Beranda Views Kopi Pagi MOS: Wajib Nyanyi, Baca, dan Kopasus (2)

MOS: Wajib Nyanyi, Baca, dan Kopasus (2)

278
BERBAGI
Slamet Samsoerizal*
Awal tahun pelajaran ini juga terasa ada yang
‘baru’ lantaran Mendikbud menggagas ihwal dua wajib bagi siswa, yakni: wajib
nyanyi dan wajib baca. Ada apa dengan keduanya?
Wajib Nyanyi dan Baca
Ada  apa dengan dengan
wajib nyanyi dan wajib baca? Dalam rangka Penumbuhan Budi Pekerti bagi kalangan
peserta didik di sekolah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  mewajibkan seluruh tingkatan sekolah di
Indonesia untuk menyanyikan lagu nasional. Melalui jumpa pers, Mendikbud Anies
Baswedan menjelaskan, kegiatan itu  harus dilaksanakan sebelum memulai
kegiatan belajar mengajar setiap hari. Menurut Anies, kegiatan tersebut
diharapkan bisa menanamkan nilai kebangsaan dan kebhinekaan. Sehingga, kata
dia, para siswa dan seluruh warga sekolah bisa tumbuh rasa patriotismenya
kepada negara ini. 
Mengenai penentuan lagu, Anies menyerahkan
keputusannya pada sekolah. Ia juga menegaskan, pihak sekolah juga harus
membiarkan siswa yang memutuskan lagu yang akan dinyanyikan setiap harinya. Dia
bahkan meminta kegiatan ini bisa dipimpin oleh seorang siswa yang berbeda
setiap hari.
Masih
dalam jalur penumbuhan budi pekerti, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
mewajibkan para siswa untuk membaca buku minimal 15 menit sebelum melakukan
kegiatan belajar mengajar di sekolah. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
(Mendikbud) Anies Baswedan menegaskan, kegiatan ini diupayakan bisa dilakukan
setiap hari. Buku apa saja yang perlu dibaca siswa? Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan menyatakan “Buku yang dibaca itu bukan buku mata pelajaran (mapel),”

Menurut
Anies, jenis buku yang akan dibaca itu bebas. Ia menegaskan, Kemendikbud
menyerahkan penetapan ini kepada pihak sekolah terutama Kepala Sekolah
(Kepsek). Hal yang terpenting, kata dia, buku itu harus pantas dan disukai oleh
para siswa sesuai dengan tingkatannya, termasuk di sekolah Satuan Pendidikan
Kerjasama (SPK).

Anies menyebutkan, buku-buku yang dibaca bisa berjenis sastra Indonesia dan
luar negeri. Bahkan, lanjut dia, jenis bacaan serupa koran atau majalah bisa
digunakan sekolah.

Mengenai metode membaca, Anies juga mengungkapkan, hal ini menjadi tugas
sekolah untuk menentukannya. Ia menyebutkan, pihak sekolah bisa menerapkan
metode membaca nyaring, dalam hati dan sebagainya. Bahkan, tambah dia, para
siswa juga boleh membaca dengan sambil tidur-tiduran.

Pada hakikatnya, Anies menjelaskan, program membaca ini diharapkan bisa
menumbuh kembangkan potensi utuh para siswa. Terutama, ujar dia, pada kemampuan
siswa dengan kegiatan membaca buku tersebut. Dengan begitu, lanjut dia, budaya
membaca di Indonesia bisa berkembang ke depannya.

Untuk bisa melihat efek dari kegiatan ini, Anies menerangkan, hal ini bisa
dilihat dari kunjungan para siswa ke Perpustakaan. “Kalau kunjungannya
meningkat, hal ini berarti kegiatan kita berpengaruh,” ujar dia.

Kopassus

Ada apa dengan Kopassus? Cendekiawan
Komaruddin Hidayat mengatakan Indonesia perlu memiliki “pasukan
Kopassus” di dunia pendidikan, atau yang terdiri atas siswa-siswi
terpilih. Apa tujuannya? Untuk menghasilkan sumber daya manusia unggul dan siap
untuk bersaing di dunia internasional.

“Kualitas pendidikan kita masih rendah dan
sulit untuk bersaing. Oleh karena itu diperlukan pasukan khusus, seperti
Kopassus di dunia militer, yang memang dipersiapkan untuk bersaing (‘competitive oriented‘), bisa meraih
nobel, sembari juga mempersiapkan sarana-sarana pendidikan seperti: membangun
riset-riset perguruan tinggi.untuk seluruh masyarakat,” kata Komaruddin.

Mas Nakurat, sungguh suka dengan gagasan Rektor Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayattullah tersebut. Yang tidak disukai adalah istilah
kopassus dalam pemahaman lain yaitu kopi
paste ubah sedikit
, sebuah tren baru akademisi kita dalam berkarya ilmiah.
Kopassus dalam pemaknaan yang terakhir, meruyak
sejak teknologi internet menyediakan ragam situs, yang berisi mulai dari resep
masakan hingga ragam karya ilmiah dapat diunduh dengan bebas. Konyolnya si
pengunduh, tidak menghargai hak cipta si pengunggah ragam tulisan, malah
mengaku-aku sebagai miliknya! Inilah yang marak kita dengar belakangan, bahwa
disertasi Nganu dan tesis Anu ternyata Cuma jiplak alias plagiat
darikarya orang lain. ***


* Slamet Samsoerizal adalah seorang guru dan pendiri Pusat Kaji Darindo. Tinggal di Bekasi
Loading...