gaji karyawannya berkisar Rp7 sampai Rp8 juta.

“Belum yang harian ya. Untuk pengupas pisang sehari bisa dapat Rp40 sampai Rp50 ribu,” jelas pemilik usaha keripik pisang Hendra Utama Yuli Asmara.

Sedangkan untuk bahan baku pisang yaitu pisang Ambon Menado selama ini masih tidak kesulitan, masih bisa di dapat di sekitar Lampung Selatan dan kabupaten lain.

“Kecuali lagi kosong ya, kalau lagi kosong kita datangkan pisang Kepok Menado dari Bengkulu,” jelasnya.

Yuli Asmara masih berharap mendapatkan bantuan berupa pinjaman lunak untuk membuat usahanya lebih besar lagi dengan menambah peralatannya.

“Kalau dapat bantuan pinjaman lunak saya ingin beli alat-alat penggoreng lagi. Selain itu kalau ada penyuluhan juga saya siap mengikutinya,” kata dia.

Naiknya harga minyak goreng juga berpengaruh bagi usahanya yang menggunakan minyak goreng sebagai bahan utamanya selain pisang.

“Harga minyak naik ya harga pisang kripik juga mengalami kenaikan sedikit,” katanya tapi enggan menyebutkan nilainya.

Kripik pisang Hendra Utama menghasilkan kripik pisang Kepok Ambon dasar, pengubahan rasa dikerjakan oleh mitranya yaitu Askha Jaya.

Di belakang tenpat usaha penggorengan pisang tampak tiga orang ibu yang tengah asyik mengupas pisang. Mereka rata-rata berusia diatas 50-an tahun. Salah seorang bernama Supinah (70),  nenek 5 cucu dan memiliki juga 15 buyut.

“Saya sudah enam tahun kerja di sini. Sehari bisa dapat minimal Rp30 ribu kalau saya mengupas pisang sebanyak 100 sisir pisang. Lumayan buat tambahan. Daripada menganggur di rumah,” kata Supinah yang tinggal berseberangan dengan tempatnya bekerja.

Dari Supinah juga teraslampung.com mendapat informasi kalau pemilik usaha kripik pisang itu menyisihkan penghasilannya untuk membangun mushola yang terletak di belakang tempat usahanya.

“Itu yang bangun bos, hampir jadi. Nantinya selain tempat salat warga, juga dipakai untu tempat belajar mengaji anak-anak,” kata Supinah.

Dari pantauan teraslampung.com, musala tersebut sudah selesai sekitar 75 persen dan masih belum dapat digunakan untuk salat.

Dandy Ibrahim