Beranda News Nasional Muhammadiyah Tetapkan 1 Syawal 1440 H Jatuh pada 5 Juni 2019

Muhammadiyah Tetapkan 1 Syawal 1440 H Jatuh pada 5 Juni 2019

483
BERBAGI
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam Silaturahim Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan Awak Media, pada Kamis (30/5) di Aula Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta (Foto: muhammadiyah.or.id)
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam Silaturahim Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan Awak Media, pada Kamis (30/5) di Aula Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta (Foto: muhammadiyah.or.id)

TERASLAMPUNG.COM — Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan Idul Fitri 1 Syawal 1440 Hijriyah jatuh pada Rabu 5 Juni 2019. Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyatakan penentuan 1 Syawal ini berdasarkan pada hisab hakiki yang sudah dijadikan pedoman oleh Majelis Tarjih dan Tajdid organisasi keagamaan dan kemasyarakatan ini.

“Berdasarkan hisab hakiki sudah menjadi rujukan bahkan dengan hisab kita bisa memprediksi tanggal hijriah khususnya dalam menetapkan awal Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha hingga puluhan tahun ke depan,” kata Haedar, Kamis malam, 30 Mei 2019.

Haedar mengatakan, ada dua pesan yang disampaikan oleh PP Muhammadiyah berkaitan dengan 1 Syawal ini. Pertama, Muhammadiyah mengimbau kepada umat Islam dan warga bangsa menjadikan 1 Syawal menjadi momentum memperluas rongga hati saling memaafkan dan merekatkan kembali tali persaudaraan sebagai umat dan bangsa.

Kedua, menjadikan Idul Fitri sebagai momentum secara bersama-sama umat Islam dan warga bangsa menjadikan Indonesia menjadi rumah bersama.

“Bersama-sama untuk maju yang merdeka, bersatu dan berdaulat menuju Indonesia berkemajuan,” kata dia di kantor Pusat PP Muhammadiyah Jlan Cik Ditiro Yogyakarta.

Pemerintah hingga saat ini belum mengumumkan secara resmi penentuan 1 Syawal 1440 Hijriah. Kementerian Agama akan menggelar sidang isbat penetapan awal bulan Syawal pada Senin, 3 Juni 2019.

Haedar mengatakan, jika ada perbedaan dalam penentuan 1 Syawal, PP Muhammadiyah mengimbau umat Islam dan bangsa Indonesia selalu memiliki toleransi. “Islam dan bangsa Indonesia sudah dewasa dalam perbedaan,” kata dia.

Menurut Haedar, jika ternyata ada perbedaan dalam penetapan Idul Fitri, pemerintah bisa memfasilitasi perbedaan itu. Agar yang sama dan berbeda, bisa menyelenggarakan sholat Id dan kegiatan Idul Fitri tanpa ada gangguan.

Namun, Haedar mengatakan, diperkirakan sampai beberapa tahun ke depan ada kesamaan dalam menetapkan 1 Syawal, baik antargolongan yang mainstream maupun pemerintah.

Tempo.co

Loading...