Molnupiravir, Harapan Baru Badai Covid-19 Segera Bisa Berlalu

  • Bagikan
molnupiravir/net

Handrawan Nadesul

Bulan Juli ini ada berita besar. Dunia akan menghentikan badai Covid-19. Diharapkan Covid-19 pasti akan berlalu dalam 4 bulan ke depan, dengan ditemukan obat baru molnupiravir yang sudah lebih setahun menempuh uji coba, dan sekarang selesai fase III uji klinik.

Hasilnya, selain terbukti berkhasiat menekan replikasi virus Covid-19, terbukti aman juga. Pasien ringan dan sedang berhasil sembuh, dan pasien RS lebih singkat hari perawatannya, tidak sampai sakit berat, apalagi kritis. Keberhasilan diperoleh karena berbiaknya virus mampu ditekan obat sejak awal.

Kita tahu sebagian besar kasus Covid sembuh sendiri, dengan atau tanpa obat. Hanya sebagian kecil berlanjut sakit, sebagian lebih kecil menjadi berat, dan atau kritis. Angka kematian normal 3-4 persen, menimpa sebagian besar kelompok lansia, dan komorbid. Sebagian kecil sebab kasus ringan yang berkembang memberat.

Kematian Covid-19 umumnya terjadi sebagai akibat berkecamuknya reaksi tubuh oleh masuknya virus. Seberapa sengit berkecamuk tubuh melawan virus, sehingga kemungkinan terjadi kerusakan paru, reaksi radang, dan gangguan pembekuan darah. Semakin parah ini terjadi, semakin berat mengatasinya.

Gagal napas (ARDS) dan reaksi peradangan berlangsung akibat sengitnya pertempuran virus dilawan sistem imun tubuh sehingga kemungkinan terjadi pemburukan, antara lain, badai sitokin (cytokine storm), dan munculnya komplikasi lain, sebut menggumpalnya darah, yang bila terluput, atau terlambat diatasi, membawa pasien menuju kematian.

Sekali lagi, kasus Covid-19 yang tidak sembuh sendiri hanya sebagian kecil saja. Lebih kecil lagi kasus berat dan kritis. Namun yang sebagian kecil ini penyumbang besar angka kematian.

Makin kurang kesiapan layanan rumah sakit, makin besar kasus yang membutuhkan fasilitas RS yang gagal tertolong. Makin terlambat dan kurang fasilitas tersedia, makin besar yang tak bisa ditolong. Demikian pula apabila faktanya kehabisan tempat tidur, atau fasilitas ICU, dan ketersediaan ventilator.
Sekali lagi, kunci menyetop kejadian yang terlanjur menjadi parah di atas, dengan menghentikan virus berbiak sejak masih di awal agar kejadian pemburukan Covid-19 tidak sampai berlangsung. Obat antivirus harus mampu menjinakkan virus tidak berbiak sejak mulai memasuki tubuh.

Sekarang kita mengandalkan favipiravir. Kita masih menghadapi kasus berat dan kritis yang menjadi tantangan berat kemampuan rumah sakit serta fakta minimnya ketersediaan fasilitas dan tempat tidur. Sementara untuk kasus ringan-sedang juga tergantung seberapa banyak virus memasuki tubuh (viral load), lalu berbiak lebih banyak, sehingga kasus ringan masih berpotensi berkembang menjadi lebih berat, dan atau kritis.

Membaca hasil laporan antivirus molnupiravir, ini harapan maha besar menghapus keputusasaan dunia selama ini, setelah dunia medik masih mencoba dan mencoba obat. Bahkan dengan obat-obat off-label, tidak semua dicoba untuk yang langsung menyetop berbiaknya virus, melainkan untuk tujuan meredam akibat berkecamuknya reaksi tubuh melawan serangan virus.

Remdisivir antivirus sudah dinyatakan tidak memberi manfaat. Ruxolitinib obat kanker darah dicoba untuk meredam peradangan, tocilizunab obat otoimun RA untuk meredam peradangan anti-Interleukin-6. Ivermectin sebagai obat off-label juga diharapkan mampu menekan berbiaknya virus pun, baru tahap uji klinik yang masih belum selesai. Laporan ilmiah Ivermectin masih silang pendapat.

Dunia sangat berharap pada obat baru yang dilaporkan bulan Juli ini. Kehadiran obat yang bisa menenangkan hati dunia karena sudah siap edar dalam 4 bulan ke depan. Mestinya ini yang bikin kita bisa lebih enak tidur. Ada harapan badai Covid pasti akan berlalu. Semoga ini menjadi anugerah bagi dunia, bagi kita semua.****

*Handrawan Nadesul adalah seorang dokter, kolumnis, dan sastrawan

 

  • Bagikan