Beranda Teras Berita Mufti Turki: Klaim Khalifah ISIS Tidak Memiliki Legitimasi

Mufti Turki: Klaim Khalifah ISIS Tidak Memiliki Legitimasi

213
BERBAGI
Mufti Mehmet Gormez (dok)

ISTANBUL,  Teraslampung.com- Deklarasi  “kekhalifahan” yang dilakukan militan Islam di Irak tidak memiliki legitimasi. Ancaman kematian yang mereka lancarkan kepada sejumlah ulama Islam dan orang-orang Kristen wilayah itu  dmerupakan bahaya bagi peradaban.

“Deklarasi tersebut tidak memiliki legitimasi apa pun. Sejak kekhalifahan dihapuskan… telah ada gerakan yang berpikir mereka dapat membangun kerja sama dunia Muslim dengan membangun kembali khilafah, tetapi mereka tidak memiliki hubungannya dengan realitas, baik dari perspektif politik atau hukum, ”  kata Mehmet Gormez, Kepala Direktorat Urusan Agama, otoritas keagamaan tertinggi di Turki, kepada Reuters, seperti dikutip oleh Huffington Post, Selasa (22/7).

Mehmet Gormez adalah ulama senior Turki yang juga penerus imam paling senior dari kekhalifahan Islam masa lalu.

Meskipun berpenduduk mayoritas Muslim, sejak 1920 Turki menjadi negara sekuler. Menurut Gormez, sejak kekhalifahan dihapuskan  telah ada gerakan yang berpikir mereka dapat membangun kerja sama dunia Muslim dengan membangun kembali khilafah, tetapi mereka tidak memiliki hubungannya dengan realitas, baik dari perspektif politik atau hukum.

Negara Islam yang dicanangkan  militan Islam di Irak adalah sebuah kelompok bersenjata yang sebelumnya bersekutu dengan Al-Qaeda yang telah menguasai wilayah di Irak yang sangat luas pada bulan lalu. Pemimpinnya, Ibrahim al-Baghdadi, mendeklarasikan sebagai “khalifah”, yang dalam sejarah terakhir dipegang oleh sultan Ottoman di Turki yang menguasai sebagian besar dunia Muslim.

Menurut Gormez ancaman pembunuhan terhadap warga non Muslim yang dilakukan oleh kelompok yang sebelumnya dikenal sebagai Negara Islam di Irak dan Levant (ISIL) atau Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), sangat merusak.

“Pernyataan yang dibuat terhadap umat Kristen benar-benar mengerikan. Ulama Islam perlu fokus padamasalah ini (karena) ketidakmampuan untuk mempertahankan agama damai dan budaya yang menyebabkan runtuhnya peradaban,” katanya.

Sejak ISIS menguasai Irak utara pada bulan Juni, orang-orang Kristen telah meninggalkan kota Mosul. Militan Islam memaksa mereka untuk pindah agama menjadi Muslim, membayar pajak agama atau dieksekusi. Akibatnya, banyak warga Kristen yang meninggalkan kota itu atau menjadi korban.

Komunitas Kristen di  Mosul, Irak,  merupakan  salah satu  komunitas tertua di dunia yang akarnya bisa ditelusuri hingga dua ribu tahun lalu. Sementara  posisi Gormez terlihat unik  ketika mempertanyakan klaim Baghdadi  sebagai khalifah.

Lembaga yang dipimpin Gomez dibentuk pada  tahun 1924 untuk menggantikan peran Sheikh al-Islam pada masa Ottoman, sebagai imam besar yang berwenang untuk mengesahkan sultan baru,  dan memegang  jabat an sebagai penasihat hukum bagi sultan.
“Strukturnya telah sangat berubah di zaman modern ini, namun tentu saja ada ikatan sejarah, dan kelanjutan,” kata Gormez.

Kekhalifahan Ottoman hilang pada tahun 1924, sebagai bagian dari awal upaya modernisasi oleh Mustafa Kemal Ataturk, yang mendirikan Republik Turki yang sekuler di atas wilayah bekas Kekaisaran Ottoman.

Sekarang, lembaga yang dipimpin Gormez menyusun bahan khotbah mingguan yang disampaikan kepada sekitar 85,000 masjid di seluruh Turki. Lembaga itu juga mempekerjakan semua imam di Turki, pengkhotbah Muslim, yang secara teknis adalah pegawai negeri yang juga dilatih oleh negara.

Namun, Konstitusi Turki menegaskan tugas lembaga itu untuk menegakkan prinsip-prinsip sekularisme (negara sekuler dengan prinsip pemisahan kekuasaan negara dan agama-red), serta kesatuan nasional.

“Kekhalifahan ini keliru dilihat dari otoritas keagamaan oleh Barat, yang melihatnya seperti semacam kepausan. Tapi secara historis kekhalifahan adalah badan hukum yang menerima referensi agama. Itu otoritas politik,” kata dia.

Muslim tidak bisa lagi bersatu di bawah kekuasaan penguasa tunggal seperti khalifah, tapi bisa meniru blok politik seperti Uni Eropa, menyelaraskan diri bersama dengan nilai-nilai demokrasi bersama, kata Gormez yang diwawancarai seusai mengakhiri konferensi internasional di Istanbul yang dihadiri oleh puluhan sarjana dari kalangan Islam Syiah dan Sunni.

Konflik antara dua denominasi dalam Islam (Syiah dan Sunni) telah dipersalahkan sebagai penyebab pertumpahan darah baru-baru ini di Irak, namun Gormez mengatakan bahwa faktor-faktor ekonomi dan sosial di daerah itu adalah akar masalahnya.

“Setelah satu abad pendudukan, rezim diktator dan identitas ditekan, mereka mencoba untuk mengekspresikan kemarahan, dendam dan kebencian dengan menggunakan agama,” kata dia.

“Barat mencari akar teror dan kekerasan ini di dalam agama, tapi ini bukan perang pada Abad Pertengahan, yang benar-benar sektarian,” kata dia menegaskan.

Disebutkan, rata-rata 1.000 Muslim yang dibunuh setiap hari di seluruh dunia, sebagian besar karena konflik saling bunuh, kata dia. “Hampir 90 persen dari mereka dibunuh oleh Muslim lainnya, oleh saudara mereka.

“Muslim tidak perlu melihat melampaui diri mereka untuk menemukan penyebab konflik-konflik ini. Mereka harus menyadari bahwa … kekuatan global memiliki tanggung jawab, tetapi kekuatan mereka tidak bisa mengendalikan,” kata dia.

Sementara itu, di Indonesia, kritik atas tindakan ISIS yang melakukan pembunuhan terhadap para ulama yang menolak langkah-langkah ISIS menuai pro-kontra. Sebuah karikatur di halaman opini The Jakarta Post yang menyoroti kekerasan ISIS mendapat protes dari publik Islam di Indonesia. Sedangkan di Solo dan Jakarta,beberapa waktu lalu, sejumlah kelompok Islam secara terang-terangan mendukung gerakan ISIS dengan melakukan baiat dukungan. (Reuters/Huftingtonpost/satuislam)

Loading...