Beranda Views Opini “Monsun Break”, Saat Hujan Berkurang pada Musim Hujan

“Monsun Break”, Saat Hujan Berkurang pada Musim Hujan

639
BERBAGI
Hujan (ilustrasi)

Oleh Eka Suci Puspita Wulandari
Pengamat Stasiun Maritim Panjang

Saat ini disebagian besar wilayah Indonesia sedang mengalami fase yang dinamakan Monsun Break. Fase ini sudah umum terjadi setiap tahunnya yaitu fase dimana intensitas hujan menurun pada saat musim hujan. Fase ini bukan berarti tidak ada hujan sama sekali hanya saja intensitasnya sedang pada grafik yang menurun.

Apa itu Monsun Break ?

Monsun Break seringkali terjadi pada bulan desember setiap tahunnya namun kondisi ini tidak mempengaruhi seluruh wilayah Indonesia terutama wilayah Kalimantan yang fase aktif dan istirahatnya tidak begitu nampak. Monsun Break terjadi saat angin timur laut berbelok ke arah timur sewaktu di atas laut Cina selatan dan sering membentuk pusaran. Adanya pusaran menghambat gerak monsun ke selatan. Pusaran tersebut sering terjadi dalam bulan Desember.

Dampak Monsun Break Terhadap Wilayah Indonesia

Pada saat monsun aktif, aktivitas awan konvektif selalu lebih besar daripada pada saat monsun break inilah yang menyebabkan intensitas hujan di sebagian besar wilayah Indonesia dalam grafik yang menurun.

Karakteristik awan konvektif pada monsun aktif adalah lebih kuat dan merata karena awan konvektifnya dipengaruhi oleh gangguan yang skalanya besar (monsun), sedangkan karakteristik awan pada monsun break lebih lemah dan terisolasi karena pengaruh lokal. Wilayah laut dan pulau Jawa merupakan wilayah yang sangat dipengaruhi oleh perubahan dari monsun aktif ke break; sedangkan di Kalimantan perbedaan awan konvektif antara saat monsun aktif dan break tidak selalu terlihat.

Wilayah daratan merupakan wilayah yang akan lebih dulu merasakan monsun break dari pada wilayah lautan. Aktivitas awan pada monsun aktif di Kalimantan mencapai puncaknya pada malam hari, sedangkan aktivitas awan pada saat monsun break mencapai puncaknya pada siang hari.

Dampak Monsun Break untuk Wilayah Lampung

Untuk wilayah Lampung sendiri sampai saat ini masih banyak terjadi pembentukan awan konvektif yang menghasilkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Mengapa wilayah Lampung masih terjadi hujan bahkan dengan intensitas lebat ? Faktor cuaca skala lokal sangat berperan dalam kondisi ini. Faktor lokal seperti labilitas udara di wilayah Lampung dalam kondisi yang labil sehingga proses pengangkatan massa udara dari lapisan permukaan masih berjalan dengan baik.

Kondisi kelembaban udara di wilayah atmosfer Lampung masih sangat lembab mulai lapisan 850mb hingga ke lapisan 500mb dimana lapisan ini bisa dianggap sebagai lapisan vital dalam proses pembentukan awan konvektif.

Bersiap Menuju Puncak Hujan

Setelah fase monsun break ini terlewati nantinya intensitas curah hujan akan semakin meningkat dan saat ini di wilayah Indonesia bagian timur seperti Papua, Maluku dan sekitarnya sedang banyak proses pembentukan awan-awan konvektif dengan didukung kondisi atmosfer yang basah di wilayah Indonesia bagian timur.

Perlahan kondisi ini akan semakin meluas di hampir seluruh wilayah Indonesia termasuk Lampung yang saat ini di beberapa wilayah sudah bisa merasakan dampaknya. Puncak musim hujan bisa dicirikan dengan terjadinya hujan yang tidak mengenal waktu meskipun di waktu dini hari.

Seperti yang kita ketahui di waktu dini sudah tidak ada terjadi proses penguapan ke atmosfer yang bisa menyuplai uap air sebagai proses pembentukan awan. Namun memasuki puncak hujan proses adveksi banyak mengambil alih peran tersebut, proses ini merupakan dorongan udara basah ke wilayah udara yang lebih kering sehingga aka nada proses pembentukan udara secara paksa. Inilah yang banyak terjadi ke depannya dan menghasilkan hujan. ***

Loading...