Beranda Kolom Sepak Pojok Mudik dan Arus Balik: Macet

Mudik dan Arus Balik: Macet

268
BERBAGI
Kepadatan aus lalu lintas di Tol Kanci, Minggu malam (3/7).

Uki Bayu Sedjati

uki 2“Tradisi” yang dilaksanakan tiap tahun – terutama di pulau Jawa – sepertinya diabaikan oleh ahli-ahli ekonomi mikro dan makro. (Apa kabar IAEI?)

Berapa miliar bahan bakar yang terbuang percuma, berapa persen menggerogoti spare-parts, berapa rupiah biaya yang muspra dan sifat konsumtif yang meningkat, berapa padat polusi udara dan suara, berapa banyak paru-paru dan telinga pemudik yang daya tahannya menurun, berapa liter air mineral diminum, berapa kilometer panjang toilet dadakan, dan semacamnya?

Semua itu utamanya gara-gara kebijakan industri otomotif tak mampu dibatasi, gara-gara kebijakan perdagangan membuka luas import maupun membuka lebar kredit konsumtif !
Hei, bukankah kebijakan-kebijakan itu ada di tangan pemerintah pusat, dengan perumusan dan persetujuan anggota DPR-RI? Bukankah pakar/ahli di lembaga-lembaga itu sudah lama tahu-paham-diskusi? Mengapa tak segera mengubah kebijakan-kebijakan yang dampaknya merugikan sektor-sektor kehidupan rakyat?

Ribuan tanya melesat, bersliweran, sedangkan jawaban hanya sepersekian dan lebih banyak kilah-kilah mengelak/menghindar dari tanggungjawab.

Apalagi jika pertanyaan : apakah betul lambat-mandeg-buntunya perubahan kebijakan karena ada tekanan-paksaan dari / maupun sebagai akibat dari negosiasi utang swasta dan negara terhadap pihak-pihak penguasa ekonomi global?!

Kejadian macet mudik dan arus balik sudah tak pantas disebut fenomena – apalagi diartikan sekedar kecenderungan. Jelas dirasa-alami oleh para pemudik, bahkan pun oleh pemirsa liputan kejadian.

Tokoh-tokoh muslimin dan muslimat penting menghawatirkan pendangkalan/pengabaian/ pengaburan/desakralisasi nilai-nilai ibadah puasa Ramadhan di semua aspek kehidupan, termasuk bebasnya menayangkan iklan makanan-minuman, maupun kejadian macet setiap mudik dan arus balik. Paham !

Saling mengingatkan merupakan ikhtiar memuliakan sesama insan. Ibda binafsihi..

Jelang Idul Fitri 1437 H

Loading...