Beranda Views Kopi Pagi Mudik Sejati kepada Allah

Mudik Sejati kepada Allah

217
BERBAGI
Nusa Putra*
Mungkin mudik merupakan ujud nyata Islam Nusantara. Ketika
kejadian yang bernuansa agama dirempahi oleh tradisi. Meski di tempat
lain ada tradisi semacam mudik, tetapi tidaklah seheboh dan
sesepektakuler mudik di Indonesia. Mudik di Indonesia melibatkan puluhan
sampai ratusan juta orang. Dari Sabang sampai Merauke.
Sangat banyak penjelasan tentang asal muasal dan makna
mudik. Sebagai sebuah gejala sosial, siapa pun bebas memberi penjelasan
dan makna mudik.
Aku dibesarkan di Sumatera Utara, tepatnya di Medan. Kala
masa kecil dulu, kami menyambut lebaran dengan melakukan aktivitas
bersama. Masak bersama dengan para tetangga. Biasanya memakan waktu dua
atau tiga hari. Karena yang dimasak sangat banyak. Ketupat, lontong,
rendang, opor ayam, sambal goreng kentang, dan sayuran. Ketupat ada yang
nasi dan ketan, masih ditambah lagi memanggang lemang yaitu ketan yang
dimasukkan ke dalam bambu. Tentu yang paling heboh adalah dodol,
kebanyakan dodol durian. Biasanya kue-kue dimasak sendiri di rumah.
Namun, halua yaitu manisan dari pepaya muda yang dibentuk menjadi bunga,
buah dan hiasan lain biasanya dibuat beramai-ramai.
Tak ada yang beranjak dari rumah untuk mudik. Kami
menikmati lebaran bersama-sama. Karena di sinilah kami tinggal dan
menjalani kehidupan, jadi kami harus saling memaafkan. Dalam interaksi
sosial selama setahun pastilah banyak kesalahan. Lucu rasanya lebaran di
kampung dan meminta maaf pada orang-orang di sana yang sangat jarang
ketemu. Jika ada yang pergi meninggalkan rumah menjelang lebaran, tentu
saja sangat jarang terjadi, kami merasa heran saja. Tradisi mudik memang
kurang, bahkan tidak dikenal.
Kepada kami yang masih anak-anak, para orang tua
mengajarkan bahwa saudara sesungguhnya adalah para tetangga. Karena kita
hidup dalam senang dan susah bersama mereka. Bila mendapat kemalangan,
merekalah yang segera membantu. Sedangkan saudara di kampung halaman
adalah saudara sedarah yang belum tentu memiliki waktu untuk
memperhatikan kita. Oleh sebab itu, lebaran harus disyukuri dan
dinikmati bersama para tetangga. Bukan dengan saudara di kampung.
Orang-orang tua menjelaskan bahwa mudik atau pulang kampung
itu hanya dilakukan oleh orang-orang Jawa yang pada awalnya tinggal di
daerah perkebunan. Kata orang-orang tua, dulu orang Belanda sebagai
majikan yang menguasai perkebunan, yang membawa paksa orang Jawa ke
Sumatera sebagai buruh kontrak memang sengaja mengatur agar orang Jawa
kembali ke kampung saat lebaran. Nanti ketika kembali ke perkebunan
mereka diharapkan membawa saudara atau tetangganya sebagai pekerja baru.
Begitulah sejarah mudik pada mulanya.
Nenekku, ibu ayahku adalah orang Jawa yang berasal dari
Pacitan, membenarkan cerita itu. Ia dulu juru masak di restoran Cina,
kemudian dibawa Belanda sebagai juru masak. Tidak langsung ke Sumatera,
pernah tinggal lama di Jawa Barat. Ia berjodoh dengan kakekku yang waktu
itu memiliki dan mengelola restoran di Banda Aceh.
Mertuaku yang berasal dari Nganjuk, Kertosono juga
membenarkan sejarah mudik sama persis dengan penjelasan orang-orang tua
di Sumatera dan nenekku. Ibuku menambahkan  bahwa banyak orang Sumatera
yang bekerja di Malaysia pulang kampung ke Sumatera saat lebaran. Itulah
sebabnya kebanyakan kami percaya bahwa mudik itu adalah tradisi para
pekerja, terutama buruh perkebunan pulang kampung, dari Malaysia ke
Sumatera dan dari Sumatera ke Jawa, saat lebaran.
Ibuku bilang, bagi para pekerja,  mudik itu wajib dilakukan
karena pada saat lebaran saja mereka diizinkan pulang oleh majikannya.
Di luar lebaran sama sekali tak ada kesempatan itu. Atas dasar fakta
itu, ibuku dulu melarang aku mudik ke Medan saat lebaran. Dengan tegas
ia bilang, jangan mengikuti kebiasaan buruh kontrak perkebunan.  Mudik
itu cuma buang uang dan bikin capek saja. Bila mau silaturahmi pilihlah
waktu yang tepat. Untuk apa payah-payah menderita mudik saat lebaran,
padahal bisa tetap dilakukan pada waktu yang lain. Kita bukan buruh
kontrak yang hanya boleh pulang kampung saat lebaran, tegas ibukku yang
kupanggil emak.
Aku percaya bahwa ada penjelasan lain soal mudik. Penjelasan di atas bukan penjelasan satu-satunya, dan belum tentu benar.
Seorang teman yang kini hidup sukses di Jakarta sebagai
tokoh yang namanya sering disebut di media massa memiliki penjelasan
lain. Penjelasan yang sama sekali berbeda dengan penjelasan di atas.
Ia bilang, hampir semua orang yang sukses di kota besar
adalah orang udik, orang yang berasal dari desa. Ia menyebut semua
Presiden Indonesia, dari Sukarno sampai yang salah menyebut tempat lahir
Sukarno yaitu Jokowi, semuanya berasal dari udik.
Hampir semua politisi, pengusaha, pejabat, bahkan para koruptor berasal
dari udik. Karena itu mudik merupakan tradisi bahkan ritual yang harus
dilakukan.
Tidak peduli seberapa besar ongkos dan pengorbanan yang
harus ditanggung, pokoke mudik. Karena udik adalah akar keberadaan kita,
jelasnya. Di udik dalam semangat kebersamaan kita dibesarkan. Jika
sekarang kita sukses di Jakarta, kita harus mudik untuk menunjukkan rasa
syukur dengan berbagi.
Di Jakarta kita seperti telepon genggam yang digunakan
untuk berbagai keperluan setiap waktu. Karena itu kita harus mudik untuk
mengecas baterei yang pasti makin lemah. Mudik, bersilaturahim dengan
keluarga dan handai tolan adalah penyegaran jiwa, persis seperti telepon
genggam yang dicas atau diisi ulang. Mudik adalah ungkapan syukur yang
ditunjukkan dengan cara peduli dan berbagi.
Mudik mengingatkan kita pada akar keberdaan kita.
Menegaskan lagi siapa kita, dari mana kita berasal, apa yang telah kita
lakukan dan korbankan hingga sampai seperti ini. Mudik adalah napak
tilas pada kelampuan kita. Mudik membuat kita selalu ingat asal muasal
kita. Dengan demikian kita tidak menjadi “kacang lupa kulitnya”.
Seorang teman yang telah bekerja bertahun-tahun di sebuah
pabrik mengemukakan alasan yang lebih sederhana mengapa ia mudik. Hanya
saat lebaran kita bisa pulang kampung bersama-sama satu keluarga. Bila
anak-anak liburan sekolah, kita tidak libur kerja. Bila kita libur
kerja, giliran anak-anak tidak libur. Pada waktu lebaran, kita semua
libur. Inilah kesempatan mudik bareng dengan seluruh keluarga. Di
kampung kita bisa berkumpul dengan keluarga besar. Mudik harus dilakukan
karena kita bisa berkumpul secara lengkap dengan seluruh keluarga besar
setahun sekali.
Sepasang suami istri muda yang baru memiliki anak berusia
satu tahun mengemukakan alasan yang sama sekali lain. Sang suami
menjelaskan, saya sebenarnya tidak suka harus mudik saat lebaran. Sayang
duitnya. Ongkos mudik itu sangat mahal. Cari uang untuk kontrak tempat
tinggal dan hidup sehari-hari saja sudah sulit. Kita paksakan menabung
untuk uang muka rumah, selalu gagal karena harus dipakai untuk mudik.
Bila tidak mudik saat lebaran, sangat tidak enak. Di kampung semua
saudara yang bekerja di kota ngumpul. Jika kita tidak hadir pasti jadi
pertanyaan dan dipertanyakan. 
Macam-macam dugaan akan berkembang. Ada
yang bilang hidup kita sangat susah, sampai-sampai ongkos pulang kampung
saja tidak punya. Ada pula yang berfikir, kita sombong sekarang. Karena
sudah sukses lupa pada saudara dan kampung halaman. Daripada dikira
macam-macam ya harus pulang kampung, apapun keadaannya. Kita bisa
dikucilkan jika tidak mudik. Bisa-bisa tidak lagi dianggap bagian dari
keluarga besar.
Sebuah keluarga di kompleks memilih pulang kampung hanya
karena merasa tidak enak berada dalam kesepian. Nyaris semua tetangganya
mudik. Kompleks menjadi sangat sepi. Orang jualan juga tidak ada. Pasar
biasanya tutup sampai empat hari. Hidup jadi rada sulit. Daripada
kesepian dan kesulitan tetap tinggal di kompleks yang sepi, mendingan
mudik.
Ada pula yang mudik sebagai cara menunjukkan keberhasilan
merantau ke kota. Meski penghasilan pas-pasan, namun memaksakan membuat
baju seragam untuk seluruh anggota keluarga. Bahkan sampai meminjam
perhiasan emas dari tetangga. Cari hutang kiri-kanan agar terlihat
berpunya. 
Beberapa orang sampai berhutang pada lintah darat. Mereka yang
memiliki barang berharga sampai menggadaikannya di pegadaian resmi atau
tak resmi. Inilah kelompok yang sangat menonjolkan gengsi dan
kepemilikan meski menempuh cara yang mengerikan. Karena setelah lebaran,
mereka akan terlilit beragam masalah. Mudik adalah kesempatan untuk
menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang telah berhasil di kota.
Meskipun dengan cara tipu-tipu.
Seorang teman mudik bukan karena alasan agama. Ia
sekeluarga beragama Katholik dan berasal dari Sleman. Setiap kali
lebaran, ia sekeluarga bukan saja ikut mudik, bahkan menjadi panitia
mudik bersama. Padahal jika Natal tiba, belum tentu ia mudik. Alasannya
ikut mudik adalah menikmati suasana. Katanya bila lebaran tiba, sangat
terasa suasana kekeluargaan dan kebersamaan. Semua orang mudah memberi
maaf atas kesalahan apapun. Ia sangat menikmati makan bersama,
kumpul-kumpul dengan semua saudara dan para tetangga. Dalam keluarga
besarnya memang ada yang Islam, Kejawen dan Katholik. Hanya saat lebaran
semuanya ngumpul di Sleman.
Seorang teman yang lebih kontemplatif menghayati mudik
dengan cara yang sama sekali berbeda. Mudik atau pulang kampung bukanlah
gerakan dari satu tempat ke tempat yang lain, dari kota ke desa atau
udik, jelasnya. Mudik adalah pergerakan dari satu keadaan ke keadaan
lain, tegasnya.
Puasa harus mendorong kita kembali ke kampung halaman yaitu
ke kedalaman nurani. Puasa adalah cara terbaik untuk membersihkan ego
dari segala lemak kedosaan, dari glukosa maksiat yang mencemarkan darah.
Ramadhan adalah saat yang sangat tepat untuk menjelajahi palung nurani.
Kita harus berani mempertanyakan, kebaikan apa yang telah kita buat
dalam hari-hari yang panjang sebelum Ramadhan, dan kesalahan serta dosa
apa yang telah kita lakukan secara terus menerus dalam kisaran waktu.
Ramadhan adalah saat menggelontorkan semua kesalahan dan
dosa. Inilah saat untuk kembali ke keadaan fitri, suci bersih bagai bayi
yang baru lahir. Inilah hakikat mudik. Bergerak dari keadaan penuh dosa
ke  kesucian. Menjadi manusia baru yang peduli dan rela berbagi.
Karena itu jauh lebih penting untuk berbagi, membahagiakan
orang-orang yang belum mendapat kesempatan untuk merasakan rezeki yang
pantas. Daripada menghambur-hamburkan uang yang sangat besar untuk
keperluan mudik ke kampung halaman yang biasanya sangat mahal, lebih
baik uangnya diberikan pada para tetangga yang pantas menerimanya. Mudik
dengan cara ini pastilah lebih bermakna dan sejalan dengan semangat
Ramadhan, menahan diri dan berbagi.
Waduh, teman yang satu ini cius bangets ya. Boleh jadi ia
benar. Mudik setelah Ramadhan hanyalah sebuah halte untuk mudik yang
lain, mudik ke kampung halaman semua manusia, yaitu kematian.

MUDIK SEJATI ADALAH KEMBALI KEPADA ALLAH.

* Dr. Nusa Putra, M.Pd adalah ahli filsafat dan pendidikan, staf pengajar di Universitas Negeri Jakarta (UNJ)

Loading...