Beranda Teras Berita Muktamar NU, Pasal 19 Tatib Paling Alot Dibahas

Muktamar NU, Pasal 19 Tatib Paling Alot Dibahas

145
BERBAGI
Muktamar NU di Ponpes Tambakberas, Jombang, diwarnai dengan alotnya pembahasan tata tertib.Utamanya adalah pasal 19. (Foto: Muhammad Faizin)

JOMBANG, Teraslampung.com — Dalam Muktamar 33 NU yang dilaksanakan di Jombang tahun ini, metode Ahlul Halli wal Aqdi rupanya menjadi materi yang paling mendapat perhatian dari para muktamirin. Hal itu dibuktikan dengan alotnya pembahasan Tatib BAB VII yaitu tentang Pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum khususnya Pasal 19 yang berbunyi “Pemilihan Rais Aam dilakukan secara musyawarah mufakat melalui sistem Ahlul Halli wal Aqdi”.

Berdasarkan pemantauan di dalam Ruang Arena Muktamar ketika pembahasan pasal ini dilakukan, Ahad (2/08/15), pimpinan sidang nampak harus memimpin sidang dengan ekstra sabar dan adil karena begitu pasal tersebut dibacakan ratusan intrupsi dari para muktamirin bermunculan.

Sidang yang dipimpin oleh Ketua SC Muktamar NU ke 33, Slamet Efendi Yusuf ,akhirnya harus mendata terlebih dahulu para peserta yang akan menyampaikan aspirasinya. Sekitar 120 peserta terdata mulai diberikan kesempatan satu persatu untuk bertanya ataupun memberikan usulan.

Namun belum genap 10 peserta menyampaikan keinginan, kondisi sudah tidak kondusif lagi. Hal ini dikarenakan beberapa isi yang disampaikan cenderung menyudutkan pihak pihak tertentu dan mengakibatkan respon emosional. Ditambah lagi dengan beberapa peserta yang menyampaikannya dengan nada tinggi. Hal inilah yang membuat suasana menghangat sehingga sidang harus diskors dan dilanjutkan pada Senin (3/8/15).

Menanggapi kondisi ini Rais Syuriyah PCNU Pringsewu KH. Ridwan Syueb mengajak kepada muktamirin yang akan menyampaikan pendapat untuk mengedepankan akhlak mulia yang diwujudkan dengan perkataan yang lembut.

“Berkatalah dengan santun, lembut dan jangan bernada tinggi dalam menyampaikan pendapat. Sebenarnya apa yang disampaikan memiliki muatan yang bagus, namun cara penyampaiannya yang perlu diperbaiki ,” kata K.H. Ridwan Syueb.

Sementara Katib Syuriyah PCNU Tanggamus Lampung H. Syamsul Hadi mengatakan bahwa perbedaan pendapat adalah hal yang biasa. Hal ini menunjukkan bahwa Pengurus NU memiliki pola pikir yang kritis dalam menyikapi sesuatu.

“Inilah ciri khas NU. Dan jangan heran, dinamika seperti ini akan selesai dengan baik karena para kyailah yang akan memberikan kesejukan dalam penyelesaiannya ,” jelas Samsul yang juga menjadi Wakil Bupati Tanggamus.

Kontributor : Muhammad Faizin, S.Pd

Loading...