Beranda Kolom Kopi Pagi MOS: Wajib Nyanyi, Baca, dan Kopasus (1)

MOS: Wajib Nyanyi, Baca, dan Kopasus (1)

131
BERBAGI

Slamet Samsoerizal *)

ADA apa dengan MOS (Masa Orientasi Siswa)? Kegiatan yang
diniatkan untuk mengenal sekolah pada jenjang di atasnya bagi siswa baru pada SMP, SMA, dan SMK ini memakan korban.

Tujuan pelaksanaan MOS adalah untuk mengenalkan program
sekolah, lingkungan sekolah, cara belajar, penanaman konsep pengenalan diri peserta didik,dan kepramukaan sebagai pembinaan awal ke arah terbentuknya kultur sekolah yang kondusif bagi proses pembelajaran lebih lanjut sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.

MOS=MOPDB

Jelang awal tahun pelajaran baru, Mendikbud Anies Baswedan sudah mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 2014 tentang Masa Orientasi Peserta Didik Baru di Sekolah dan pada Pasal 3, menegaskan bahwa: “Sekolah dilarang melaksanakan masa orientasi peserta didik yang mengarah kepada tindakan
kekerasan, pelecehan dan/atau tindakan destruktif lainnya yang merugikan peserta didik baru baik secara fisik maupun psikologis baik di dalam maupun di luar sekolah.”

Namun apa yang terjadi? Pada tahun ini dua peristiwa mencoreng pelaksanaan MOS atau yang diistilahkan dengan MOPDB (Masa Orientasi Peserta Didik Baru) di sekolah.

Di Bekasi (Jawa Barat), Evan C Situmorang (12), siswa SMP Flora meninggal, karena diduga berhubungan dengan kegiatan MOS. M Arif Husein, pelajar SMPN 11 Bintan itu juga diduga meninggal, Minggu (2/8), akibat penganiayaan saat mengikuti MOS.

Apabila kita mengamati MOS atau MOPDB di sekolah-sekolah, pelaksanaannya lebih didominasi oleh siswa yang terlibat pada pengurus OSIS. Memang sejumlah materi penting seperti: program sekolah, lingkungan sekolah, cara belajar, penanaman konsep, pengenalan diri peserta didik, dan kepramukaan diberikan oleh kepala sekolah dan guru. Akan tetapi, pelaksanaan MOS yang dilaksanakan 3 – 5 hari tersebut, banyak diselingi oleh perpeloncoan kakak-kakak kelas.

Atas nama pengenalan dan pembinaan sikap mental di sekolah yang lebih tinggi, siswa baru dikerjain dengan wajib tampil ‘aneh’. Atribut kostum diselingi selempang bulu ayam, topi helm dari irisan bola plastik, sambil ngedot laiknya bayi menjadi pemandangan umum. Belum lagi, jika para siswa baru tersebut
hendak meminta tanda tangan sebagai kegiatan berkenalan dengan kakak kelas, ragam hukuman diberikan. Mereka tidak sekedar menyanyi, menari, ada yang diminta nyemplung dan berendam di got, bahkan ada yang entah salah apa tiba-tiba digampar.

Mengapa ini terjadi? Dendam terwaris, adalah inti soalnya. Jika ketika dulu para kakak yang sekarang dapat amanat menjadi panitia MOS dan dahulu mendapat perlakuan tidak menyamankan akan melampiaskannya kepada adik kelasnya. Demikian seterusnya.

Dalam kaitan ini, perlu penelitian tentang pelaksanaan MOS dan signifikansinya dalam proses dan hasil pembelajaran siswa kelak. Pertanyaan mendasar yang perlu diajukan adalah: “Apakah MOS membantu peserta didik dalam mengenal sekolah dengan baik dan mampu meningkatkan prestasi siswa?”Jika penelitian yang dilakukan tepercaya dan hasilnya kurang relevan, tak ada salahnya kegiatan MOS memang mesti ditiadakan.

* Slamet Samsoerizal adalah seorang guru dan pendiri Pusat Kaji Darindo. Tinggal di Bekasi

Loading...