Beranda Pendidikan Model “PBL” dalam Pembelajaran Matematika

Model “PBL” dalam Pembelajaran Matematika

167
BERBAGI
Slamet
Samsoerizal/Teras Lampung.com
Dr. Suryadi, M.T.
JAKARTA-
Salah satu perubahan mendasar dalam pemberlakuan Kurikulum 2013 adalah
model  pembelajaran. Model yang dimaksud
dikenal dengan istilah model pembelajaran berbasis saintifik. Penerapannya di
kelas dilakukan melalui lima langkah, yakni: mengamati, menanya, menalar,
mencoba, dan mengomunikasikan. Itu sebabnya, guru hendaknya dapat melakukan
perubahan mindset.
Pernyataan
tersebut mengemuka dalam Seminar Matematika bertajuk Pendalaman Pemahaman Strategi Pembelajaran Matematika Kreatif dan
Penilaian Kurikulum 2013
di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pendidikan Kejuruan  Jl Budi Utomo 3 Jakarta,
Senin (22/9) .
“Perubahan
yang harus dimiliki guru di antaranya: pengetahuan, persiapan fisik dan mental,
dan persiapan hati untuk bias menjalankan dengan keikhlasan” papar Dr. Suryadi MT, M.T. 
“Penerapan
pendekatan saintifik menuntut adanya perubahan setting dan bentuk pembelajaran
tersendiri. Empat metode yang pembelajaran yang dipandang sejalan dengan
prinsip-prinsip pendekatan saintifik antara lain: PBL (Problem Based Learning, Project Based Learning), Inkuiri, Grup Investigasi” ujar 
Dosen Departemen Matematika FMIPA Universitas Indonesia, tersebut.
Metode-metode
tersebut berusaha membelajarkan siswa untuk mengenal masalah dalam suatu bentuk
permasalahan berdasarkan tema tertentu. Selanjutnya siswa mampu merumuskan
masalah tersebut secara sederhana, mencari solusi atau menguji jawaban
sementara atas suatu masalah atau pertanyaan dengan melakukan penyelidikan
(menemukan fakta-fakta melalui penginderaan). Pada akhirnya, dapat menarik
simpulan dan menyajikannya secara lisan maupun tulisan.
Dalam
seminar yang dihadiri oleh para pengampu mata pelajaran Matematika se-DKI
Jakarta tersebut, Suryadi mencontohkan sebuah strategi Pembelajaran Berbasis
Masalah (Problem Based Learning).
“Pertama,
memahami permasalahan yang ada. Kedua, menyusun suatu strategi. Ketiga
melakukan strategi yang dipilih. Keempat, melihat kembali pekerjaan yang
dilakukan. Strategi tersebut dapat dikombinasikan dengan model pembelajaran
kelompok. Dengan memperhatikan empat unsur penting yakni: adanya peserta dalam
kelompok, adanya aturan kelompok, adanya upaya belajar setiap kelompok, dan adanya
tujuan yang harus dicapai dalam kelompok belajar” tandas Suryadi.
Narasumber
yang sering dijadikan sebagai konsultan Olimpiade Matematika, Drs. H. M. Soleh,
M.Ed dalam sesi lain memberikan materi tentang perlunya kreativitas guru dalam
pembelajaran Matematika. Dalam kaitan ini, diperlukan guru kreatif. Apa
ciri-cirinya?
“Ciri-ciri
guru kreatif adalah mau mengambil resiko, tenang dengan ide setengah masak, mau
memperlonggar kebijakan organisasi, mampu membuat keputusan cepat dan tepat,
pendegar yang baik, tidak terpaku pada kesalahan, dan menyukai pekerjaan,”
tegas Soleh.
Bambang
Heri, SE,  S.Pd dalam makalah berjudul “Panduan
Penilaian Pencapaian Kompetensi Peserta Didik SMP” memberikan rambu-rambu
tentang tiga ranah penilaian: sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
“Penilaian
kompetensi sikap berwujud perilaku. Penilaian kompetensi pengetahuan adalah  penilaian potensi intelektual yang terdiri
atas: tingkatan mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi,
dan mencipta. Penilaian kompetensi keterampilan merupakan pencapaian
keterampilan berpikir dan bertindak dalam ranah konkrit dan abstrak “ ungkap
Instruktur dan pengembang Kurikulum ini. 
***
Loading...