Beranda Seni Esai Mudik, Bangsa Ini tidak Pantas Miskin

Mudik, Bangsa Ini tidak Pantas Miskin

648
BERBAGI
Suasana Pelabuhan Bakauheni pada Idul Fitri 2016.
Oleh Taufik Wijaya*
SETIAP tahun, hampir setiap muslim di Indonesia yang
menetap di kota besar melakukan mudik lebaran ke kampung atau desanya. Dengan
latar belakang sosial yang beragam, mereka seakan menyatakan, “Bangsa Indonesia
tidak miskin. Berapa pun biaya dan tidak amannya di perjalanan, kami tetap
mudik. Titik.”
Di balik peristiwa mudik lebaran yang dipenuhi
nilai-nilai spiritual, begitu banyak orang Indonesia yang mengharuskan dirinya
menjadi orang kaya. Mereka membeli tiket, membeli pakaian baru, serta
menyiapkan hadiah atau uang untuk dibagikan kepada keluarga di kampung.
Ada yang sukses mengumpulkan atau menabung uang selama
setahun. Tapi banyak pula yang harus menggadaikan barang, menjual barang
berharga, berutang, atau harus melakukan tindak kriminal, seperti menipu,
mencuri, merampok, hingga melacurkan diri. Sebuah paradoks dari nilai-nilai
spiritual yang diemban mudik lebaran.
Leluhur yang Makmur
Perilaku kita, jika memang harus diakui, tersebut
memang membuktikan di bawah sadar kita, bahwa bangsa Indonesia tidak pantas
miskin. Kesadaran ini memang benar adanya.
Secara acak saya sering berbincang dengan banyak
kawan. Mereka selalu menjelaskan para leluhurnya bukanlah orang miskin. Mereka
hidup dengan banyak kebun atau memiliki bisnis yang maju di masa lalu. Ini
sesuai dengan narasi mengenai sejarah bangsa ini yang mengalami kejayaan di
masa pemerintahan tradisional, seperti di masa Kerajaan Sriwijaya, Majapahit,
maupun di masa kesultanan.
Pengakuan kawan-kawan saya maupun dari catatan
sejarah, kemiskinan bangsa Indonesia muncul setelah hadirnya para penjajah.
Yang lebih ironi, banyak kawan yang mengaku kemiskinan
melanda keluarganya sejak lahirnya Republik Indonesia. Misalnya saat Indonesia
dipimpin Soekarno, bisnis keluarganya bangkrut, sebab munculnya kelompok
pebisnis baru yang dulunya turut berjuang dalam kemerdekaan Indonesia.
Di era Soeharto, kemiskinan muncul setelah banyak
lahan mereka dikuasai perusahaan dan para pejabat pemerintah. Yang ideologi
politiknya berbeda dengan Soeharto, mengalami marjinalisasi secara ekonomi,
sosial maupun politik.
Harapan muncul saat bergulirnya era reformasi.
Ternyata reformasi terkesan hanya melahirkan kelas menengah baru dari bidang
politik. Kekuatan aktor politik ini pun terlihat dikendalikan kekuatan ekonomi,
sehingga reformasi seolah membentuk kekuatan baru untuk menguasai kekayaan alam
bangsa Indonesia, tanpa memberikan dampak sesungguhnya bagi kebanyakan bangsa
Indonesia.
Kerennya, selama proses itu terjadi, mudik lebaran
terus berjalan setiap tahun, dengan apa pun kondisinya.
Bangsa Indonesia tidak Pantas Miskin
Meskipun sudah dikuras para penjajah bersama
agen-agennya, bangsa Indonesia hari ini tetap tidak pantas hidup miskin.
Kenapa? Inilah faktanya.
Pertama, Indonesia memiliki tambang emas dengan
kualitas terbaik di dunia. Letaknya di Papua. Luas areanya mencapai 527.400
hektar, yang kini dikelola oleh Freeport-Mc Mo Ran Copper & Gold, dengan
cara penambangan terbuka dan bawah tanah. Pada 2011 lalu produksi emasnya
mencapai 40.936 kilogram.
Kedua, cadangan gas alam terbesar di dunia. Misalnya
di Blok Natuna dan Blok Cepu yang menghasilkan minyak bumi dan gas alam.
Berdasarkan data dari BP Migas, per Mei 2012, penguasaan migas dan gas metana
batubara di Indonesia dikelola oleh sejumlah perusahaan asing seperti Exxon,
Petronas, Santos, Total E&P, Hess, Chevron, Petrochina, atau Mobil Cepu.
Ketiga, memiliki tambang batubara terbesar di dunia.
Tambang batubara ini menyebar di Pulau Sumatera, Kalimantan, dan bagian lain
Indonesia.
Keempat, Indonesia merupakan negara yang memiliki
lautan terluas dari berbagai negara di dunia. Lautan ini memiliki jutaan
spesies ikan dan makhluk hidup lainnya. Letaknya pun sangat strategis, yakni
antara Samudera Hindia dengan Samudera Pasifik.
Kelima, tanah di Indonesai dapat dikatakan tingkat
kesuburannya paling baik di dunia. Beragam jenis tanaman tumbuh di Indonesia,
termasuk pangan.
Keenam, hutan tropis di Indonesia merupakan terluas
ketiga di dunia. Kita memiliki beragam jenis tanaman dan juga satwa. Dapat
dikatakan Indonesia memberikan sumbangan besar bagi oksigen dunia.
Selain itu, Indonesia juga memiliki produk peninggalan
budaya dan keindahan alam yang luar biasa.
Pokoknya Indonesia itu keren.
Dengan fakta ini, sebenarnya memang tidak pantas para
pemudik lebaran di Indonesia dalam keadaan miskin. Hanya, kapan negara ini
mampu mengelola kekayaan tersebut, sehingga para pemudik lebaran tidak lagi
berutang, menjual barang, atau melakukan tindak kriminal, sehingga peristiwa
spiritual tersebut benar-benar menjadi “kemenangan sejati”.*



*Pekerja seni dan jurnalis, tinggal di Palembang
Loading...